Saya sendiri pertama kali serius merenungkan pertanyaan ini ketika seorang teman di luar gereja bertanya dengan nada sinis, "Bukannya kitab-kitab itu dipilih oleh manusia saja?" Saya tidak langsung punya jawaban saat itu. Tapi justru dari pertanyaan itulah perjalanan saya menggali sejarah kanonisasi Alkitab dimulai dan hasilnya sungguh mengubah cara saya memandang Firman Tuhan.
Mari kita telusuri bersama.
Alkitab Bukan Buku yang "Jadi Begitu Saja"
Ketika kita membuka Alkitab hari ini, kita melihat satu buku yang terasa utuh, padu, dan berwibawa. Tapi tahukah Anda bahwa proses terbentuknya koleksi 66 kitab ini memakan waktu ribuan tahun?
Alkitab ditulis oleh sekitar 40 penulis berbeda dalam rentang waktu antara 1.500 hingga 2.000 tahun mulai dari zaman Musa sekitar tahun 1.400 SM hingga akhir abad pertama Masehi. Para penulisnya berasal dari latar belakang yang sangat beragam: ada raja, nabi, nelayan, tabib, pemungut cukai, sampai penjara. Mereka menulis di tiga benua: Eropa, Asia, dan Afrika.
Yang luar biasa? Di tengah keberagaman yang begitu ekstrem itu, ada satu benang merah yang konsisten: kisah tentang Allah yang mencintai manusia dan rencana keselamatan melalui Yesus Kristus.
Umat Kristiani percaya hal ini bukan kebetulan. Di balik tangan manusia, ada satu Pengarang Ilahi yang menginspirasi setiap kata yaitu Allah sendiri, melalui Roh Kudus (2 Timotius 3:16).
Perjanjian Lama: Awalnya Bukan 39 Kitab
Ini bagian yang sering membuat orang terkejut.
Dalam tradisi Ibrani kuno, kitab-kitab suci mereka sebenarnya tidak dihitung sebagai 39 kitab melainkan 22 atau 24 kitab. Isinya sama persis dengan 39 kitab Perjanjian Lama Protestan yang kita kenal sekarang. Yang berbeda hanyalah cara pengelompokannya.
Misalnya, yang kita kenal sebagai 1 Raja-Raja dan 2 Raja-Raja dalam Alkitab berbahasa Indonesia, dalam tradisi Ibrani dianggap satu kitab utuh. Begitu pula 1 Tawarikh dan 2 Tawarikh, juga 12 kitab nabi kecil yang kita hitung satu per satu semuanya diperlakukan sebagai satu kesatuan tunggal.
Mengapa Berubah Menjadi 39?
Perubahan ini terjadi akibat proyek besar bernama Septuaginta penerjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, sekitar tahun 250–300 SM. Saat itu, gulungan-gulungan papirus punya keterbatasan panjang. Kitab-kitab yang tebal harus dipecah menjadi dua bagian agar muat dalam satu gulungan.
Dari sinilah muncul pemisahan yang kita kenal sampai sekarang.
Mengapa Protestan Tidak Menerima Kitab Apokrifa?
Tradisi Katolik Roma memiliki 73 kitab (termasuk kitab-kitab Deuterokanonika seperti Tobit, Makabe, dan Yudith). Gereja Ortodoks Etiopia bahkan memiliki hingga 84 kitab. Lalu kenapa Protestan berhenti di 39 kitab untuk Perjanjian Lama?
Jawabannya kembali ke satu prinsip: Yesus dan para rasul menggunakan kanon Ibrani.
Ketika Yesus mengutip Kitab Suci, Ia mengacu pada koleksi yang diakui oleh orang-orang Yahudi saat itu bukan kitab-kitab Apokrifa. Para rasul pun mengikuti pola yang sama. Selain itu, kitab-kitab Apokrifa seperti Makabe secara historis tidak pernah masuk dalam kanon Ibrani resmi, dan beberapa di antaranya mengandung ketidakakuratan sejarah yang cukup signifikan.
Ini bukan soal gereja yang "membuang" kitab-kitab tertentu. Ini soal mengakui apa yang Allah sendiri sudah tempatkan sebagai otoritatif sejak awal.
Topik senada soal otoritas sejarah dalam iman Kristen juga menarik untuk dikaji dalam artikel tentang Perjalanan Misi Rasul Paulus dan Penyebaran Kekristenan Awal.
Perjanjian Baru: Bagaimana 27 Kitab Itu Dipilih?
Pertanyaan yang lebih sering menimbulkan kebingungan biasanya ada di sini: siapa yang memutuskan bahwa Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes masuk, sementara Injil Tomas atau Injil Filipus tidak?
Jawabannya lebih sederhana dari yang kita bayangkan tapi juga lebih dalam secara teologis.
Kriteria yang Digunakan Gereja Mula-Mula
Gereja mula-mula menggunakan beberapa standar yang ketat sebelum mengakui sebuah tulisan sebagai kanonik:
- Otoritas Apostolik Apakah kitab ini ditulis oleh seorang rasul, atau oleh seseorang yang dekat dengan rasul dan mendapat persetujuan mereka? Markus misalnya bukan rasul, tetapi ia adalah rekan Petrus. Lukas adalah rekan Paulus.
- Konsistensi Doktrin Apakah ajaran dalam kitab ini selaras dengan kesaksian Yesus dan para rasul yang sudah diakui? Banyak tulisan gnostik ditolak justru karena isinya bertentangan dengan tradisi apostolik.
- Penerimaan Universal Apakah kitab ini digunakan secara luas oleh gereja-gereja di berbagai wilayah? Tulisan yang hanya dikenal di satu komunitas kecil tidak memenuhi syarat ini.
- Tanda Ilahi Apakah pembacaan kitab ini menghasilkan buah rohani, transformasi, dan penguatan iman?
Siapa yang "Meresmikan" 27 Kitab?
Pada tahun 367 M, Uskup Athanasius dari Alexandria menulis surat Paskah yang secara resmi mencantumkan 27 kitab Perjanjian Baru persis seperti yang kita miliki sekarang. Ini adalah catatan tertulis pertama yang mendaftar kanon Perjanjian Baru secara lengkap.
Beberapa konsili gereja kemudian, seperti Konsili Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M), juga mengonfirmasi daftar yang sama.
Tapi ini poin penting yang perlu dipahami: konsili-konsili itu tidak "menciptakan" kanon. Mereka hanya mengakui dan mengesahkan apa yang sudah diterima secara organik oleh komunitas Kristen selama berabad-abad.
Ada perbedaan besar antara menemukan dan menciptakan. Gereja menemukan kanon bukan membuat-buatnya.
Ringkasan Perbandingan Kanon Alkitab
| ✝️ Tradisi Gereja | 🔢 Jumlah Kitab | 💡 Keterangan & Komposisi |
| 🟥 Protestan | 66 Kitab | 39 Perjanjian Lama (PL) + 27 Perjanjian Baru (PB). Mengikuti kanon Ibrani untuk PL. |
| 🟨 Katolik Roma | 73 Kitab | Kanon Protestan ditambah 7 kitab Deuterokanonika (seperti Tobit, Yudit, Makabe) di bagian PL. |
| 🟦 Ortodoks Yunani | 78 Kitab | Mengikuti Septuaginta (terjemahan Yunani kuno) dengan tambahan beberapa teks seperti 3 Makabe dan Mazmur 151. |
| 🟩 Ortodoks Etiopia | Hingga 84 Kitab | Kanon terluas; mencakup teks kuno unik yang tidak ada di tradisi lain, seperti Kitab Henokh dan Yobel. |
Infografis
Bagaimana dengan "Kitab-Kitab yang Hilang"?
Saya paham mengapa klaim ini terdengar menggoda film dokumenter, novel populer, dan konten internet sering membahas "kitab-kitab tersembunyi" yang seolah sengaja disembunyikan dari umat.
Alkitab sendiri sebenarnya menyebut beberapa tulisan yang kini tidak kita miliki, seperti Kitab Orang Jujur (Jashar) atau kemungkinan surat Paulus lain kepada jemaat Korintus. Apakah ini berarti Alkitab kita tidak lengkap?
Tidak sesederhana itu.
Para ahli termasuk yang non-Kristen menjelaskan bahwa banyak tulisan yang disebut itu adalah sumber sejarah sekuler, bukan teks yang terinspirasi. Penulis Alkitab menggunakannya sebagai referensi faktual, sama seperti penulis modern mengutip ensiklopedia.
Adapun surat-surat rasul yang mungkin sudah tidak ada lagi, pandangan teologisnya begini: Allah yang berdaulat atas sejarah juga berdaulat atas apa yang Ia pilih untuk dipertahankan dan apa yang tidak. Kalau sebuah tulisan tidak sampai ke tangan kita, besar kemungkinan karena Allah memang tidak bermaksud agar itu menjadi bagian dari wahyu kanonik yang universal.
Keyakinan ini bukan buta ini adalah kepercayaan yang dilandasi oleh pemeliharaan Allah yang dapat kita lacak secara historis.
Menariknya, cara Allah memelihara sejarah umat-Nya juga bisa kita lihat dalam kisah seperti Runtuhnya Tembok Yerikho: Antara Kisah Iman dan Bukti Sejarah atau misteri di balik Sejarah Tongkat Musa Membelah Laut Teberau.
Lalu, Mengapa Alkitab Hanya 66 Kitab dan Bukan Lebih?
Ini adalah inti dari seluruh pertanyaan kita.
Jawabannya bukan angka magis yang dipilih sembarangan. 66 kitab adalah jumlah yang mencerminkan kelengkapan wahyu Allah kepada manusia untuk tujuan keselamatan.
Kitab Wahyu mengakhiri kanon bukan hanya secara kronologis tapi juga secara teologis. Ada peringatan keras di penghujung Wahyu tentang menambah atau mengurangi isi kitab ini (Wahyu 22:18-19), yang secara tradisional dipahami sebagai sikap gereja terhadap keseluruhan kanon.
Penemuan arkeologi baru, sekanonik apapun klaim pembuatnya, tidak mengubah kelengkapan Alkitab 66 kitab. Justru temuan-temuan itu kerap mempertegas dan mengonfirmasi apa yang sudah ada di dalamnya seperti yang dibahas dalam artikel tentang Tujuh Cawan Emas di Jemaat Mula-Mula.
Kesimpulan
Mari kita rangkum perjalanan panjang ini:
- Alkitab ditulis selama ±1.500–2.000 tahun oleh sekitar 40 penulis, namun punya satu pesan yang kohesif karena terinspirasi oleh satu Pengarang Ilahi.
- 39 kitab Perjanjian Lama mengikuti kanon Ibrani yang sudah diakui sejak zaman Yesus. Kitab-kitab Apokrifa tidak termasuk karena tidak memenuhi kriteria kanon Ibrani asli.
- 27 kitab Perjanjian Baru dipilih berdasarkan otoritas apostolik, konsistensi doktrin, dan penerimaan universal oleh gereja mula-mula bukan keputusan sewenang-wenang.
- Gereja tidak menciptakan kanon; gereja mengakui apa yang Allah sudah tetapkan.
- Kanon sudah tertutup karena wahyu Allah dalam Yesus Kristus sudah sempurna dan lengkap.
Pertanyaan "Mengapa Alkitab hanya 66 kitab?" bukan pertanyaan yang melemahkan iman. Justru sebaliknya memahami jawabannya akan memperkuat keyakinan kita bahwa Alkitab bukan sekadar kumpulan tulisan manusia, melainkan Firman Tuhan yang dipelihara dengan cermat sepanjang sejarah.
✝️ Pesan Pengutusan
Mungkin kita tidak selalu punya jawaban lengkap untuk setiap pertanyaan tentang iman. Tapi kita tidak perlu memiliki segalanya untuk mempercayai sesuatu.
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."- 2 Timotius 3:16 (TB)
Alkitab yang kita pegang hari ini 66 kitab itu bukan produk kompromi manusia. Ia adalah warisan rohani yang dijaga oleh Allah sendiri, melewati zaman, peperangan, penganiayaan, dan perdebatan teologis selama berabad-abad. Dan ia tiba ke tangan kita dengan utuh.
Itu bukan kebetulan. Itu pemeliharaan.
Ketika kamu membuka Alkitab hari ini, ingatlah bahwa Allah yang sama yang menjaga setiap kata di dalamnya selama ribuan tahun, juga sedang menjaga hidupmu dengan kesetiaan yang tidak pernah berubah.- (pr)**
FAQ -Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Mengapa Alkitab Protestan memiliki 66 kitab, sementara Katolik 73? Perbedaan ini berakar pada pengakuan terhadap kitab-kitab Deuterokanonika (Apokrifa). Protestan mengikuti kanon Ibrani kuno yang tidak memasukkan kitab-kitab seperti Tobit, Yudith, dan Makabe. Katolik menerima kitab-kitab tersebut berdasarkan tradisi gereja dan Konsili Trente (1545–1563).
2. Apakah ada konsili gereja yang "memilih" kitab-kitab Alkitab? Tidak dalam arti menciptakan. Konsili seperti Hippo (393 M) dan Kartago (397 M) hanya mengonfirmasi daftar yang sudah secara luas diterima oleh komunitas Kristen. Prosesnya lebih organik dan berbasis konsensus, bukan keputusan top-down yang dipaksakan.
3. Apa itu kitab Apokrifa dan mengapa tidak masuk Alkitab Protestan? Apokrifa adalah tulisan-tulisan Yahudi dari periode antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (sekitar 400 SM–100 M). Protestan menolaknya karena tidak termasuk dalam kanon Ibrani yang diakui Yesus, dan beberapa mengandung ketidakakuratan historis serta ajaran yang bertentangan dengan kanon yang sudah ada.
4. Benarkah ada kitab-kitab yang sengaja "disembunyikan" dari Alkitab? Tidak. Banyak tulisan kuno yang beredar memang tidak masuk kanon, tapi bukan karena disembunyikan melainkan karena tidak memenuhi kriteria otoritas, konsistensi doktrin, dan penerimaan universal. Banyak tulisan itu justus sudah dikenal dan dikaji terbuka oleh gereja mula-mula sebelum akhirnya tidak dimasukkan.
5. Apakah kanon Alkitab masih bisa berubah di masa depan? Menurut keyakinan arus utama Kristen, kanon sudah tertutup. Wahyu Allah yang berpuncak pada Yesus Kristus sudah sempurna. Tidak ada wahyu baru yang setara Alkitab yang diharapkan atau diterima sebagai kanonik.
💬 Ajak Pembaca Berdialog
Setelah membaca ini, apakah ada pertanyaan tentang Alkitab yang selama ini mengganjal di benak Anda? Atau mungkin ada pengalaman pribadi ketika Anda harus menjawab pertanyaan serupa dari orang lain? Bagikan cerita Anda di kolom komentar saya ingin mendengarnya!
Dan kalau artikel ini memberkati Anda, jangan sungkan untuk membagikannya ke teman atau anggota keluarga yang mungkin sedang bergumul dengan pertanyaan yang sama. Kadang, satu artikel yang tepat bisa menjadi titik balik bagi seseorang.
Tentang Penulis
Pena Rohani adalah penulis dan blogger Kristen yang mulai aktif menulis sejak 2021. Dengan pendekatan reflektif dan storytelling, tulisan-tulisannya menyentuh tema-tema kekristenan, sejarah Alkitab, dan kehidupan rohani sehari-hari. Ia percaya bahwa setiap pertanyaan tentang iman sekecil apapun layak mendapat jawaban yang jujur dan mendalam.
🔗 Kenali lebih jauh tentang Pena Rohani
📌 Update Information
Verified© 2026 All Right Reserved - Designed by penarohani




0Comments