Saya datang bukan sebagai orang asing. Saya datang sebagai bagian dari jemaat yang, seperti banyak orang di Kupang Barat waktu itu, masih menyimpan luka. April 2021, Badai Seroja meluluhlantakkan wilayah ini. Rumah rusak, ladang hancur, dan jujur saja iman banyak orang juga sempat goyah. Saya sendiri sempat bertanya dalam hati, kenapa bencana seberat itu harus menimpa kami yang sudah susah payah hidup di NTT.
Tapi sore itu, di antara reruntuhan yang belum sepenuhnya pulih, saya melihat sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan hanya dengan kata "acara seremonial". Saya melihat kebangkitan.
Bukan Sekadar Batu, Tapi Simbol Iman yang Diletakkan Kembali
Ada yang bilang, peletakan batu pertama itu cuma tradisi gerejawi biasa ritual yang sudah turun-temurun, tidak istimewa. Saya dulu juga berpikir begitu. Sampai saya berdiri di tengah jemaat Oeli'i hari itu dan menyadari: batu yang diletakkan bukan sekadar batu fisik. Itu adalah pengakuan bahwa di atas reruntuhan pun, fondasi iman masih bisa dibangun.
Dalam khotbahnya, Pdt. Doddy S. Octavianus menegaskan sesuatu yang terus terngiang di kepala saya sampai sekarang: Yesus Kristus adalah Batu Penjuru. Bukan sekadar istilah teologis yang dihafal waktu sekolah minggu, tapi kenyataan yang sedang kami alami secara harfiah gereja ini dibangun di atas dasar iman dan persatuan jemaat, mengikuti teladan Kristus sebagai fondasi yang tidak akan goyah, sekeras apa pun badai yang datang.
Kalau Anda penasaran bagaimana visi pembangunan gereja seperti ini bisa berkembang jauh lebih besar, saya sempat membaca ulasan menarik soal target ambisius satu juta gereja baru dalam sepuluh tahun pertanyaannya sama: mungkinkah tercapai, atau justru pertanyaan yang salah untuk ditanyakan?
Ibadah yang Dipimpin dengan Penuh Kehangatan
Ibadah peletakan batu pertama dipimpin oleh Pdt. Doddy S. Octavianus, didampingi Pdt. Jenny S. Tadu Hungu-Tuhehay. Saya duduk di barisan tengah, dan yang saya perhatikan bukan hanya tata cara ibadahnya yang tertib, tapi wajah-wajah jemaat di sekitar saya. Ada yang menangis pelan. Ada yang tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan. Ada nenek-nenek yang saya kenal, yang rumahnya rusak parah waktu Seroja, tapi hari itu dia datang dengan pakaian terbaiknya.
Pdt. Doddy mengingatkan kami dan ini kalimat yang saya catat langsung di buku kecil saya waktu itu bahwa setiap jemaat adalah bagian dari keluarga Allah, dan pembangunan gereja ini adalah bukti nyata dari persatuan dan kebersamaan dalam iman. Kalimat sederhana, tapi rasanya pas sekali dengan situasi kami waktu itu. Kami butuh diingatkan bahwa kami tidak sendirian menghadapi semua ini.
Kehadiran Wakil Bupati dan Momen yang Tidak Saya Duga
Hampir dua jam ibadah berlangsung, suasana makin ramai dengan kedatangan Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe. Saya sempat berpikir kehadiran pejabat biasanya membuat acara jadi kaku dan formal. Tapi ternyata saya salah besar.
Pak Jerry Manafe berbicara dengan nada yang menurut saya jujur, bukan pidato politik yang dihafal. Beliau menekankan bahwa pembangunan gereja adalah tugas mulia, apalagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang saat itu masih mencekam, ditambah dampak buruk badai siklon yang belum sepenuhnya pulih. Beliau menegaskan bahwa Tuhan selalu hadir dan menuntun langkah kita dalam persatuan dan kesatuan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, bukan cuma kata-kata, beliau menyumbangkan dana sebesar Rp 35 juta dari sebuah yayasan untuk membantu kelancaran pembangunan gereja. Tapi yang paling membekas di ingatan saya justru bukan soal donasi itu melainkan waktu beliau ikut menyanyi bersama jemaat, lagu "Hidup Ini Adalah Kesempatan" dan "Yesus Malole". Saya lihat orang-orang di sebelah saya ikut bernyanyi sambil menyeka air mata. Momen itu terasa jujur, bukan settingan.
Detik-Detik Batu Pertama Diletakkan
Ini bagian yang menurut saya paling menggetarkan. Para tokoh penting Pdt. Doddy S. Octavianus, Wakil Bupati Jerry Manafe, dan beberapa donatur gereja bersama-sama meletakkan batu pertama di lokasi pembangunan. Saya berdiri cukup dekat waktu itu, dan saya bisa melihat tangan-tangan yang meletakkan batu itu sedikit gemetar. Bukan karena berat batunya, tapi karena beban emosi yang menyertainya.
Setiap batu yang diletakkan hari itu, bagi saya, membawa doa dan harapan tersendiri: harapan akan pembangunan rohani yang semakin kokoh, sekaligus harapan fisik bahwa gedung ini akan berdiri dengan kuat menahan badai berikutnya, entah badai literal atau badai kehidupan.
Kalau Anda pernah menghadiri acara serupa di gereja lain, mungkin Anda juga merasakan getaran yang sama seperti yang pernah saya rasakan saat menyaksikan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan pengharapan di sebuah peresmian gereja lain ada kesamaan rasa syukur yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Kenapa Peletakan Batu Ini Begitu Berarti Buat Sejarah Gereja Sion Oeli'i
Sejarah Gereja Sion Oeli'i, sejauh yang saya tahu dari cerita para tua-tua jemaat, selalu diwarnai perjalanan panjang dan tantangan yang tidak sedikit. Tapi peletakan batu pertama gedung gereja ini rasanya menandai babak yang benar-benar baru.
Bukan cuma soal bangunan fisik yang lebih besar dan lebih layak. Bagi saya pribadi, ini soal memperkuat pelayanan jemaat dan memperluas jangkauan gereja untuk terus memberkati lebih banyak orang di sekitar Oeli'i dan Tubutuan. Gedung baru ini nantinya akan jadi tempat yang lebih nyaman untuk beribadah, ruang yang lebih luas bagi komunitas untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam iman sesuatu yang sangat kami butuhkan setelah masa-masa sulit itu.
Catatan Sejarah Pembangunan Gedung Gereja Sion Oeli'i
| Tanggal | Kegiatan / Peristiwa | Tokoh & Pihak Terlibat | Detail Donasi / Dampak |
| 4–5 April 2021 | Bencana Badai Siklon Seroja | Masyarakat Oeli'i & Jemaat GMIT | Kerusakan infrastruktur di NTT; pembangunan sempat tertunda akibat pemulihan pasca-badai. |
| 2 Juli 2021 | Peletakan Batu Pertama | • Pdt. Doddy S. Octavianus • Jerry Manafe (Wabup Kupang) • Pdt. Jenny S. Tadu Hungu-Tuhehay | Rp 35.000.000 (Bantuan awal pembangunan gedung baru) |
| Juli 2021 | Aksi Swadaya Jemaat | Seluruh jemaat & panitia pembangunan | Material bangunan (batu karang, pasir) & tenaga kerja sukarela. |
Saya sengaja tidak mau tabel ini jadi satu-satunya cara saya menyampaikan cerita, karena angka-angka di atas tidak akan pernah bisa menggambarkan bagaimana rasanya berdiri di tengah jemaat yang baru saja kehilangan begitu banyak, tapi masih mau berdiri dan berkata: kami akan membangun lagi.
Beberapa Hal yang Menurut Saya Penting Dicatat
- Peletakan batu pertama ini adalah simbol kebangkitan dan iman jemaat setelah Badai Siklon Seroja bukan cuma seremoni administratif.
- Acara ini dihadiri tokoh penting termasuk Wakil Bupati Kupang dan para donatur, tapi intinya tetap milik jemaat sendiri.
- Pembangunan gedung gereja ini menjadi langkah penting memperkuat pelayanan jemaat ke depan.
Kalau nanti gedung gereja ini sudah selesai dan diresmikan, saya membayangkan suasananya akan mirip dengan yang pernah saya baca soal peresmian Gereja Lidamanu Batubao cahaya iman yang menyala terang setelah proses panjang penuh perjuangan.
Pertanyaan yang Sering Muncul Setelah Acara Ini
Apa sebenarnya Peletakan Batu Pertama Gedung Gereja Sion Oeli'i itu? Ini adalah simbol dimulainya pembangunan gedung gereja Sion Oeli'i, setelah jemaat menghadapi tantangan berat akibat Badai Siklon Seroja. Bagi saya yang menyaksikan langsung, acara ini penuh makna spiritual dan menjadi tanda kebangkitan iman jemaat.
Kenapa acara ini terasa begitu emosional bagi jemaat yang hadir? Karena tidak lama sebelumnya, jemaat baru saja kehilangan banyak hal akibat badai. Melihat proses pembangunan dimulai kembali memberi harapan nyata bahwa jemaat bisa tumbuh dalam iman, memperkuat pelayanan, dan memperluas ruang ibadah untuk persekutuan yang lebih besar.
Apa makna "Yesus Dasar dan Batu Penjuru" dalam konteks acara ini? Ini merujuk pada pemahaman iman Kristen bahwa Kristus adalah fondasi yang tidak tergoyahkan bagi gereja-Nya. Dalam khotbah yang saya dengarkan langsung, hal ini ditekankan sebagai dasar teologis sekaligus dasar emosional bagi jemaat untuk terus melangkah meski pernah dihantam badai.
Kesimpulan
Peletakan Batu Pertama Gedung Gereja Sion Oeli'i bukan sekadar ritual seremonial yang lewat begitu saja dalam kalender gerejawi. Bagi saya yang berdiri di sana dan menyaksikannya sendiri, ini adalah bukti nyata bahwa iman jemaat GMIT di Kupang Barat tidak patah meski dihantam Badai Siklon Seroja. Dengan semangat persatuan, dukungan pemerintah daerah, dan swadaya jemaat sendiri, gereja ini melangkah maju membangun fondasi rohani yang kokoh sekaligus memperluas ruang pelayanan bagi banyak orang ke depannya.
Pesan Gembala
"Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11)
Setiap batu yang diletakkan hari itu mengingatkan saya bahwa hidup ini pun perlu dibangun di atas dasar yang benar. Badai boleh datang, gedung boleh rusak, tapi selama dasarnya adalah Kristus, kita akan selalu punya alasan untuk membangun kembali.
Dari reruntuhan yang ditinggalkan badai, akan berdiri sebuah rumah doa yang menjadi tempat perlindungan bagi banyak jiwa sebab apa yang diletakkan di atas Batu Penjuru tidak akan pernah runtuh selamanya.
Saya masih sering memikirkan momen itu, terutama waktu badai kehidupan datang lagi dalam bentuk lain. Apa Anda pernah mengalami momen serupa saat sesuatu yang hancur justru jadi titik awal iman yang lebih kokoh? Saya ingin sekali mendengar cerita Anda di kolom komentar.
Dan kalau Anda kebetulan pernah hadir di acara ini atau punya foto/kenangan dari peletakan batu pertama Gereja Sion Oeli'i, jangan ragu bagikan juga ya cerita seperti ini rasanya lebih lengkap kalau ditulis bersama-sama atau di share ke media sosial Anda. Amin,,Gbu
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Menulis dari pengalaman langsung di lapangan seputar kehidupan gerejawi, refleksi iman, dan cerita-cerita jemaat di NTT. Profil selengkapnya: yakangbioprofil



0 تعليقات