Menunggu, Tapi Sabar Nggak Berarti Diam
Renungan Minggu, Pena Rohani - Menanti dalam Pengharapan dan Penyerahan Diri - Pernah nggak sih nunggu sesuatu yang penting banget dalam hidup? Mungkin nunggu tanggal rilis film favorit, atau malah nunggu update berita yang bisa banget mengubah hidupmu. Tapi gimana kalau yang kamu tunggu-tunggu itu sesuatu yang jauh lebih besar yang nggak cuma soal tiket atau status di media sosial, melainkan soal hidup kekal yang dijanjikan Tuhan?
Yup, kali ini kita bakal bahas tentang menanti dalam pengharapan dan penyerahan diri, sesuai dengan nas Markus 13:24-37, yang ngomongin soal kedatangan kedua Kristus. Iya, kedatangan Yesus yang pastinya nggak bisa kita prediksi, tapi yang pasti penuh dengan pengharapan besar dan penuh makna buat hidup kita, entah kita menyadarinya atau nggak.
Menanti dalam pengharapan bukan berarti diam aja, loh. Nunggu nggak pernah sama dengan diem, dan menanti dalam pengharapan itu bukan hal yang gampang. Tapi inilah yang jadi panggilan hidup kita sebagai orang Kristen: menunggu dengan penuh iman, tetap bertahan, dan terus berjalan dalam penyerahan diri pada Tuhan yang memimpin kita.
Teks Alkitab: Markus 13:24-37 – Jangan Ketiduran, Bro!
Jadi, kita mulai dengan teksnya dulu, yuk! Di Markus 13:24-37, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini bukan kedatangan seperti pertama kali di Natal, dengan lampu-lampu gemerlap dan lagu-lagu gereja. Ini adalah kedatangan yang penuh kemuliaan, yang disertai dengan tanda-tanda besar di langit.
“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32)
Kita memang nggak tahu kapan itu akan terjadi, tapi satu hal yang pasti, kita diundang untuk menunggu dengan penuh pengharapan dan penyerahan diri. Tanpa menunggu, kita nggak akan tahu apa yang Tuhan sediakan untuk kita. Tanpa menunggu dengan pengharapan, kita bisa kehilangan momen yang luar biasa.
Tidak Cuma Asal Tunggu, Tapi Fokus Ke Tujuan
Menunggu itu nggak cuma soal duduk dan menatap jam terus-menerus, kan? Pasti pernah ada masa kamu nunggu sesuatu dan merasa kayak waktu berhenti. Tapi, menanti dalam pengharapan itu punya tujuan jelas. Menunggu Tuhan datang itu bukan cuma soal “yaudah deh, biar aja”enggak. Menunggu dalam pengharapan itu seperti orang yang tahu bahwa sesuatu yang luar biasa akan datang, hanya tinggal waktu yang memisahkan.
Pengharapan dalam Kristus bukan seperti pengharapan yang kita rasakan saat menunggu transportasi umum, yang kadang nggak pasti dan bikin bete. Pengharapan dalam Kristus itu lebih seperti menunggu seorang sahabat lama yang sudah janji untuk datang dan menemui kita mungkin udah lama nggak ketemu, tapi kita tahu dia pasti datang dengan sesuatu yang berharga. Pengharapan itu memberi kita motivasi untuk tetap bertahan, tidak menyerah, dan tetap hidup dengan penuh semangat.
Menyerahkan Hidup Dalam Proses Menanti
Nah, pengharapan nggak bisa berdiri sendiri tanpa penyerahan diri. Keduanya saling melengkapi. Menyerahkan diri itu bukan berarti menyerah, apalagi berpasrah tanpa usaha. Penyerahan diri dalam konteks ini adalah melepaskan kontrol, memberikan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, dan percaya bahwa Dia yang memegang kendali.
Penyerahan diri itu seperti nonton konser. Kamu tahu ada pertunjukan besar yang sedang berlangsung, dan kamu ingin menjadi bagian dari itu. Tapi, kamu harus ikut dengan ritme dan aturan dari sang penyelenggara konser. Kamu nggak bisa sembarangan nari sesuka hati, kan? Nah, penyerahan diri itu adalah mengikuti irama yang sudah Tuhan tetapkan untuk hidup kita.
Tuhan nggak minta kita menyerahkan segalanya dengan cara yang pasif, tanpa pemahaman. Justru, penyerahan diri itu adalah buah dari pengharapan yang kita miliki. Kita menunggu Tuhan datang dengan harapan besar, dan dalam penantian itu, kita menyerahkan hidup kita, mempercayakan setiap langkah kita pada-Nya.
“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” (Roma 8:24)
Aplikasi Praktis - Menunggu Bukan Berarti Diam
-
Berjaga-jaga dalam Iman: Seperti yang Yesus ajarkan dalam Markus 13, kita harus berjaga-jaga, nggak cuma soal kewaspadaan fisik, tapi juga kewaspadaan rohani. Terus berdoa, terus belajar firman, dan terus mencari cara untuk melayani sesama. Jangan sampai kita kebablasan sibuk dengan dunia sampai lupa dengan panggilan kita.
-
Melayani dengan Cinta: Menanti dalam pengharapan bukan berarti menunggu sendiri, tapi menunggu bersama-sama. Saat kita menanti kedatangan Kristus, kita dipanggil untuk melayani sesama. Kasih Tuhan itu aktif, jadi kita juga harus aktif dalam memberikan kasih kepada orang lain.
-
Menjadi Pribadi yang Terus Bertumbuh: Dalam menanti, kita harus terus berkembang. Jangan sampai menunggu kedatangan Tuhan malah bikin kita malas dan nggak produktif. Bekerjalah dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
-
Apakah kita harus terus-menerus menunggu kedatangan Kristus, atau bisa tetap menjalani hidup sehari-hari?
-
Menanti bukan berarti berhenti hidup. Sebaliknya, menanti membuat kita semakin aktif dalam menjalani hidup dengan tujuan yang lebih besar. Menunggu Kristus kembali berarti kita menjalani hidup yang penuh harapan dan berfokus pada pelayanan.
-
-
Bagaimana jika saya merasa nggak siap untuk menanti kedatangan Tuhan?
-
Jangan khawatir, Tuhan selalu memberi kesempatan untuk bertumbuh dan bersiap. Cobalah untuk berdoa, membaca firman Tuhan, dan melibatkan diri dalam pelayanan. Penyerahan diri pada Tuhan adalah proses yang berkelanjutan, bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam.
-
-
Apakah ada tanda-tanda bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat?
-
Yesus sendiri berkata bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan kedatangan-Nya. Tapi, kita dipanggil untuk tetap berjaga-jaga dan hidup dengan pengharapan. Fokus kita bukanlah mencari tanda-tanda, melainkan hidup dengan kesiapan setiap hari.
-
Pesan Pengutusan - Hidup dengan Pengharapan yang Hidup
Akhirnya, menanti dalam pengharapan dan penyerahan diri adalah tentang menjadikan pengharapan itu nyata dalam kehidupan kita setiap hari. Kita bukan hanya menunggu kedatangan Tuhan, tetapi hidup dengan mengantisipasi kedatangan-Nya. Setiap hari adalah kesempatan untuk hidup lebih baik, lebih penuh kasih, dan lebih dekat dengan Tuhan.
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31)
Mari kita terus berharap, terus menunggu dengan semangat, dan terus berjalan dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, sebab kedatangan-Nya pasti akan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik!
Sumber Nas: Markus 13:24-37; Masa Raya: Mingg Adven I; Writer: penarohani. editor: penaRadmin/pr
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2025 All Right Reserved - Designed by penarohani




0Comments