Sebuah Kenangan yang Tak Terlupakan
Pada 10 Januari 1946, ketika dunia masih terhuyung-huyung pasca Perang Dunia Kedua, 51 negara berkumpul untuk pertama kalinya di London. Di tengah reruntuhan kota yang hancur, mereka bukan sebagai pemenang dan yang kalah, tetapi sebagai sesama pengembara yang mencari jalan menuju perdamaian. Begitu Kardinal Vincent Nichols menggambarkan momen bersejarah itu dalam khotbahnya. Mereka datang untuk membentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah mimpi berani untuk memilih kerja sama, bukannya konflik, dan dialog, bukannya kehancuran.
Jejak Langkah PBB dalam Sejarah
Seiring berjalannya waktu, PBB telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang umat manusia. Seperti yang disampaikan Kardinal Nichols, dalam 80 tahun ini, PBB tidak hanya menjadi lembaga internasional yang memperjuangkan perdamaian, tetapi juga menunjukkan wujud nyata belas kasih, seperti dalam pasukan penjaga perdamaian di Siprus, mediasi krisis rudal Kuba, membantu jutaan orang kelaparan di Ethiopia, dan vaksinasi miliaran orang di tengah pandemi COVID-19.
Merenung, Menatap Masa Depan
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, juga mengingatkan kita tentang pentingnya melanjutkan perjuangan multilateralisme. Menurutnya, dunia kini tengah memasuki babak baru yang penuh tantangan. Meskipun ada pergeseran dalam kekuatan global, masih ada potensi untuk menciptakan masa depan yang lebih adil, atau justru lebih tidak stabil, tergantung pada seberapa besar komitmen kita untuk menghormati hukum internasional dan memperjuangkan kerjasama internasional.
Menyikapi Tantangan dengan Harapan
Tantangan dunia modern dengan segala perpecahan, ketidakadilan, dan polarisasi mengingatkan kita bahwa persatuan Kristen bukanlah sebuah kemewahan. Itu adalah kebutuhan untuk kesaksian yang kredibel terhadap Injil. Oleh karena itu, setiap langkah kita menuju persatuan harus didasari oleh doa, solidaritas, dan kerja sama yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan.
FAQ/Pertanyaan umum :
Kesimpulan
Dalam memasuki usia 80 tahun PBB, umat Kristen diajak untuk merenung kembali, apakah kita sudah menjalani hidup dengan prinsip persatuan dan perdamaian seperti yang dicita-citakan oleh PBB? Dalam konteks ini, kita juga diingatkan oleh Rasul Paulus dalam Efesus 4:3 :
"Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera"
Ini bukan hanya tugas PBB atau negara-negara besar, tetapi juga tugas kita sebagai umat Kristiani untuk menciptakan dunia yang lebih damai melalui persatuan sejati, yang hanya bisa terwujud lewat kasih Kristus.
Pesan Pengutusan:
Marilah kita bersama-sama, dengan hati yang rendah dan penuh kasih, berjuang untuk memelihara persatuan dalam tubuh Kristus. Dengan doa dan tindakan nyata, kita bisa membawa perubahan yang lebih besar bagi dunia ini - (pr)**
Source: oikoumene.org (wcc/19/01/2026); Writer: penarohani; Editor: penaRadmin.
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2026 All Right Reserved - Designed by penarohani



0Comments