Vision36 Anglikan: Target 1 Juta Gereja Baru dalam 10 Tahun, Mungkinkah Tercapai?
Namanya terdengar seperti nama proyek teknologi, tapi isinya jauh lebih menyentuh. Vision36 adalah target ambisius untuk menanam atau memulihkan satu juta gereja di seluruh dunia, dalam rentang waktu sepuluh tahun, mulai 2026 hingga 2036. Angka itu bukan sekadar target di atas kertas. Kalau benar-benar tercapai, ini akan jadi salah satu upaya penanaman gereja paling besar dan terkoordinasi yang pernah dilakukan dalam sejarah Komunio Anglikan.
Pertanyaannya sederhana tapi penting: apa yang sebenarnya mendorong visi sebesar ini, dan apa artinya bagi umat Kristen di luar lingkaran Anglikan, termasuk di Indonesia?
Lahir dari Pertemuan di Belfast
Vision36 pertama kali diperkenalkan secara resmi dalam pertemuan ke-19 Anglican Consultative Council di Belfast. Yang menarik, gagasan ini bukan datang dari satu tokoh sentral saja, melainkan hasil kerja Komisi Penginjilan dan Pemuridan Komunio Anglikan sebuah tanda bahwa ini memang dirancang sebagai gerakan bersama, bukan proyek personal seorang pemimpin gereja.
Fokusnya pun tidak sesempit "membangun gedung baru". Sebagian besar orang mungkin membayangkan proyek semacam ini identik dengan pembangunan fisik: tanah baru, dana besar, arsitek, dan seremoni peletakan batu pertama. Padahal Vision36 punya cakupan yang lebih luas dari itu.
Selain pendirian gereja baru, inisiatif ini juga menaruh perhatian besar pada menghidupkan kembali jemaat yang sedang meredup. Gereja-gereja lama yang jemaatnya menyusut, yang ibadahnya makin sepi, yang nyaris tak lagi terdengar pemulihan gereja-gereja semacam ini tetap dihitung dalam target satu juta itu. Ini pendekatan yang cukup realistis, karena menanam yang baru tanpa merawat yang lama sering kali hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
"Sedekat Mungkin dengan Masyarakat"
Salah satu suara yang cukup kuat dalam menjelaskan esensi Vision36 datang dari Canon Robert Sihubwa, dari Gereja Provinsi Afrika Tengah. Menurutnya, inti dari seluruh visi ini adalah soal aksesibilitas bagaimana gereja bisa hadir sedekat mungkin dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Ini adalah visi untuk membawa gereja ke dunia, sedekat mungkin dengan masyarakat, sehingga tidak ada seorang pun yang harus berjalan jauh untuk menemukan gereja Anglikan terdekat," begitu penekanannya.
Kalimat itu sebetulnya menyentuh persoalan yang sering diabaikan dalam diskusi soal pertumbuhan gereja: bukan hanya soal jumlah jemaat, tapi soal jarak jarak fisik, jarak sosial, bahkan jarak emosional antara gereja dan masyarakat yang ingin dijangkaunya. Kalau lewat Vision36 target ini tercapai, Anglikan memperkirakan akan ada sekitar 20 juta jemaat baru yang bergabung dalam satu dekade ke depan. Angka yang besar, meski tentu saja masih berupa proyeksi yang akan sangat bergantung pada eksekusi di lapangan.
Momentum JC2033: Bukan Kebetulan
Ada satu hal yang membuat waktu peluncuran Vision36 ini terasa tidak sembarangan. Inisiatif ini dikaitkan langsung dengan JC2033, sebuah gerakan global untuk memperingati 2000 tahun peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Dari sudut pandang strategi rohani, ini masuk akal. Momentum peringatan besar semacam itu sering dipakai gereja-gereja di seluruh dunia sebagai titik balik untuk memperbarui komitmen penginjilan semacam pengingat kolektif bahwa inti dari semua pekerjaan gereja pada akhirnya kembali ke satu peristiwa: kebangkitan. Vision36 tampaknya ingin menumpangkan momentum spiritual itu pada agenda pertumbuhan yang lebih konkret dan terukur.
Afrika: Bukan Sekadar Peserta, Tapi Jantung Pertumbuhan
Menurut Pew Research Center pada 2025, Afrika sub-Sahara kini menjadi rumah bagi 30,7% populasi Kristen dunia angka yang bahkan melampaui Eropa, wilayah yang selama berabad-abad dianggap sebagai pusat gravitasi Kekristenan global. Pergeseran ini sebenarnya bukan berita baru bagi para pengamat gereja dunia, tapi tetap saja mengejutkan ketika melihatnya dalam angka yang begitu tegas.
Beberapa negara Afrika bahkan sudah menunjukkan pola pertumbuhan jemaat yang bisa jadi contoh nyata:
| Negara | Strategi Pertumbuhan Jemaat |
| Kenya | Memanfaatkan sekolah-sekolah gereja sebagai basis untuk mendirikan jemaat baru. |
| Sudan Selatan | Mengandalkan gerakan doa lintas provinsi yang mendorong pelipatgandaan gereja. |
Dua contoh ini menunjukkan bahwa pertumbuhan gereja di Afrika tidak selalu datang dari dana besar atau proyek top-down. Kadang justru lahir dari hal-hal yang sederhana sekolah gereja, kelompok doa lingkungan yang kemudian berkembang secara organik menjadi komunitas jemaat baru. Pola semacam ini yang kemungkinan besar ingin direplikasi Vision36 ke wilayah-wilayah lain.
Penginjilan dan Pemuridan: Dua Sisi yang Tak Bisa Dipisah
Reverend Eleanor Sanderson dari Gereja Inggris memberi penekanan penting lainnya soal filosofi di balik Vision36. Menurutnya, inisiatif ini lahir dari kesadaran bahwa penginjilan dan pemuridan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Ini poin yang sebenarnya cukup krusial, dan sering luput dari perhatian ketika orang membahas "target jumlah gereja". Menambah jumlah gedung atau jumlah jemaat yang tercatat tidak otomatis berarti pertumbuhan iman yang sehat. Kalau jemaat baru datang tapi tidak pernah dibina, tidak pernah diajarkan, tidak pernah didampingi bertumbuh dalam iman maka angka satu juta gereja itu berisiko hanya jadi statistik kosong.
Di sinilah Vision36 sebenarnya melanjutkan pekerjaan yang sudah dirintis lebih dulu lewat "Decade of Intentional Discipleship", program yang telah meletakkan fondasi pelatihan dan pemahaman jemaat di lebih dari 165 negara. Jadi Vision36 bukan proyek yang berdiri sendiri dari nol, melainkan kelanjutan dari kerja panjang yang sudah berjalan bertahun-tahun sebelumnya.
Menilai Vision36 Secara Jujur: Antara Optimisme dan Tantangan Nyata
Wajar kalau visi sebesar ini memunculkan dua reaksi sekaligus: kekaguman sekaligus keraguan. Target satu juta gereja dalam sepuluh tahun bukan angka kecil, dan sejarah gerakan gereja dunia sudah cukup sering menunjukkan bahwa visi besar tidak selalu berbanding lurus dengan pencapaian di lapangan.
Beberapa tantangan yang realistis untuk dipikirkan bersama:
- Pendanaan jangka panjang untuk ribuan jemaat baru di berbagai benua bukan perkara sederhana.
- Kesiapan tenaga pelayan dan pemimpin jemaat lokal yang terlatih perlu tumbuh sejalan dengan jumlah gereja yang bertambah.
- Konteks sosial-politik di tiap negara berbeda-beda, dan tidak semua wilayah punya kondisi seterbuka Kenya atau Sudan Selatan untuk pertumbuhan gereja yang cepat.
Namun di sisi lain, justru di situlah menariknya. Vision36 tidak dirancang sebagai proyek satu wilayah, melainkan gerakan global yang menggandeng berbagai provinsi gerejawi dengan konteks masing-masing. Kalau pendekatan lokal seperti sekolah gereja di Kenya atau gerakan doa di Sudan Selatan bisa direplikasi dengan penyesuaian di tempat lain, target ini setidaknya punya fondasi yang bukan sekadar angan-angan.
Bagi umat Kristen di Indonesia dan Asia pada umumnya, dinamika semacam ini juga relevan untuk direnungkan. Pergeseran pusat gravitasi Kekristenan dunia ke arah Selatan global termasuk Afrika dan Asia sebenarnya sudah lama dibicarakan dalam berbagai forum gerejawi. Isu ini juga bersinggungan dengan berbagai pembahasan lain yang belakangan mengemuka, misalnya soal ke mana arah pergeseran gereja dunia yang belakangan makin ramai dibahas, atau bagaimana isu global seperti persatuan umat Kristen di tengah 80 tahun PBB masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Vision36 juga tidak berdiri di ruang hampa. Ia hadir di tengah situasi dunia yang penuh gejolak, mulai dari isu kemanusiaan hingga konflik yang membutuhkan respons gereja secara serius, sebagaimana pernah disuarakan dalam pembahasan WCC turun tangan menyikapi darurat anti kekerasan. Bahkan isu-isu yang tampak jauh dari topik gerejawi, seperti hak atas tanah rakyat yang pernah diulas dalam catatan dari Greenland hingga Merauke, sebenarnya berkelindan dengan bagaimana gereja hadir di tengah masyarakat persis semangat yang ingin dibawa Vision36.
Konteks krisis internal gereja sendiri juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebagaimana pernah diangkat dalam laporan tentang tiga krisis mematikan yang dibongkar dalam Sidang Raya Ekumindo di Belanda, pertumbuhan kuantitas gereja tanpa pembenahan kualitas internal berisiko menciptakan masalah baru, bukan solusi.
Kesimpulan
Vision36 adalah gambaran ambisi besar Komunio Anglikan untuk menghadirkan gereja sedekat mungkin dengan masyarakat, lewat penanaman satu juta gereja baru dan pemulihan jemaat yang meredup dalam sepuluh tahun ke depan. Afrika diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan ini, didukung data demografis yang menunjukkan pergeseran pusat gravitasi Kekristenan dunia ke wilayah tersebut. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada keseimbangan antara penginjilan dan pemuridan bukan sekadar menambah jumlah gedung, melainkan merawat pertumbuhan iman yang sehat dan berkelanjutan.
Pesan Pengutusan
Visi sebesar Vision36 pada akhirnya mengingatkan setiap orang percaya bahwa pekerjaan penginjilan bukan hanya tugas para pemimpin gereja di podium, melainkan panggilan bersama setiap jemaat, di mana pun ia berada. Sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19-20 :
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Amanat itu tidak pernah kedaluwarsa, dan setiap generasi dipanggil untuk menghidupinya dengan caranya masing-masing.
Ketika gereja kembali mendekat kepada masyarakatnya, di situlah benih-benih kebangkitan iman akan mulai bertumbuh, satu demi satu, hingga memenuhi bumi dengan terang yang tak pernah padam.
FAQ Seputar Vision36 Anglikan
Apa itu Vision36 dalam Komunio Anglikan? Vision36 adalah inisiatif global Komunio Anglikan untuk menanam atau memulihkan satu juta gereja di seluruh dunia dalam periode 2026 hingga 2036.
Kenapa dinamakan Vision36? Nama ini merujuk pada rentang periode program, meski secara filosofis juga dikaitkan dengan momentum JC2033 yang memperingati 2000 tahun kematian dan kebangkitan Kristus.
Apakah Vision36 hanya soal membangun gedung gereja baru? Tidak. Program ini juga mencakup upaya menghidupkan kembali jemaat lama yang sedang mengalami penurunan jumlah anggota, dan pemulihan itu tetap dihitung dalam target satu juta gereja.
Kenapa Afrika disebut sebagai kunci sukses Vision36? Karena data Pew Research Center 2025 menunjukkan Afrika sub-Sahara kini menjadi rumah bagi 30,7% populasi Kristen dunia, melampaui Eropa, sehingga wilayah ini punya potensi pertumbuhan jemaat paling besar.
Apakah target 1 juta gereja ini realistis untuk dicapai? Ini masih menjadi perdebatan terbuka. Ada tantangan nyata soal pendanaan, tenaga pelayan, dan konteks sosial-politik tiap negara, tapi pendekatan berbasis komunitas lokal seperti di Kenya dan Sudan Selatan memberi dasar optimisme yang tidak sepenuhnya tanpa alasan.
Bagaimana menurut Anda, apakah target satu juta gereja dalam sepuluh tahun ini terasa realistis atau justru terlalu ambisius untuk konteks gereja di berbagai negara? Atau menurut Anda, gereja lokal di lingkungan kita masing-masing sudah cukup dekat dengan masyarakat sekitarnya? Silakan bagikan pandangan Anda di kolom komentar.
Tentang Penulis
Akang Loger : Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis seputar isu gerejawi, refleksi iman, dan dinamika Kekristenan global. Profil selengkapnya: yakangbioprofil



Post a Comment