Bacaan: Pengkhotbah 10:1–20
Ketika Dunia Semakin Pintar, Tapi Tak Semakin Bijak
Pena Rohani, Renungan Minggu - Fondasi Pendidikan Kristen yang Berkualitas - Zaman sekarang ini, semuanya serba cepat. Anak-anak kita bisa tahu cara pakai AI sebelum mereka belajar menyikat gigi yang benar. Tapi di tengah kemajuan yang pesat itu, ada satu pertanyaan yang bikin hati kita mikir: Apakah mereka sedang bertumbuh dalam karakter, atau cuma dalam kecerdasan?
Mari jujur. Banyak anak pintar, tapi gampang putus asa. Nilai ulangan bisa tinggi, tapi nilai hidup? Kacau. Dunia sedang membentuk generasi jenius yang bisa ngoding sejak SD, tapi belum tentu tahu gimana caranya minta maaf, bersyukur, atau memilih yang benar saat sendirian.
Di sinilah pentingnya fondasi pendidikan Kristen yang berkualitas. Bukan cuma soal kurikulum, tapi soal kehidupan. Bukan cuma soal ranking, tapi arah langkah. Dan fondasi itu bernama: hikmat dan karakter.
Hikmat Bukan Sekadar Pintar, Tapi Tahu Waktu dan Cara
Dalam bahasa Ibrani, "hikmat" disebut ḥokmâh. Artinya bukan cuma pintar secara teori, tapi cakap dalam menjalani hidup. Hikmat itu kayak GPS rohani bisa kasih arah, walau kita lagi tersesat.
Yesus sendiri waktu kecil bertumbuh bukan hanya dalam fisik, tapi juga dalam hikmat (Lukas 2:52). Jadi, kalau kita mau ikut jejak Sang Guru, pendidikan kita nggak boleh cuma berorientasi ke kepala, tapi juga ke hati.
Karakter itu Bekal Hidup yang Tidak Bisa Dibeli
Karakter bukan bawaan lahir, tapi hasil pembiasaan. Galatia 5:22–23 bicara soal buah Roh: kasih, sukacita, kesabaran, penguasaan diri… Nah, itu dia karakter.
Karakter bukan cuma diajarkan, tapi diteladankan. Anak-anak lebih cepat meniru guru yang sabar daripada mendengar ceramah tentang kesabaran. Makanya, guru dan orang tua punya peran vital jadi cermin Kristus setiap hari.
Pendidikan Kristen itu Bukan Cuma Tempat Belajar, Tapi Ladang Pembentukan
Fondasi pendidikan Kristen yang berkualitas harus berdiri di dua tiang: hikmat dan karakter. Bukan salah satunya. Dua-duanya kudu kuat.
Dan ini bukan sekadar teori. Di sekolah Kristen, setiap pelajaran bisa jadi jalan untuk menanamkan nilai:
Matematika belajar kejujuran dan keteraturan Tuhan
Bahasa Indonesia mengajarkan kekuatan kata-kata, seperti firman
IPA membuka rasa kagum terhadap penciptaan
IPS mengajarkan empati dan keadilan sosial
Tapi yang paling penting, bukan apa yang diajarkan, tapi bagaimana dan siapa yang mengajarkan. Guru yang punya karakter dan hikmat akan menanamkan lebih dari sekadar pengetahuan ia menanamkan kehidupan.
Ketika Digital dan Global Menjadi Dunia Anak Kita
Sekarang semua ada di genggaman. Anak-anak kita bisa belajar dari YouTube, TikTok, bahkan AI. Tapi juga bisa tersesat oleh nilai-nilai dunia yang begitu bebas dan membingungkan.
Di sinilah fondasi pendidikan Kristen yang berkualitas diuji. Apakah ia mampu membimbing anak menghadapi:
Informasi tanpa filter
Nilai instan dan viral
Godaan identitas palsu di media sosial
Hikmat adalah filter, dan karakter adalah kekuatan untuk tetap berdiri saat yang lain tumbang.
Membangun Sekolah Berbasis Hikmat dan Karakter
1. Mentoring Harian
Guru jadi mentor, bukan sekadar pengajar. Ada waktu refleksi harian di awal pelajaran. Doa, renungan, sharing.
2. Proyek Kehidupan
Siswa diberi proyek yang menumbuhkan tanggung jawab sosial: pelayanan, lingkungan, kegiatan kasih.
3. Penilaian Karakter
Bukan cuma nilai akademik, tapi ada portofolio karakter: bagaimana sikap, ketekunan, empati mereka.
4. Pelatihan Guru Berkelanjutan
Guru juga harus terus belajar. Retret rohani, workshop pembentukan karakter, diskusi ayat-ayat hikmat, seminar, pelatihan-pelatihan, dan lain-lainnya yang relevan.
Studi Kasus: Ketika Anak Diam-Diam Belajar dari Keteladanan
Ada seorang siswa bernama Mika. Nilainya biasa aja. Tapi tiap hari dia bantu dan rajin benahi kelas, senyum ke semua orang, dan selalu bilang “terima kasih” dan “maaf.”
Ternyata, dia belajar itu bukan dari buku, tapi dari wali kelasnya yang sabar dan rendah hati. Waktu ditanya, dia cuma bilang, “Saya cuma ngikutin Bu Guru.”
Kadang, anak-anak nggak butuh pidato panjang. Mereka cuma butuh teladan nyata.
Hikmat dalam Pengkhotbah 10, Pelajaran dari Hal-Hal Kecil
Pasal 10 di kitab Pengkhotbah bicara hal yang kelihatannya sepele, tapi punya dampak besar:
Seekor lalat kecil bisa merusak minyak harum (ay.1)
Sepatah kata bisa bikin raja marah atau rakyat rusuh (ay.4,12)
Orang bodoh menonjol karena perilaku aneh, bukan karena keahlian (ay.3)
Intinya? Detail itu penting. Pendidikan Kristen harus perhatikan hal-hal kecil karena dari sanalah karakter dibentuk.
Pendidikan yang Mengakar di Surga, Berdampak di Bumi
Karakter adalah mahkota, hikmat adalah kompas. Sekolah bisa jadi gerbang masa depan, tapi hikmat dan karakter yang akan menentukan arah langkah mereka.
Mari kita bangun fondasi pendidikan Kristen yang berkualitas yang tidak hanya mencerdaskan, tapi menuntun kepada kebenaran.
Pesan Pengutusan
Teruslah jadi pendidik yang bukan hanya mengajar, tapi menghidupkan firman. Jadi orang tua yang bukan cuma menasihati, tapi menunjukkan kasih. Jadilah pembimbing yang membentuk, bukan cuma menyuruh.
Karena seperti kata Pengkhotbah:
“Perkataan mulut orang berhikmat menarik hati, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.” - (Pengkhotbah 10:12)
Tonton Video Refleksinya :
Yuk, bangun generasi bukan hanya untuk sukses dunia, tapi untuk setia kepada Kerajaan-Nya - (pr)**
Sumber Nas: Pengkhotbah 10:1-20; Writer: penarohani. editor: penaRadmin/pr
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2025 All Right Reserved - Designed by penarohani
0Comments