TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Di Balik Perang Iran-Israel 2025: Kedaulatan Tuhan atas Sejarah Bangsa-Bangsa

Di Balik Perang Iran-Israel 2025: Kedaulatan Tuhan atas Sejarah Bangsa-Bangsa

Di balik Perang Iran-Israel 2025, ada Kedaulatan Tuhan atas sejarah bangsa-bangsa. Renungan iman tentang perang, ketakutan, dan pengharapan
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Ilustrasi langit malam kota Timur Tengah dengan jejak rudal dan cahaya menembus awan, melambangkan kedaulatan Tuhan atas Perang Iran-Israel 2025

🕊 Catatan Redaksi

Artikel ini ditulis semata-mata sebagai renungan iman dan edukasi sejarah, bukan untuk memprovokasi, menghakimi, atau memihak salah satu bangsa maupun kelompok tertentu. Kami mendoakan pemulihan dan kedamaian bagi seluruh rakyat sipil yang terdampak baik di Iran, Israel, maupun kawasan sekitarnya serta merindukan damai sejahtera secara berbangsa, bernegara, dan secara iman. Data peristiwa merujuk pada sumber berita dan artikel terverifikasi (lihat rujukan di akhir artikel).

Sejarah, Pena Rohani
- Di Balik Perang Iran-Israel 2025 - Saya masih ingat betul suasana malam itu. Grup WhatsApp keluarga tiba-tiba ramai. Satu per satu link berita masuk Israel menyerang Iran, ledakan di Teheran, sirene di Tel Aviv. Beberapa saudara seiman langsung bertanya di grup, dengan nada yang campur aduk antara cemas dan bingung: "Ini tanda-tanda akhir zaman, ya?"

Saya tidak langsung menjawab. Jujur saja, saya juga butuh waktu untuk mencerna. Karena ini bukan sekadar berita di layar HP yang lewat begitu saja. Ini adalah dua bangsa yang namanya berulang kali disebut dalam Alkitab, sedang berhadapan dalam perang terbuka di depan mata dunia.

Itulah yang terjadi pada 13 Juni 2025. Dini hari, Israel melancarkan Operasi Rising Lion serangan udara besar-besaran yang menghantam puluhan lokasi di Iran sekaligus: fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan, instalasi militer, hingga tempat tinggal sejumlah pejabat dan ilmuwan nuklir Iran. Beberapa jam kemudian, Iran membalas lewat Operasi True Promise III, meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke arah kota-kota Israel, termasuk Tel Aviv.

Perang ini berlangsung dua belas hari dunia kemudian menyebutnya Twelve-Day War. Amerika Serikat pun ikut turun tangan lewat Operasi Midnight Hammer pada 22 Juni, membom tiga fasilitas nuklir Iran. Baru pada 24 Juni, gencatan senjata akhirnya disepakati di bawah tekanan diplomatik Presiden Trump.

Dua belas hari. Rasanya singkat kalau ditulis di kalender. Tapi bagi orang-orang yang tidur di ruang bawah tanah setiap malam, mendengar sirene serangan udara, atau meninggalkan Teheran demi mencari tempat lebih aman dua belas hari itu terasa seperti setahun penuh.

Ketika Teknologi Canggih Bertemu Ketakutan yang Sangat Manusiawi

Ada satu hal yang membuat saya merenung panjang soal perang ini: betapa canggihnya kekuatan yang dikerahkan, tapi betapa purbanya ketakutan yang ditimbulkan.

Israel mengerahkan ratusan pesawat tempur, agen intelijen, hingga operasi rahasia yang melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran hanya dalam hitungan jam. Iran membalas dengan gelombang rudal dan drone dalam jumlah besar, sebagian berhasil menembus sistem pertahanan berlapis Israel seperti Iron Dome dan Arrow. Ini perang generasi baru perang yang dikendalikan lewat layar radar dan algoritma intersepsi.

Tapi di baliknya, tetap saja ada seorang ibu di Teheran yang menggendong anaknya lari mencari perlindungan. Tetap ada keluarga di Tel Aviv yang harus menghitung waktu antara bunyi sirene dan ledakan. Teknologi berubah, tapi rasa takut manusia menghadapi maut tetap sama seperti ribuan tahun lalu.

Saya kira, di titik inilah iman kita diuji bukan untuk menjawab pertanyaan teknis soal siapa lebih unggul secara militer, tapi untuk bertanya: di tengah semua ini, di manakah Tuhan?

Dunia yang Ikut Terguncang

Perang ini tidak berhenti di dua negara saja. Dalam hitungan hari, isu ini sudah menjadi persoalan global.

Amerika Serikat berdiri tegas di sisi Israel. Rusia dan China menyuarakan kecaman dan mendesak gencatan senjata. Negara-negara Teluk seperti Qatar dan Bahrain berusaha menjadi jembatan diplomasi di tengah situasi yang mudah meledak. Harga minyak dunia melonjak karena kekhawatiran terhadap jalur energi di kawasan itu, dan pasar saham global ikut bergejolak.

Saya jadi teringat ayat yang sering dikutip orang tua saya dulu, dari Yeremia 25:29, tentang bagaimana Tuhan berbicara kepada bangsa-bangsa, bukan hanya kepada umat pilihan-Nya saja. Sejarah dunia ini, sebesar dan sekacau apa pun kelihatannya, tidak pernah lepas dari tangan-Nya. Bukan berarti Tuhan yang "menyebabkan" perang dalam arti menghendaki kekerasan tapi Dia tetap memegang kendali penuh atas arah sejarah, bahkan ketika manusia sedang sibuk saling menghancurkan.

Ini bukan penghiburan murahan yang menutup mata dari penderitaan nyata. Justru sebaliknya ini pengakuan bahwa Tuhan cukup besar untuk hadir di tengah kekacauan sebesar ini, tanpa kehilangan kendali sedikit pun.

Wajah-Wajah di Balik Angka Statistik

Kalau saya boleh jujur, bagian tersulit menulis soal perang bukanlah menjelaskan kronologinya, tapi membayangkan orang-orang di baliknya.

Ratusan ribu warga Teheran mengungsi mencari perlindungan. Warga Israel harus terbiasa hidup dengan alarm serangan yang bisa berbunyi kapan saja, siang atau malam. Ada korban jiwa di kedua belah pihak termasuk warga sipil yang sama sekali tidak terlibat dalam pengambilan keputusan politik atau militer apa pun.

Di tengah semua itu, muncul kisah-kisah yang jarang diberitakan media besar: orang-orang yang tetap berdoa di tengah reruntuhan, komunitas yang saling membantu meski dalam ketakutan, dan kesaksian iman yang bertumbuh justru di titik paling gelap. Saya percaya, kisah-kisah seperti ini bukan kebetulan. Mazmur 46:2 menuliskan bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong yang sangat terbukti dalam kesesakan.

Ilustrasi siluet keluarga pengungsi berjalan menuju cahaya harapan, menggambarkan perlindungan Tuhan di tengah krisis perang

Ayat itu bukan slogan indah untuk ditempel di dinding. Ayat itu ditulis oleh orang yang benar-benar pernah merasakan dunia di sekitarnya runtuh.

Kalau Anda ingin membaca lebih dalam bagaimana campur tangan Tuhan hadir dalam sejarah Israel secara langsung, saya pernah menulis renungan tentang bagaimana Tuhan menuntun Israel selama 40 tahun secara langsung di padang gurun. Pola yang sama Tuhan yang setia di tengah krisis rasanya terus berulang sepanjang sejarah bangsa ini.

Bukan Kebetulan, Tapi Juga Bukan Ramalan Pasti

Saya perlu jujur soal satu hal: saya tidak akan berpura-pura tahu persis apa makna nubuatan dari perang ini, atau apakah ini "tanda akhir zaman" seperti yang ditanyakan saudara saya di grup WhatsApp itu. Terlalu banyak orang termasuk sebagian pengkhotbah yang tergoda untuk memetakan setiap konflik Timur Tengah ke dalam kalender akhir zaman versi mereka sendiri, lalu kecewa atau malah menyesatkan orang lain ketika prediksi itu meleset.

Yang saya yakini justru lebih sederhana dan lebih kokoh dari sekadar tebak-tebakan nubuatan: Tuhan berdaulat atas sejarah. Titik. Baik Iran maupun Israel, baik Amerika Serikat maupun negara-negara Teluk yang mencoba menjadi penengah semuanya bergerak dalam batas yang, entah mereka sadari atau tidak, tetap berada di bawah kedaulatan Tuhan yang mengatur zaman dan waktu.

Ini juga mengingatkan saya pada tema besar tentang bagaimana Alkitab mencatat asal mula bangsa-bangsa dan sejarah dunia sejak awal. Kalau Anda tertarik menelusuri lebih jauh soal ini, saya sarankan membaca asal-usul Kitab Kejadian yang mengungkap misteri penciptaan karena sejarah bangsa-bangsa yang kita saksikan hari ini sebenarnya berakar jauh dari sana.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan Sebagai Orang Percaya?

Ini pertanyaan yang saya ajukan ke diri saya sendiri setiap kali membaca berita perang seperti ini. Dan saya rasa jawabannya bukan sekadar "berdoa untuk Israel" seperti template doa yang sering kita dengar di gereja tanpa benar-benar merenungkannya.

Beberapa hal yang saya coba pegang:

  • Berdoa untuk semua pihak yang menderita, bukan hanya satu bangsa saja. Warga sipil Iran yang mengungsi juga adalah gambar dan rupa Allah, sama seperti warga Israel yang bersembunyi di bawah tanah.
  • Tidak menjadikan perang ini bahan spekulasi tanpa dasar. Alkitab memang berbicara banyak tentang bangsa-bangsa, tapi itu bukan izin untuk membuat tafsiran sembarangan demi konten viral.
  • Menjadi pembawa damai di lingkungan kita sendiri, sekecil apa pun itu. Yesus berkata dalam Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." Ayat ini tidak hanya berlaku untuk diplomat PBB tapi juga untuk kita yang mungkin sedang berselisih dengan tetangga, rekan kerja, atau bahkan keluarga sendiri.

Saya juga pernah menulis soal ayat-ayat Alkitab yang digunakan sebagai kode oleh agen Mossad dalam operasi mereka ini menarik untuk dibaca kalau Anda penasaran bagaimana iman dan sejarah bangsa Israel modern ini saling bersinggungan dengan cara yang tidak terduga. Anda bisa baca renungannya di sini: makna ayat Alkitab yang digunakan agen Mossad. Ada juga renungan tentang Israel sebagai "jamnya Tuhan" yang mungkin bisa memperkaya perspektif Anda soal topik ini.

Kesimpulan

Perang Iran-Israel 2025 yang kemudian dikenal dunia sebagai Twelve-Day War dimulai 13 Juni dan berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni. Dua belas hari yang mengguncang kawasan Timur Tengah, menyeret kekuatan-kekuatan besar dunia, menaikkan harga minyak global, dan yang terpenting, menimbulkan penderitaan nyata bagi rakyat sipil di kedua belah pihak.

Tapi di balik semua kecanggihan senjata, kalkulasi geopolitik, dan angka-angka statistik korban, ada satu kebenaran yang tidak pernah berubah: Tuhan tetap berdaulat atas sejarah bangsa-bangsa. Bukan berarti Dia menghendaki kekerasan, tapi Dia tidak pernah kehilangan kendali bahkan ketika dunia terlihat begitu kacau di mata kita.

Pesan Pengutusan

Kalau hari ini hati Anda gelisah membaca berita dunia yang penuh perang dan ketidakpastian, izinkan saya mengingatkan satu ayat yang selalu saya pegang,  Mazmur 46:11  : 

”Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” 

Tuhan tidak sedang panik melihat berita yang membuat kita panik. Dia sudah lebih dulu berdiri di titik akhir dari setiap peristiwa yang belum kita lihat ujungnya.

Di tengah dentuman senjata dan ketakutan bangsa-bangsa, takhta-Nya tidak pernah goyah dan damai sejahtera-Nya sedang menuju kepada mereka yang tetap berharap kepada-Nya, bahkan di hari-hari yang paling gelap sekalipun.

Ilustrasi matahari terbit dengan pohon zaitun dan burung merpati sebagai simbol damai sejahtera Tuhan setelah perang

Saya jadi ingin tahu, bagaimana dengan Anda? Apakah berita perang seperti ini membuat iman Anda goyah, atau justru semakin diteguhkan bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar? Saya sendiri masih dalam proses bergumul dengan pertanyaan ini setiap kali membuka berita pagi. Yuk, ceritakan pandangan Anda di kolom komentar saya benar-benar ingin tahu.


Tentang Penulis

Akang Loger Penulis dan blogger Kristen sejak 2021, menulis renungan seputar iman, sejarah, dan pergumulan hidup sehari-hari dari sudut pandang Alkitab. Selengkapnya bisa dilihat di profil penulis.

0Comments