TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Menjemput Fajar Perlawanan, Sebuah Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke

Menjemput Fajar Perlawanan, Sebuah Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke

Menjemput Fajar Perlawanan: Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon tentang perjuangan gereja dan masyarakat adat di Perbatasan Merauke untuk keadilan dan alam.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Menjemput Fajar Perlawanan: Sebuah Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke

Merauke, Batas Timur Indonesia, Menjadi Panggung Perlawanan

Tulisan Unik, Pena Rohani - Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke - Merauke, kota di ujung timur Indonesia, menjadi saksi penting dalam perjalanan iman dan perjuangan masyarakat adat Papua. Sebagaimana dilangsir dari laman opini pgi.or.id (04/02/2026); Di kota ini, pada awal Februari 2026, Persidangan Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) berlangsung. Acara yang melibatkan berbagai gereja di tanah air ini menyajikan catatan penting dari Pdt. Dr. Mery Kolimon tentang perjuangan umat Kristiani di tanah perbatasan. Perjalanan ini bukan sekadar tentang kebaktian dan diskusi teologis, tetapi juga mengenai realitas perjuangan hidup di tanah Papua yang penuh tantangan.

Menjemput Fajar Perlawanan di Merauke - Kerinduan Akan Keadilan dan Alam yang Terluka

Bersidang di Merauke, perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini, memberikan nuansa yang sangat berbeda. Masyarakat adat Marind, yang menyebut tanah ini sebagai "Anim Ha", menganggapnya sebagai negeri sejati manusia. Di sini, mereka hidup selaras dengan alam, namun alam mereka kini terancam oleh proyek-proyek besar yang merusak lingkungan mereka. Dalam perjalanan persidangan, Pdt. Dr. Mery Kolimon mengajak kita untuk merenungkan betapa kuatnya keterikatan masyarakat Papua dengan alam, serta bagaimana mereka berjuang menjaga kelestarian hidup yang terancam.

Para peserta sidang merasakan kedalaman kerinduan masyarakat adat yang meminta perlindungan dari kerusakan alam yang dibawa oleh Proyek Strategis Nasional (PSN). Meskipun proyek ini diklaim untuk kesejahteraan, banyak yang merasa bahwa keberadaannya justru merusak ekosistem dan kehidupan mereka. Satu hal yang jelas, perjuangan ini bukan hanya soal hak tanah, tetapi juga soal hak hidup yang adil dan sejahtera di tengah ancaman global yang datang dari pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Suara Masyarakat Adat seperti Pergumulan di Balik Tarian dan Puji-Pujian

Keindahan budaya Papua, yang tercermin dalam tarian adat, lagu-lagu kontekstual, dan narasi kehidupan mereka, menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah di persidangan. Para pelayan ibadah lintas generasi, dari anak-anak hingga masyarakat adat, turut menyumbangkan diri dalam setiap kegiatan keagamaan. Ibadah yang digelar di tempat-tempat peribadatan yang sederhana namun penuh makna ini menggambarkan hubungan yang erat antara umat dan alam sekitar mereka.

Pada hari Minggu, para peserta dibagi untuk beribadah di berbagai gereja GPI Papua dan gereja-gereja anggota PGI lainnya. Salah satu pengalaman mendalam adalah ibadah di GPI Papua Jemaat Kristus Mopah Lama. Setelah kebaktian, jemaat bersama-sama menyajikan hidangan makanan tradisional seperti talas, ubi, papeda, ikan, dan daging rusa hidangan yang tak hanya lezat tetapi juga penuh makna budaya dan persatuan.

Menjemput Fajar Perlawanan: Sebuah Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke

Namun, perjalanan menuju batas negara di Kampung Sota, yang menghubungkan Indonesia dan Papua Nugini, memberikan pengalaman yang lebih mendalam. Di sana, bendera kedua negara berkibar berdampingan, menggambarkan kedamaian dan kesatuan. Tetapi, di balik kedamaian itu, ada kisah perjuangan masyarakat adat yang terus bergulir. Dari sinilah, kesadaran akan pentingnya perlawanan dan misi gereja untuk mengangkat suara mereka semakin kuat.

Gereja Melawan Kuasa yang Merusak

Persidangan MPL PGI di Merauke tidak hanya membahas soal teologi, tetapi juga soal bagaimana gereja harus bersikap terhadap ketidakadilan sosial dan kerusakan alam yang terjadi. Pdt. Dr. Mery Kolimon menegaskan bahwa gereja tidak boleh diam di hadapan ketidakadilan. Perlawanan terhadap PSN di Papua menjadi salah satu sorotan utama, di mana gereja-gereja dan masyarakat adat menuntut penghormatan terhadap hak mereka atas tanah dan alam yang telah mereka jaga selama berabad-abad.

Pesan ini sangat jelas: gereja harus menjadi agen perubahan, bukan hanya dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam hal sosial dan lingkungan. Persidangan ini mendeklarasikan bahwa gereja-gereja di Indonesia akan terus bekerja sama dengan gereja-gereja di Papua untuk mendukung hak-hak masyarakat adat, melawan kerusakan alam, dan mengangkat suara mereka dalam menghadapi ancaman global yang merusak bumi.

Gereja Sebagai Rumah Perlawanan yang Hidup

Menjemput Fajar Perlawanan: Sebuah Catatan Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Perbatasan Merauke

Di akhir persidangan, para pemimpin gereja kembali ke rumah mereka, namun bukan hanya untuk beristirahat. Mereka kembali untuk melanjutkan misi perlawanan yang telah dimulai di Merauke. Misi ini adalah tentang menegakkan keadilan, menjaga alam, dan memperjuangkan kehidupan yang layak bagi setiap umat manusia, terutama mereka yang terpinggirkan. Dalam refleksi tentang perjalanan ini, Pdt. Dr. Mery Kolimon mengingatkan kita semua bahwa gereja harus berkomitmen untuk menjadi rumah bagi mereka yang membutuhkan perlindungan dan perhatian.

FAQ/Pertanyaan Umum :

1. Apa yang dimaksud dengan "Menjemput Fajar Perlawanan"?
"Menjemput Fajar Perlawanan" merujuk pada ajakan untuk memulai perlawanan terhadap ketidakadilan dan kerusakan alam, sebagaimana yang diperjuangkan oleh gereja-gereja di Papua.

2. Mengapa gereja di Papua menolak Proyek Strategis Nasional (PSN)?
Gereja di Papua menolak PSN karena dianggap merusak alam, merampas tanah masyarakat adat, dan tidak melibatkan mereka dalam perencanaan. PSN dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan mereka yang bergantung pada alam.

3. Apa peran gereja dalam perjuangan masyarakat adat di Papua?
Gereja harus berperan sebagai agen perlawanan yang melawan ketidakadilan sosial, menjaga kelestarian alam, dan mendukung hak-hak masyarakat adat untuk hidup dengan damai dan sejahtera.

Kesimpulan

Sidang MPL PGI di Merauke mengajarkan kita banyak hal: tentang ketahanan iman, pentingnya menjaga alam, dan bagaimana gereja harus bersikap tegas melawan kejahatan yang mengancam umat manusia. Sebagai umat Kristen, kita dipanggil untuk mendukung perlawanan ini, bukan hanya dalam doa tetapi juga dalam tindakan nyata. Kita harus siap untuk menjemput fajar perlawanan, membawa terang di tengah kegelapan dunia ini.

Pesan Pengutusan

Semoga setiap gereja di Indonesia, dan setiap umat Kristen, dapat menyadari peran mereka dalam menjaga alam dan memperjuangkan keadilan sosial. Sebagaimana kita menuntut kedamaian dan keadilan, mari kita juga menjadi bagian dari solusi di dunia yang penuh tantangan ini. Sebagaimana Yakobus 4:17 berbunyi : 

"Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."

Mari kita bangkit bersama, menjemput fajar perlawanan yang penuh harapan dan keadilan, demi kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang! - (pr)**

Source: pgi.or.id (04/02/2026); Writer: penarohani; Editor: penaRadmin.

Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless. 

© 2026 All Right Reserved - Designed by penarohani 

0Comments

Temukan juga minat & pengalaman menarik lainnya DISINI