TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama | Pena Rohani

Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama | Pena Rohani

Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama refleksi Matius 18:6-11 yang menantang cara kita hidup di tengah jemaat setiap hari.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama

Renungan Minggu, Pena Rohani - Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama  - Ada satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas.

Waktu itu saya masih aktif di sebuah kelompok pemuda gereja. Ada seorang adik yang baru saja mulai rajin ke gereja semangat sekali, matanya berbinar setiap kali mendengar firman Tuhan. Tapi beberapa bulan kemudian, dia tiba-tiba menghilang. Tidak ke gereja lagi, tidak ke persekutuan lagi. Saya coba tanyakan ke teman-teman, dan jawabannya membuat saya diam lama.

Katanya, ada beberapa orang "tua" di gereja yang sering mengkritik cara ibadahnya cara duduknya kurang sopan, cara berpakaiannya terlalu kasual, caranya bernyanyi terlalu ekspresif. Tidak ada yang menegur dengan kasih. Hanya bisik-bisik dan tatapan menghakimi yang dia tangkap sendiri. Dan itu cukup untuk membuatnya memilih pergi.

Saya bertanya pada diri sendiri waktu itu: siapa yang sebenarnya bersalah?

Ketika Yesus Berbicara Sangat Serius

Matius 18:6-11 adalah salah satu perikop yang menurut saya sering kita lewati terlalu cepat. Kita membacanya, mengangguk-angguk, lalu lanjut ke ayat berikutnya. Padahal kalau kita duduk sejenak dan meresapi apa yang Yesus katakan di sini ini sebenarnya sangat keras.

Yesus berkata: "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut." (Matius 18:6)

Batu kilangan. Tenggelam ke laut. Ini bukan bahasa kiasan ringan. Ini adalah gambaran yang Yesus pilih dengan sangat sadar untuk menunjukkan betapa seriusnya Dia memandang dosa menjadi batu sandungan bagi orang lain khususnya bagi mereka yang imannya masih kecil, yang masih rentan, yang sedang dalam proses bertumbuh.

Dalam konteks perikop ini, "anak-anak kecil" bukan hanya berarti anak-anak secara usia. Lebih dari itu, Yesus sedang berbicara tentang siapa saja yang "kecil" dalam iman mereka yang baru percaya, yang sedang berjuang, yang rapuh secara rohani. Mereka inilah yang Yesus lindungi dengan keras.

Batu Sandungan Itu Ternyata Berwajah Banyak

Batu Sandungan Itu Ternyata Berwajah Banyak

Kalau kita jujur, batu sandungan tidak selalu berbentuk godaan terang-terangan untuk berbuat dosa. Seringkali wajahnya jauh lebih halus dan justru karena itu lebih berbahaya.

Pertama, kemunafikan yang terlihat nyata. Ketika kita mengajarkan sesuatu yang tidak kita jalani sendiri, orang-orang di sekitar kita melihatnya. Terutama generasi muda mereka sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan. Seorang pemimpin yang berkhotbah tentang kerendahan hati tetapi selalu ingin dihormati, seorang penatua yang berbicara tentang rekonsiliasi tetapi menyimpan dendam bertahun-tahun ini adalah batu sandungan nyata.

Kedua, sikap menghakimi yang membunuh semangat. Seperti cerita yang saya bagikan di awal tadi. Banyak orang yang akhirnya pergi dari persekutuan bukan karena mereka tidak percaya Tuhan, tapi karena mereka merasa dihakimi, tidak diterima, tidak layak. Dan kita yang ada di sana mungkin tanpa sadar sudah menjadi bagian dari penyebabnya.

Ketiga, pengajaran yang menyimpang. Yesus sangat serius tentang ini. Ketika seseorang mengajarkan sesuatu yang keliru tentang iman, tentang keselamatan, tentang karakter Allah dan orang-orang kecil itu menelannya mentah-mentah karena mereka percaya kepada pengajar tersebut maka pengajar itu telah menjadi batu sandungan rohani yang sangat berat.

Keempat, gaya hidup yang mengkompromikan nilai. Terkadang kita berpikir, "Ini urusan saya sendiri, tidak merugikan orang lain." Tapi hidup kita tidak pernah benar-benar "privat" sepenuhnya. Cara kita bicara, cara kita memperlakukan orang, cara kita merespons tekanan semua itu dilihat dan dipengaruhi orang-orang di sekitar kita.

Yesus Juga Bilang: Waspada!

Di ayat 7, Yesus berkata sesuatu yang menarik: "Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang sudah tak terelakkan bahwa penyesatan akan datang, tetapi celakalah orang yang mengadakannya."

Ini seperti Yesus sedang berkata: "Saya tahu dunia ini penuh dengan hal-hal yang bisa menyesatkan. Itu realita. Tapi jangan sampai kamu yang menjadi sumbernya."

Ada tanggung jawab personal yang Yesus letakkan di pundak kita masing-masing. Bukan hanya tanggung jawab untuk tidak melakukan dosa secara aktif, tapi juga tanggung jawab untuk tidak menjadi pintu masuk bagi kejatuhan orang lain.

Saya pikir ini sangat relevan dalam konteks komunitas GMIT kita hari ini. Kita hidup dalam jemaat yang beragam ada yang sudah puluhan tahun setia, ada yang baru mengenal Tuhan, ada yang datang dengan luka yang dalam, ada yang masih ragu-ragu. Dan kita dipanggil untuk menjadi komunitas yang saling membangun, bukan saling menjatuhkan.

Untuk Anda yang sedang bertumbuh dalam iman, artikel tentang dewasa dalam Kristus dan berhenti terpecah mungkin bisa menjadi bacaan lanjutan yang memperkaya refleksi ini.

Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ini pertanyaan yang paling penting, kan? Karena refleksi tanpa tindakan hanya menjadi latihan pikiran yang tidak mengubah apa-apa.

Mulai dari Introspeksi yang Jujur

Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ada orang dalam hidupku yang pernah tersandung karena sikapku, kata-kataku, atau cara hidupku?

Ini bukan pertanyaan yang nyaman. Saya sendiri pernah menjawabnya dengan jujur dan hasilnya cukup membuat saya tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Tapi itulah awal dari pertobatan yang nyata bukan yang dilakukan di permukaan saja.

Jaga Lidah dan Sikap di Komunitas

Gosip gerejawi adalah salah satu bentuk batu sandungan yang paling umum tapi paling jarang diakui. Ketika kita membicarakan kelemahan sesama di belakang punggungnya, kita tidak hanya merusak nama mereka kita juga bisa membuat orang lain kehilangan kepercayaan kepada jemaat secara keseluruhan.

Iman yang sejati harus menjadi tindakan nyata dalam cara kita berbicara dan memperlakukan sesama. Ini yang saya refleksikan dalam tulisan tentang saat iman harus menjadi tindakan iman yang tidak terlihat dalam perilaku kita sehari-hari adalah iman yang belum selesai bertumbuh.

Jadilah Komunitas yang Memulihkan

Yesus di ayat 10 mengingatkan kita untuk tidak memandang rendah "seorang pun dari anak-anak kecil ini." Artinya ada panggilan aktif untuk melihat, menghargai, dan merangkul terutama mereka yang terlihat kecil, lemah, atau tidak berpengaruh di mata dunia.

Gereja seharusnya menjadi tempat di mana orang yang sudah jatuh bisa bangkit kembali, bukan tempat di mana orang yang hampir jatuh malah didorong. Persekutuan yang memulihkan bukan hanya cita-cita itu adalah panggilan konkret yang Tuhan berikan kepada jemaat-Nya.

Tentang Berkat yang Kita Bawa (atau Kita Ambil)

Ada dua jenis kehadiran manusia di dunia ini. Ada orang yang kehadirannya membawa berkat ketika mereka ada, suasana menjadi lebih hangat, orang-orang merasa diterima, dan iman bertumbuh. Dan ada orang yang kehadirannya justru menguras energi rohani orang di sekitarnya.

Pertanyaannya bukan "orang seperti apa orang lain?" Tapi "orang seperti apa saya?"

Berkat Allah Tritunggal yang meneguhkan seharusnya mengalir keluar dari kita kepada sesama  bukan berhenti di kita sendiri. Dan kuasa Roh Kudus yang diberikan bagi dunia yang luka itu nyata dan aktif, tapi Roh Kudus bekerja melalui manusia yang mau dipakai bukan melalui mereka yang justru jadi hambatan bagi sesama.

Pertanyaan yang Perlu Kita Bawa Pulang

Minggu Biasa IV dalam kalender liturgi GMIT adalah undangan untuk kembali ke hal-hal yang mendasar. Bukan hal-hal yang besar dan spektakuler, tapi hal-hal yang sehari-hari dan nyata.

Matius 18:6-11 mengajak kita untuk bertanya:

  • Apakah cara saya berbicara membangun atau meruntuhkan iman sesama?
  • Apakah gaya hidup saya menjadi kesaksian yang hidup atau malah menjadi alasan orang meragukan Tuhan?
  • Apakah saya sudah cukup peka terhadap "anak-anak kecil" di sekitar saya mereka yang imannya masih rapuh dan butuh perlindungan, bukan penghakiman?

Tidak ada jawaban instan untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi justru di sanalah pertumbuhan rohani terjadi bukan ketika kita sudah punya semua jawaban, tapi ketika kita mau terus-menerus bertanya dengan jujur.

Kesimpulan

Pesan Yesus dalam Matius 18:6-11 bukan untuk menakut-nakuti kita, tapi untuk menyadarkan kita betapa seriusnya tanggung jawab yang kita emban sebagai bagian dari komunitas iman. Jangan jadi batu sandungan bagi sesama bukan sekadar larangan pasif ini adalah panggilan aktif untuk menjadi pribadi yang sadar, yang reflektif, yang terus bertanya apakah kehadiran kita di dunia ini membawa orang lebih dekat kepada Tuhan atau justru sebaliknya.

Batu sandungan itu bisa hadir dalam bentuk kemunafikan, penghakiman, pengajaran yang menyimpang, hingga gaya hidup yang mengkompromikan nilai-nilai Kerajaan Allah. Semuanya perlu kita waspadai bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan, tapi dengan kesadaran yang memberdayakan.

Siapakah aku di mata sesama

✝️ Pesan Pengutusan

Saudara-saudari dalam Kristus, saat kita keluar dari kebaktian hari ini dan kembali ke rumah, ke tempat kerja, ke komunitas kita kita membawa tanggung jawab rohani yang nyata. Kita adalah surat Kristus yang dibaca oleh dunia. Biarlah setiap langkah, setiap kata, dan setiap sikap kita menjadi jalan yang menuntun sesama kepada Tuhan, bukan batu yang membuat mereka terjatuh.

"Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia." - Lukas 17:3

Hari ini, Tuhan menyatakan atas hidupmu: kamu tidak dipanggil untuk menjadi penghalang, melainkan jembatan dan dalam setiap langkahmu yang penuh kasih, jiwa-jiwa akan menemukan jalan pulang kepada-Nya.

Apakah ada seseorang dalam hidupmu yang pernah menjadi batu sandungan bagimu dalam perjalanan iman? Atau justru sebaliknya pernahkah kamu menyadari bahwa kamu sendiri yang tanpa sadar menjadi penghalang bagi sesama? Saya ingin sekali mendengar cerita dan refleksi Anda di kolom komentar bukan untuk saling menghakimi, tapi justru untuk saling menguatkan dalam perjalanan ini.


👤 Author Box

Akang Loger
Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis tentang iman, refleksi rohani, dan kehidupan sehari-hari yang dimaknai dalam terang firman Tuhan. Percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan jujur bisa menjadi berkat bagi yang membacanya.

0Comments