Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bahan Khotbah Bulan Lingkungan Hidup - Matius 8:23-27

20 November 2022 | Sunday, November 20, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-20T15:44:36Z

Bahan Khotbah Bulan Lingkungan Hidup - Matius 8:23-27


Yesus Berkuasa atas Alam Semesta

Bacaan Alkitab : Matius 8:23-27

Pengantar

Dalam tradisi tahun gerejawi, minggu ini merupakan minggu terakhir dalam tahun gerejawi yang di sebut minggu Kristus Raja. Gereja merayakan minggu Kritus raja untuk mengingatkan serta menyadarkan kita tentang kedudukan Yesus Kristus sebagai Raja Semesta Alam. Dialah Raja atas segala ciptaan yaitu, manusia, dunia dan semesta alam seluruhnya. Raja itu identik dengan kuasa untuk memerintah, menghakimi, melayani dan menentukan nasib hidup rakyat bangsanya. Tanggung jawab seorang raja yang baik adalah membawa kesejahteraan, kedamaian dan keselamatan rakyatnya. Sebaliknya raja yang jahat dan menyalahgunakan kuasa akan membawa malapetaka atau kesengsaraan bagi rakyatnya. Raja Semesta Alam digambarkan sebagai Dia yang akan menghakimi dunia dan berkuasa atas kehidupan semua orang saat hidup di dunia ini maupun saat kematian kelak.


Tuhan Yesus Kristus adalah Raja semesta. Ia selalu memperjuangkan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia; menyembuhkan yang sakit, mengampuni yang berdosa, menguatkan yang lemah dan meluruskan jalan orang-orang yang tersesat. Dia menghakimi dengan adil dan memberikan pertolongan bagi mereka yang berteriak minta tolong.

 

     Penjelasan Teks

Teks ini di awali dengan penjelasan “… murid-murid-Nya mengikuti-Nya ….”. Berbeda dengan Markus (4:35) dan Lukas (8:22) yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk menyeberang, Matius mengatakan bahwa murid-murid yang mengikuti Yesus. Markus dan Lukas menggemakan panggilan Yesus “Mari, ikutlah Aku,” sementara Matius menekankan keputusan para murid untuk mengikuti Yesus.


“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut …”. Kondisi geografis danau Galilea dan sekitarnya memang memungkinkan munculnya badai mendadak, tanpa tanda-tanda awal. Air danau yang tenang itu dalam tempo singkat berubah menjadi air yang bergelora dan menggoncangkan apa saja yang ada di dalam danau itu. Keadaan itu yang dialami murid-murid bersama Yesus. Matius menekankan bahwa mengikuti Tuhan Yesus tidak berarti bebas dari badai kehidupan yang menggoncang dan menggentarkan hati. Bersama Yesus pun badai tetap mengancam. Namun, adalah baik mengalami badai kehidupan karena mengikuti Yesus. Sebab alangkah malangnya mereka yang mengalami badai kehidupan karena tidak mengikuti Yesus.


“… tetapi Yesus tidur…”. Mengapa Yesus tidur? Ada penjelasan bahwa Tuhan Yesus lelah, karena sepanjang hari Ia mengajar orang banyak dan menyembuhkan orang-orang sakit. Apakah Yesus tidak peduli dengan ancaman badai itu? Atau mungkin Ia begitu nyenyak tertidur sampai tidak merasakan goncangan itu? Bisa jadi, Yesus yakin sepenuhnya bahwa Bapa di sorga tetap menyertai- Nya bersama para pengikut-Nya dan melindungi mereka.


“…. datanglah murid-murid Yesus membangunkan-Nya, dengan berkata: “Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Kata Yunani yang dipakai di sini tentang murid-murid yang mendekati Yesus dan membangunkan-Nya berarti “mendekati dengan sopan dan hormat.” Rasa hormat itu tergambar dalam sapaan mereka kepada Yesus: “Tuhan”. Sekali pun para murid amat ketakutan, namun rasa hormat mereka kepada Yesus yang mereka ikuti membuat mereka tidak membangunkan Yesus dengan kasar. Dalam takut pun rasa hormat mereka kepada Yesus tidak hilang. Mereka menghormati Yesus dan memohon pertolongan Yesus dengan berkata: “Tolonglah.” Anehnya, mereka merasa bahwa Yesus pun turut terancam oleh badai yang keras itu, sebab mereka berkata: “… kita binasa.” Di satu pihak mereka yakin Yesus bisa menolong, namun di sisi lain mereka mengira nyawa Yesus pun turut terancam. Bisa jadi ini mencerminkan pengenalan mereka akan Yesus belum lengkap.


“Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Yesus bangun. Ia lebih dahulu mengurus iman para murid. Bagi Yesus, rasa takut yang luar biasa pada murid-murid adalah tanda bahwa mereka kurang percaya kepada Yesus. Seandainya percaya mereka kuat, mereka bisa tetap tenang menghadapi badai itu, sama seperti Yesus yang tetap tertidur sebab Ia amat percaya akan Bapa di sorga yang pasti


memelihara mereka. Inilah peringatan Yesus kepada para murid untuk tidak mudah hilang iman dan menjadi takut karena badai kehidupan yang menerpa secara tiba-tiba.


“Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh …” Murid-murid terlepas dari badai dan dari rasa takut, sebab Yesus bersama mereka dan bertindak untuk menyelamatkan mereka. Walau Yesus menegur murid-murid sebagai orang yang kurang percaya, namun Yesus mau menolong murid-murid dengan memerintahkan angin berhenti dan danau menjadi teduh. Yesus berkuasa meneduhkan angin ribut yang mengancam hidup umat-Nya.

 


Aplikasi


Pertama, angin badai dan gelombang adalah peristiwa alam. 


Hal ini menunjukkan bahwa alam dan isinya, seperti angin dan air, memiliki mekanisme dan dinamika gerak yang bisa menguntungkan namun bisa juga mengancam keselamatan manusia. Di lain pihak, manusia adalah bagian dari alam dan bergantung pada alam, termasuk pada angin dan air demi hidup manusia. Maka sehubungan dengan Bulan Lingkungan Hidup GMIT, baiklah sebagai gereja dan warga gereja tak terpisahkan dari alam dan lingkungan hidup, baiklah gereja dan warga gereja belajar mengenal hukum-hukum dan dinamika alam, agar tidak mengalami kecelakaan karena ceroboh terhadap alam. Di tiap lingkungan hidup, di gunung, di pantai ada tradisi-tradisi masyarakat berdasarkan pengalaman setempat yang berisi pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan terhadap alam tumbuhan dan binatang yang harus dijaga, agar tidak mendatangkan bencana bagi manusia. Tata krama yang baik perlu dijaga, tidak hanya mengenai cara hidup bersama antarmanusia, tetapi juga kehidupan bersama dengan makhluk lain di alam semesta.



Kedua, Matius 8:23-27 menunjukkan bahwa orang-orang yang percaya dan mengikuti Yesus pun tidak lepas dari ancaman badai kehidupan, 


baik badai dari alam mau pun badai berupa tantangan-tantangan lainnya. Namun, Yesus, yang gereja ikuti dan percayai mempunyai kuasa untuk menenteramkan badai alam dan mendiamkan badai serta ancaman kehidupan lainnya, demi menyelamatkan umat-Nya. Di dalam Yesus kita belajar untuk melakukan tindakan-tindakan yang menghormati alam dengan penuh kasih, mengatur alam dengan penuh tanggung jawab, dan memberi jaminan hidup tenangg di tengah alam yang sewaktu-waktu dapat bergejolak kencang dan mengancam kehidupan.


Ketiga, gereja dan setiap orang percaya dapat datang kepada Yesus dengan sopan dan hormat untuk meminta pertolongan. 


Yesus tahu bahwa badai dan tantangan yang gereja dan orang percaya alami. Yesus, dalam kasih-Nya, ikut mengalami dan menanggung badai kehidupan yang menimpa gereja dan umat-Nya. Keyakinan ini menolong gereja dan orang percaya untuk tidak mudah takut dan kekurangan iman dalam menghadapi badai kehidupan, melainkan tetap tenang sebab Yesus selalu dekat dan mau menolong umat-Nya. Jangan hilang percaya ketika menghadapi badai hidup.


Sumber : Bahan Khotbah Bulan Lingkungan Hidup GMIT, 20 November 2022

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update