Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berjalan Bersama Sang Raja Damai (Matius 21:1-11)

02 April 2023 | Sunday, April 02, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-04-05T02:55:09Z

 

Berjalan Bersama Sang Raja Damai (Matius 21:1-11)

Jemaat Tubutuan - Matius 21:1-11 adalah catatan Alkitab tentang perjalanan Yesus Kristus ke Yerusalem, di mana ia akhirnya disalibkan dan bangkit dari kematian. Bagian ini menyoroti momen di mana Yesus memasuki kota Yerusalem dengan diiringi oleh umat yang memuji dan menyambut-Nya sebagai Raja Damai. Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana peristiwa ini menggambarkan karakter Yesus dan pesan-pesan yang dapat kita ambil dari kisah ini.

 

I. Latar Belakang

 

Sebelum memasuki kota Yerusalem, Yesus mengajarkan banyak hal di sepanjang jalan dari Galilea. Dia melakukan banyak mujizat, seperti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan memberi makan ribuan orang. Khotbahnya juga fokus pada kerajaan Allah dan pentingnya mengasihi sesama.

 

II. Perjalanan menuju Yerusalem

 

Setelah tiba di Bethfage, Yesus mengutus dua muridnya untuk mencari seekor keledai dan anak keledai yang terikat di sana. Setelah kedua murid tersebut menemukannya, mereka membawa keledai dan anak keledai tersebut kepada Yesus. Yesus kemudian naik ke atas keledai dan mulai perjalanan menuju Yerusalem.

 

Perjalanan tersebut diikuti oleh para murid Yesus serta banyak orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Selama perjalanan, orang-orang yang mengikuti Yesus menyebarkan jubah dan dedaunan pohon palem di jalan sebagai tanda penghormatan. Mereka juga menyanyikan pujian dan bersorak menyambut kedatangan Yesus.

 

Perjalanan menuju Yerusalem sangat penting bagi Yesus karena dia tahu bahwa inilah saatnya untuk memenuhi rencana Allah. Yesus juga menggunakan momen ini untuk memberikan pengajaran dan melakukan mukjizat, seperti menyembuhkan orang sakit dan memberi makan orang banyak.

 

Dalam perjalanan tersebut, Yesus juga menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, seperti lawan-lawan politiknya yang mencoba menggagalkan rencananya. Namun, Yesus terus berjalan dengan penuh keyakinan dan kesetiaan pada rencana Bapa Surgawi.



Berjalan Bersama Sang Raja Damai (Matius 21:1-11)

 

Secara keseluruhan, perjalanan menuju Yerusalem menunjukkan betapa pentingnya kesetiaan dan kepercayaan pada rencana Allah. Meskipun menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, Yesus tetap berjalan menuju Yerusalem dengan penuh keyakinan dan tekad untuk memenuhi misi-Nya.

 

III. Penerimaan Yesus sebagai Raja Damai

 

Ketika Yesus dan para muridnya tiba di Yerusalem, banyak orang berkumpul dan menyambut-Nya dengan merentangkan jubah dan ranting pohon palem di jalan-Nya. Mereka berteriak "Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang maha tinggi!" Orang-orang tersebut menganggap Yesus sebagai seorang pemimpin yang akan membawa perdamaian dan keadilan kepada mereka.

 

Sesampainya di Yerusalem, Yesus dan para pengikutnya langsung menuju ke Bait Allah. Di sana, Yesus merangkul kembali prinsip-prinsip kebenaran dan mengusir para pedagang dan pengambil untung yang memanfaatkan Bait Allah untuk keuntungan pribadi.

 

Tindakan Yesus ini membuat orang-orang yang hadir semakin percaya pada Yesus dan menganggapnya sebagai seorang nabi yang diutus oleh Allah. Banyak orang yang memuji Yesus dan memperlakukannya layaknya seorang raja.

 

Keesokan harinya, ketika Yesus kembali ke Yerusalem, orang-orang yang merasa terinspirasi olehnya menyebar berita bahwa Yesus adalah raja yang datang membawa damai dan keadilan. Mereka meyakinkan banyak orang untuk menyambut Yesus dengan merangkulnya dan menyebarkan jubah dan dedaunan palem di jalan sebagai tanda penghormatan.

 

Yesus sendiri menyadari bahwa penerimaannya sebagai raja damai adalah salah satu tahap dalam misinya. Namun, dia tidak ingin dipandang sebagai seorang raja duniawi. Ia ingin agar para pengikutnya memahami bahwa kerajaannya bukanlah dari dunia ini dan bahwa tindakan-tindakan yang ia lakukan bertujuan untuk membawa damai dan keadilan ke seluruh dunia.

 

Dalam Matius 21:5, tertulis bahwa Yesus naik ke atas keledai sebagai raja yang datang dengan rendah hati dan penuh kasih. Ia tidak menggunakan kuda atau kuda perang seperti raja-raja duniawi pada waktu itu. Ia menyadari bahwa kekuasaannya bukan berasal dari kekuatan fisik atau dunia, melainkan dari kekuasaan dan kekuatan Allah.

 

Dengan penerimaan Yesus sebagai raja damai, ia memimpin umat manusia menuju perdamaian yang sejati dengan Allah. Yesus mengajarkan kebajikan, kasih sayang, dan kebenaran, dan memimpin umat manusia menuju keselamatan. Oleh karena itu, perayaan Minggu Palma adalah saat untuk mengenang pengorbanan Yesus dan merayakan penerimaan Yesus sebagai raja damai.

 

IV. Makna simbolis dari peristiwa ini

 

Peristiwa ini memiliki banyak makna simbolis. Pohon palem yang dijadikan hiasan jalan merupakan simbol kemenangan dan kemuliaan. Sementara itu, Yesus yang naik ke atas seekor keledai menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Kesederhanaan ini juga tercermin dalam pakaian Yesus yang tidak megah seperti seorang raja, melainkan hanya menggunakan jubah sederhana.

 

Peristiwa penerimaan Yesus sebagai raja damai memiliki banyak makna simbolis yang penting bagi umat Kristen.

 

Pertama, kedatangan Yesus ke Yerusalem sebagai seorang raja yang datang membawa damai dan keadilan menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak selalu berkaitan dengan kekuasaan duniawi. Yesus mengajarkan bahwa kerajaannya berasal dari Allah dan bukan dari kekuatan fisik atau dunia.

 

Kedua, peristiwa ini menunjukkan kesediaan Yesus untuk memenuhi misi-Nya sebagai Juru Selamat, yaitu dengan memberikan hidup-Nya sebagai korban penghapus dosa manusia. Kedatangan Yesus ke Yerusalem sebagai raja damai adalah awal dari perjalanan-Nya menuju pengorbanan-Nya di kayu salib.

 

Ketiga, penggunaan keledai oleh Yesus sebagai kendaraan ke tempat penghormatan-Nya menunjukkan kerendahan hati dan kesederhanaan-Nya. Hal ini mengajarkan bahwa kehidupan yang sederhana dan rendah hati adalah hal yang diperlukan untuk mendapatkan kasih sayang dan rahmat Allah.

 

Keempat, pemilihan jubah dan dedaunan palem sebagai tanda penghormatan menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang raja yang dihormati dan diakui oleh rakyatnya. Deduanyaan palem sendiri merupakan simbol dari kemenangan, kejayaan, dan keselamatan yang akan diberikan oleh Yesus melalui penderitaan-Nya.

 

Kelima, peristiwa ini juga menunjukkan penerimaan Yesus oleh orang-orang miskin dan terpinggirkan, bukan oleh orang-orang yang berkuasa dan kaya. Hal ini mengajarkan bahwa kebaikan dan kebenaran tidak selalu berasal dari orang yang berkuasa atau kaya, melainkan dapat ditemukan dalam kehidupan sederhana orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah.

 

Dengan demikian, penerimaan Yesus sebagai raja damai memiliki makna simbolis yang penting bagi umat Kristen, yaitu tentang kekuasaan Allah, kerendahan hati, pengorbanan, kemenangan, penerimaan, dan kebaikan.

 

V. Kepatuhan Yesus terhadap rencana Bapa Surgawi

 

Yesus mengikuti rencana Sang Bapa

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Yesus secara sadar dan sukarela mengikuti rencana Bapa Surgawi. Dia tahu bahwa dia akan ditangkap dan disalibkan di Yerusalem, namun dia tetap pergi ke sana tanpa ragu-ragu. Hal ini menunjukkan tingkat kesetiaan Yesus kepada Allah dan kepercayaannya pada rencana-Nya.

 

Kepatuhan Yesus terhadap rencana Bapa Surgawi adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam kisah penderitaan dan kematian-Nya. Dalam Matius 26:39, Yesus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

 

Hal ini menunjukkan bahwa Yesus merelakan segala sesuatu dalam hidup-Nya, termasuk penderitaan dan kematian-Nya, kepada kehendak Bapa Surgawi. Kepatuhan-Nya terhadap rencana Bapa menjadi contoh bagi setiap orang Kristen untuk mengikuti kehendak Allah dalam hidup mereka.

 

Kepatuhan Yesus juga tercermin dalam keputusannya untuk tidak mengambil tindakan kekerasan saat ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam Yohanes 18:36, Yesus berkata, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."

 

Kepatuhan Yesus terhadap kehendak Bapa dan keputusannya untuk tidak menggunakan kekerasan menunjukkan bahwa cara Allah memimpin dunia berbeda dengan cara dunia memimpin. Yesus memilih untuk menerima penderitaan dan kematian-Nya sebagai bagian dari rencana Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian.

 

Dalam Filipi 2:8, disebutkan bahwa Yesus "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Kepatuhan-Nya terhadap rencana Bapa yang sempurna membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, setiap orang Kristen dipanggil untuk mengikuti contoh Yesus dengan taat mengikuti kehendak Allah dan memilih untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Kepatuhan Yesus terhadap rencana Bapa Surgawi memberikan pengertian yang sangat penting bagi umat Kristen, yaitu bahwa mengikuti kehendak Allah dan menjalankan rencana-Nya yang sempurna akan membawa berkat dan keselamatan bagi hidup manusia.

 

VI. Pesan-pesan yang dapat diambil dari kisah ini

 

Peristiwa ini memiliki beberapa pesan penting yang dapat diambil. Pertama, kesederhanaan dan kerendahan hati adalah nilai-nilai yang penting bagi seorang pemimpin. Kedua, penting untuk tetap setia pada rencana Tuhan meskipun

 

Kisah "Berjalan Bersama Sang Raja Damai" (Matius 21:1-11) memberikan beberapa pesan yang sangat berharga bagi umat Kristen. Berikut adalah beberapa pesan yang dapat diambil dari kisah ini:

 

Kepatuhan terhadap kehendak Allah:

Seperti yang ditunjukkan oleh Yesus, kita harus siap untuk patuh pada kehendak Allah dan mengikuti rencana-Nya dalam hidup kita. Hal ini berarti kita harus bersedia mengorbankan kehendak kita sendiri dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya.

 

Kebijaksanaan dalam mengambil keputusan:

Yesus mengambil keputusan untuk memasuki Yerusalem sebagai seorang raja yang damai, bukan sebagai seorang pemimpin politik yang memerangi pemerintah Romawi. Kita juga harus berusaha untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam hidup kita, yang sesuai dengan kehendak Allah dan memuliakan-Nya.

 

Mengakui kebesaran Tuhan:

Ketika orang-orang bersorak-sorai dan memuji Yesus sebagai raja, mereka mengakui kebesaran Tuhan dalam hidup-Nya. Demikian pula, kita harus mengakui kebesaran Tuhan dalam hidup kita dan selalu menghormati-Nya sebagai Tuhan dan Pencipta kita.

 

Penerimaan kasih Allah:

Yesus datang ke dunia untuk mengorbankan diri-Nya sendiri dan memberikan keselamatan bagi umat manusia. Kita harus menerima kasih Allah dalam hidup kita dan berusaha untuk hidup sesuai dengan rencana-Nya untuk kita.

 

Pemeliharaan kerendahan hati:

Meskipun Yesus diakui sebagai raja, Dia tetap rendah hati dan melayani orang lain. Kita juga harus berusaha untuk menjaga kerendahan hati dalam hidup kita dan melayani orang lain tanpa pamrih, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus.

 

Kisah "Berjalan Bersama Sang Raja Damai" mengandung banyak pesan yang dapat membantu kita untuk hidup sebagai seorang Kristen yang saleh dan melayani Allah dengan sepenuh hati.


Selamat menjalani minggu sengsara, Jumat Agung, dan Paskah.

Dalam menjalani minggu sengsara, Jumat Agung dan Paskah, mari kita mengambil waktu untuk merenungkan kembali kisah "Berjalan Bersama Sang Raja Damai" dan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Marilah kita selalu mengikuti contoh Yesus Kristus dalam hidup kita, dengan patuh pada kehendak Allah, berusaha untuk membuat keputusan yang bijaksana, mengakui kebesaran Tuhan, menerima kasih Allah, dan memelihara kerendahan hati dalam hidup kita. Semoga pesan-pesan ini menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan melayani Allah dengan sepenuh hati. Selamat menjalani minggu sengsara, Jumat Agung, dan Paskah.

 

Dari nats Khotbah minggu sengsara VII, GMIT tanggal 2 April 2023

Tema : Berjalan Bersama Sang Raja Damai (Matius 21 : 1 – 11) 

Ditulis oleh : Pnt. Y. Lomang

Editors and publications : JT Admin


Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi lain website ini, dengan cara cukup Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update