Papua Lebih dari Sekadar Angka
Pada hari pertama kedatangan, peserta sidang disambut dengan hangat oleh panitia lokal bersama gereja-gereja setempat. Sapaan khas dalam bahasa Marin, "Namuk namek entago? Waninggap kah!" mengiringi kedatangan mereka. Sebuah pengalaman yang penuh dengan kearifan lokal dan semangat persaudaraan oikoumenis sebuah roh yang hidup dalam pertemuan gereja-gereja se-Indonesia. Rangkaian kegiatan dimulai dengan sambutan budaya yang memperkenalkan para peserta pada konteks sosial dan budaya setempat.
Namun, lebih dari sekadar perjalanan dan acara seremonial, PGI ingin mengajak peserta untuk merasakan realitas yang ada di Papua secara langsung. Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputy, menjelaskan bahwa sidang ini bukan hanya menjadi forum tahunan untuk mengevaluasi pelayanan gereja, tetapi juga menjadi ruang bagi gereja untuk merenungkan isu-isu besar yang dihadapi bangsa, termasuk masalah kebangsaan, ekologi, lingkungan, dan tentu saja, Papua.
Merauke jadi Lokasi yang Penuh Makna
Pemilihan Merauke sebagai tempat sidang bukan tanpa alasan. Bagi PGI, Merauke adalah simbol dari Papua itu sendiri sebuah wilayah dengan keindahan alam yang luar biasa, namun penuh tantangan. Pdt. Manuputy berharap para peserta sidang, terutama yang berasal dari kota-kota besar, bisa merasakan dan memahami langsung pergumulan yang dihadapi oleh masyarakat Papua. "Kita ingin teman-teman gereja di kota bisa mengalami perjumpaan langsung dengan Papua, melihat isu-isu dan pergumulan Papua baik manusianya maupun tanahnya. Ini menjadi pergumulan besar, bukan hanya bagi Papua, tetapi bagi gereja-gereja di Indonesia," katanya.
Papua Dalam Perspektif Gereja
Pentingnya suara gereja-gereja di Papua dan masyarakat adat dalam sidang ini ditekankan oleh Pdt. Manuputy. Dalam sidang MPL PGI 2026, suara mereka akan didengar dan diperhitungkan dalam merumuskan rekomendasi yang bermanfaat. PGI ingin memastikan bahwa pandangan dan aspirasi masyarakat Papua, serta masyarakat adat, dapat turut serta dalam memperkaya hasil sidang.
Pdt. Manuputy berharap setiap peserta sidang dapat kembali ke tempat asal mereka dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang Papua. "Banyak peserta mungkin belum pernah sampai ke Papua. Dengan hadir langsung, mereka bisa mengalami pergumulan Papua sebagai pergumulan bersama gereja-gereja di Indonesia. Narasi media kadang berbeda dengan realitas di lapangan, dan kita berharap peserta mendengar narasi lokal secara langsung," tutupnya.
FAQ/Pertanyaan yang sering diajukan:
Kesimpulan dan Pesan Pengutusan
Sidang MPL PGI 2026 di Merauke merupakan sebuah momen penting dalam perjalanan gereja-gereja di Indonesia. Bukan hanya sebagai forum evaluasi, tetapi juga sebagai sarana untuk merenungkan realitas Papua yang tidak boleh hanya dipandang sebagai angka atau statistik belaka. Sebagai umat Kristen, kita diingatkan untuk memiliki perhatian dan kasih yang lebih terhadap sesama, terutama mereka yang berada di wilayah-wilayah yang sering kali terlupakan oleh dunia luar.
Sebagai pesan pengutusan, mari kita bersama-sama menjalankan peran kita sebagai garam dan terang dunia, membawa kasih dan pengharapan kepada setiap sudut tanah Papua, sebagaimana kita diperintahkan dalam Matius 5:14 :
"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."
Mari terus bergerak, memperjuangkan keadilan dan kasih untuk semua, tanpa terkecuali - (pr)**
Source: pgi.or.id (28/01/2026); Writer: penarohani; Editor: penaRadmin.
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2026 All Right Reserved - Designed by penarohani


0Comments