Pendahuluan
Tulisan Unik, Pena Rohani - Puji Tuhan atau Puji Dunia? - Tahun baru sering kali menjadi momen yang penuh harapan, di mana orang-orang merayakan kebaruan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: "Apakah kita benar-benar memuji Tuhan dalam syukur tahun baru kita, atau malah dunia yang kita puji?" Tidak sedikit yang datang ke gereja atau datang ke komunitas atau kelompok-kelompok tahun baru, dengan niat hati penuh syukur, namun setelah ibadah selesai, kita lihat bagaimana dunia yang gemerlapan kembali memegang kendali. Lagu-lagu rohani tadi diawal diperdengarkan untuk memuji Tuhan, seketika menghilang, digantikan dengan musik-musik dunia yang menggoda dan menggairahkan untuk bersenang-senang, berdansa, dan terlupakanlah pujian kepada Tuhan. Inilah yang membuat kita bertanya, apakah syukur yang kita nyatakan pada Tuhan hanyalah sebuah formalitas belaka?
Kita harus sadar bahwa ada bahaya besar di sini, yaitu kebiasaan dan tradisi yang menipu, yang seolah-olah beribadah dengan tulus, tetapi sejatinya hanyalah rutinitas yang kosong. Ini adalah refleksi yang perlu kita renungkan dengan hati yang terbuka dan penuh kerendahan hati, agar tidak terjerumus dalam kebiasaan yang merugikan iman kita.
Puji Tuhan atau Puji Dunia?
Matanya yang tertuju pada dunia
Alkitab dengan jelas mengingatkan kita untuk tidak mencintai dunia ini, karena dunia hanyalah sementara. Dalam 1 Yohanes 2:15-17 tertulis: "Janganlah kamu mengasihi dunia ini atau apa yang ada di dalamnya. Jika ada orang mengasihi dunia ini, maka kasih Bapa tidak ada di dalam orang itu." Ini adalah teguran keras bagi kita agar kita tidak terjebak dalam godaan dunia yang memalingkan hati kita dari Tuhan.
Namun, tidak jarang kita melihat fenomena di mana, setelah ibadah tahun baru yang seharusnya penuh dengan pujian kepada Tuhan, kita malah beralih ke dunia. Lagu-lagu rohani yang seharusnya mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan digantikan oleh lagu-lagu dunia yang memanggil kita untuk bergoyang, bersenang-senang, dan melupakan Tuhan. Inilah yang disebut sebagai "pujian dunia" yang menggantikan pujian kepada Tuhan.
Apakah syukur kita tulus?
Pada saat perayaan tahun baru, apakah kita benar-benar merasa bahwa Tuhan layak untuk menerima pujian dan syukur kita? Apakah kita merasa bahwa kita tak bisa hidup tanpa kasih dan pertolongan-Nya sepanjang tahun lalu? Ketika kita menyanyikan lagu rohani dalam ibadah tahun baru, apakah itu datang dari hati yang penuh rasa syukur atau sekedar untuk mengikuti tradisi? Jika pujian kita hanya di mulut saja, tanpa disertai dengan perubahan hati dan perbuatan, maka kita bisa jatuh dalam kesalahan yang besar.
Syukur Tahun Baru Pakai Ibadah Hanyalah Formalitas
Salah satu fenomena yang sering kita temui adalah penggunaan ibadah sebagai formalitas. Ibadah tahun baru seharusnya menjadi momen di mana kita kembali merenung, bertobat, dan bertekad untuk hidup lebih baik di tahun yang baru. Namun, tak jarang kita temui, setelah ibadah selesai, kita kembali ke rutinitas duniawi kita tanpa ada perubahan nyata dalam hidup kita.
Ibadah sebagai tradisi, bukan ibadah sejati
Ketika ibadah hanya dijadikan tradisi belaka, kita kehilangan esensi dari ibadah itu sendiri. Ibadah yang sejati harusnya membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, memperbaharui hati kita, dan mengubah hidup kita. Namun, jika ibadah hanya dilakukan karena tuntutan budaya atau kewajiban, maka itu hanya akan menjadi ritual kosong yang tidak mengubah apa-apa. Dalam Matius 15:8, Tuhan Yesus mengingatkan kita: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari pada-Ku." Ini adalah pengingat bagi kita agar ibadah kita tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi sebuah tindakan yang tulus dari hati yang penuh syukur.
Tertipu dengan dunia yang gemerlapan
Setelah ibadah tahun baru selesai, kita sering terjebak dalam godaan dunia yang menggoda. Musik rohani yang tadinya kita nyanyikan dengan penuh suka cita, tiba-tiba tergantikan dengan lagu-lagu dunia yang tidak membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Lirik lagu dunia yang berisi tentang kenikmatan duniawi dan kepuasan sementara menggantikan pesan kasih dan pengorbanan Yesus. Hal ini menjadi tanda bahwa kita lebih cenderung memuja dunia daripada Tuhan.
Teguran Keras dari Alkitab
Alkitab dengan jelas memberikan teguran keras bagi mereka yang lebih mengutamakan dunia daripada Tuhan. Dalam 2 Timotius 3:1-5, kita diberikan gambaran tentang keadaan manusia di akhir zaman, yang akan mencintai dirinya sendiri, harta benda, dan kenikmatan dunia. Mereka akan memiliki penampilan lahiriah yang religius, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Ini adalah gambaran yang sangat relevan dengan kondisi kita hari ini. Banyak orang yang mengaku percaya, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan iman mereka.
Dalam Roma 1:24-32, Paulus juga mengingatkan kita tentang hukuman Tuhan bagi mereka yang menyembah ciptaan, bukan Penciptanya. Mereka yang menukar kemuliaan Tuhan dengan penyembahan kepada dunia dan keinginan duniawi akan menghadapi kerugian iman yang sangat besar. Ini adalah peringatan keras bahwa kita harus berhati-hati agar tidak jatuh dalam godaan yang sama.
Hukuman bagi yang terjerumus
Di akhir zaman, kita tahu bahwa Tuhan akan menghakimi dunia ini. Bencana, penderitaan, dan hukuman yang berat menanti bagi mereka yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Wahyu 22:12-15, Tuhan Yesus mengingatkan kita: "Lihat, Aku datang segera, dan upah-Ku bersama-Ku untuk membalas setiap orang menurut perbuatannya." Ini adalah peringatan bahwa kita harus berjaga-jaga dan tidak membiarkan diri kita terjerumus dalam dunia yang fana ini.
FAQ (Pertanyaan Umum ) :
Penutup
Kesimpulannya, kita harus benar-benar merenungkan apakah pujian kita selama perayaan tahun baru ini sungguh-sungguh untuk Tuhan atau sekadar formalitas belaka. Apakah kita benar-benar mengucap syukur dengan hati yang penuh atau hanya mengikuti arus dunia yang sementara? Jangan biarkan dunia menggantikan tempat Tuhan di hati kita. Kita harus menjaga hati kita agar tetap fokus pada Tuhan, karena hanya kepada-Nya lah segala pujian dan syukur seharusnya diberikan.
Pesan Pengutusan: Mari kita hidup dengan bijaksana di tahun yang baru ini, tetap fokus pada Tuhan, dan hindari godaan dunia yang sementara. Jadikan setiap momen ibadah sebagai kesempatan untuk memperbaharui hati kita dan memuji Tuhan dengan tulus.
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." — 1 Yohanes 2:15
Ajakan Profetik: Mari kita berjalan bersama Tuhan, menjauh dari godaan dunia, dan terus memuji-Nya dengan seluruh hati kita. Tuhan Yesus memberkati hidup kita di tahun yang baru! Amin..- (pr)**
Sumber Nas: Beberapa rujukan ayat Alkitab yang relevan; Writer: penarohani. editor: penaRadmin/pr
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2025 All Right Reserved - Designed by penarohani




0Comments