Renungan Harian Kristen (Warga Bangsa Yang Berkhikmat) - Pengkhotbah 9:13-18

Warga Bangsa Yang Berkhikmat)

Warga Bangsa yang Berhikmat
- Terdapat suatu kota kecil lagi terletak dalam suasana yang genting. Kota itu diserbu serta dikepung oleh seorang raja agung dari suatu kerajaan besar. Warnanya di dalam kota kecil itu ada seorang yang miskin tetapi bijaksana.


Berkat hikmatnya, kota itu selamat dari ancaman invasi raja yang kekuatan serta keperkasaannya jauh tanding dibandingkan kota kecil itu. Bersumber pada cerita itu Pengkhotbah merumuskan kalau hikmat jauh lebih unggul dari keperkasaan suatu kerajaan besar. Tetapi, sangat disayangkan orang miskin yang berhikmat itu setelah itu lekas dibiarkan. Dalam kehidupan ini, kita juga bisa memandang gimana orang dengan begitu mudahnya melupakan kebaikan orang lain.


Bisa jadi Kamu merupakan seorang yang baik, hidup saleh serta taat kepada firman Tuhan, namun secara ekonomi Kamu miskin, hingga yang terjalin merupakan Kamu yang sulit diingat oleh keluarga ataupun juga sesama.


Watak manusia pada biasanya lebih mencermati perihal modul dibanding masalah rohani. Hikmat dunia berkata,“ Kamu boleh tidak berhikmat asal kaya, hingga banyak orang ingin jadi sahabat Kamu.” Namun apakah yang semacam itu yang dikehendaki Tuhan?


Allah tidak sempat memandang seorang dari segi penampilan luar, entah itu kekayaan, kepintaran ataupun juga perannya, namun Allah memandang hati yang mengasih. Di mata Tuhan, orang yang diucap bijaksana merupakan orang yang khawatir hendak Tuhan serta mengasihi. Jadi sekalipun kita tidak diingat orang, tetaplah turut akan kehendak Tuhan serta melaksanakan kehendak- Nya sebab Tuhan tentu mengingat kita.


Terkait dengan tema “Warga Bangsa yang Berhikmat” pada minggu bulan kebangsaan ini. Ada 3 hal pokok yang perlu kita pelajari dan Renungkan :


1. Pengkhotbah memperlihatkan bahwa kekuasaan/jabatan bukanlah satu-satunya sarana untuk membangun bangsa.

 

Sebab ketika seorang penguasa mengandalkan keperkasaan, kekuatan dirinya, dan benteng pertahanan diri tetapi kurang berhikmat, maka sesungguhnya ia rapuh. Ia bisa menyalahgunakan kekuasaannya untuk menghancurkan bangsa. Sebaliknya, seorang warga biasa justru dapat menyelamatkan sebuah kota dan mampu membangun bangsanya, asalkan ia berhikmat. Dengan hikmat yang bersumber dari Tuhan, seorang miskin dapat berkontribusi bagi bangsanya. Sebab dengan hikmat ia dapat menyumbang ide/pemikiran yang baik di tengah situasi sulit yang dihadapi bangsa.


2. Tak harus menjadi pejabat, baru bisa membangun bangsa ini.

 

Yang dibutuhkan adalah setiap warga belajar agar menjadi orang berhikmat dan bijaksana. Sebagai warga gereja, kita mesti banyak belajar agar bisa berhikmat di tengah masyarakat dan bangsa.

 

3. Berhikmat berarti senantiasa memiliki pengertian yang baik, menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

 

Hidup sebagai warga yang berhikmat berarti tidak menjadi pengacau dan perusak dalam masyarakat, tetapi menjadi pembawa damai sejahtera, ketentraman, dan kemajuan. Amin...(yl)


Silahkan Lengkapi bacaan renungan ini dengan tonton vodeo berikut : 



Post a Comment

Previous Post Next Post