Saya kira banyak dari kita, terutama yang dibesarkan di lingkungan gereja, punya "gudang" pengetahuan Alkitab yang sebenarnya cukup lengkap. Kita tahu Sepuluh Perintah Allah. Kita tahu kisah Nuh, Abraham, Musa. Tapi entah kenapa, tahu saja ternyata tidak otomatis membuat kita berubah. Ada jarak antara kepala dan hati, antara mimbar dan dapur rumah tangga kita sehari-hari.
Kisah Raja Yosia dalam 2 Raja-raja 23:1-18 menurut saya adalah salah satu bacaan paling jujur soal ini di seluruh Perjanjian Lama. Dan kebetulan, saat gereja-gereja kita termasuk lingkungan GMIT sedang merayakan Bulan Pendidikan, kisah ini terasa sangat pas untuk direnungkan bersama.
Latar Belakang yang Sering Terlewat
Sebelum masuk ke pasal 23, kita perlu mundur sedikit ke pasal 22. Di sana diceritakan bahwa Imam Hilkia menemukan sebuah kitab kemungkinan besar bagian dari Kitab Ulangan yang sudah lama terkubur dan terlupakan di dalam bait Allah. Bayangkan itu. Firman Tuhan, ada di dalam rumah Tuhan sendiri, tapi hilang dari perhatian umat-Nya selama bertahun-tahun.
Ketika kitab itu dibacakan kepada Raja Yosia, responsnya bukan sekadar mengangguk-angguk. Ia mengoyakkan pakaiannya. Ia menangis. Ia menyadari betapa jauhnya bangsa itu telah melenceng dari apa yang seharusnya mereka jalani.
Saya sering berpikir, seandainya Yosia hanya membaca kitab itu lalu menaruhnya kembali di rak seperti kita kadang memperlakukan Alkitab kita sendiri cerita ini tidak akan pernah masuk ke dalam catatan sejarah sebagai salah satu reformasi rohani terbesar dalam sejarah Israel.
Ketika Pengetahuan Berubah Menjadi Tindakan
Nah, di sinilah pasal 23 dimulai, dan di sinilah letak inti pelajarannya bagi saya pribadi.
Ayat 1-2 mencatat bahwa Yosia tidak menyimpan penemuan ini untuk dirinya sendiri. Ia mengumpulkan seluruh tua-tua Yehuda dan Yerusalem, lalu membacakan kitab itu di hadapan mereka semua dari yang kecil sampai yang besar. Ini bukan pengetahuan elit yang hanya dimiliki segelintir orang pintar di istana. Ini pengetahuan yang dibagikan, disebarkan, diajarkan.
Kalau boleh jujur, ini mengingatkan saya pada semangat Bulan Pendidikan yang sedang kita rayakan. Pendidikan iman Kristen sejatinya bukan tentang menyimpan kebenaran untuk kalangan tertentu saja, melainkan menurunkannya dari generasi tua ke generasi muda, dari yang mengerti kepada yang baru belajar. Saya sempat menulis lebih dalam soal ini di Wariskan Iman, Bukan Sekedar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan, kalau Anda ingin membaca lebih jauh soal tanggung jawab mendidik generasi berikutnya.
Setelah kitab itu dibacakan, ayat 3 mencatat sesuatu yang menurut saya luar biasa: raja berdiri dekat tiang, lalu mengikat perjanjian di hadapan TUHAN, untuk mengikuti TUHAN dan berpegang pada perintah-perintah-Nya dengan segenap hati dan segenap jiwa. Dan seluruh rakyat turut serta dalam perjanjian itu.
Ini bukan komitmen basa-basi. Ini keputusan publik, terbuka, dan berani.
Membersihkan yang Kotor, Sekalipun Sudah Lama Ada
Bagian berikutnya (ayat 4-14) barangkali adalah bagian yang paling "kasar" secara narasi, tapi menurut saya justru paling jujur soal bagaimana perubahan sejati itu bekerja.
Yosia tidak berhenti pada air mata dan janji. Ia bertindak. Ia memerintahkan agar segala perkakas berhala dikeluarkan dari bait TUHAN dan dibakar. Ia menyingkirkan imam-imam berhala. Ia meruntuhkan tempat-tempat pelacuran bakti di bait Allah. Ia menajiskan Tofet supaya tidak ada lagi yang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban bagi Molokh sebuah praktik yang mengerikan jika kita bayangkan konteksnya.
Ia bahkan menghancurkan mezbah-mezbah yang sudah dibangun sejak zaman Salomo, ratusan tahun sebelumnya. Bayangkan tingkat keberanian yang dibutuhkan untuk itu meruntuhkan sesuatu yang sudah dianggap "wajar" dan "biasa" selama generasi, hanya karena ia sekarang tahu itu salah di hadapan Tuhan.
Saya pikir di sinilah letak kesulitan sebenarnya bagi kita hari ini. Mengetahui kebenaran itu satu hal. Tapi membongkar kebiasaan lama, pola pikir yang sudah mengakar, atau bahkan struktur dalam hidup kita yang sudah kita anggap normal itu jauh lebih berat. Yosia menunjukkan bahwa perubahan sejati sering kali menuntut kita meruntuhkan sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa membangun yang baru.
Dalam konteks pendidikan iman, saya rasa ini relevan sekali. Kadang pendidikan Kristen yang sejati justru dimulai dari keberanian mengoreksi apa yang selama ini kita anggap "sudah begitu adanya" dalam keluarga, dalam kebiasaan bergereja, bahkan dalam cara kita mendidik anak-anak kita.
Perayaan Paskah yang Terlupakan
Ada satu detail kecil di ayat 21-23 (yang menyambung dari bagian yang kita baca) yang sering luput dari perhatian: setelah semua pembersihan itu, Yosia memerintahkan umat merayakan Paskah dan disebutkan bahwa perayaan seperti itu tidak pernah terjadi sejak zaman para hakim memerintah Israel.
Bayangkan itu. Sebuah tradisi, sebuah perintah Tuhan yang jelas, terlupakan begitu lama sampai tidak ada seorang pun yang ingat cara merayakannya dengan benar. Ini menjadi pengingat keras bagi saya bahwa kebenaran yang tidak diajarkan secara konsisten dari generasi ke generasi bisa hilang sepenuhnya bahkan di tengah bangsa yang mengaku umat pilihan Tuhan.
Ini juga alasan kenapa saya percaya pendidikan iman itu bukan sekadar program tambahan gereja, melainkan napas hidup dari iman itu sendiri. Kalau Anda tertarik menelusuri tokoh-tokoh Alkitab lain yang berperan dalam pendidikan umat, saya pernah menuliskannya di Tokoh Pendidikan dalam Alkitab yang Menginspirasi.
Tabel Ringkasan: Dari Penemuan Sampai Perubahan
Supaya lebih mudah dilihat alurnya, saya coba rangkum tahapan yang dilalui Yosia dalam tabel sederhana berikut. Tapi seperti biasa, angka dan poin ini hanya kerangka makna sesungguhnya ada di balik setiap tahap itu, yang sudah kita bahas di atas.
| Tahap | Apa yang Terjadi | Makna bagi Kita Hari Ini |
| Penemuan Kitab | Kitab Taurat ditemukan kembali di bait Allah | Firman Tuhan bisa "hilang" dari perhatian kita meski secara fisik dekat |
| Respons Hati | Yosia mengoyak pakaian, menangis, merendahkan diri | Kebenaran sejati mula-mula menyentuh hati, bukan sekadar otak |
| Perjanjian Publik | Raja dan rakyat mengikat perjanjian di hadapan TUHAN | Iman perlu keputusan yang diucapkan dan dinyatakan, bukan disimpan diam-diam |
| Pembersihan | Berhala, mezbah asing, praktik cabul disingkirkan | Perubahan nyata menuntut keberanian membongkar yang lama |
| Perayaan Paskah | Tradisi lama yang terlupakan dirayakan kembali | Kebenaran yang diajarkan ulang memulihkan identitas umat |
Saya sengaja tidak membuat tabel ini terlalu panjang, karena menurut saya kisah Yosia ini terlalu kaya untuk direduksi jadi daftar poin saja.
Kaitannya dengan Bulan Pendidikan yang Kita Rayakan
Kenapa saya memilih membahas kisah ini justru di tengah masa raya Bulan Pendidikan? Karena bagi saya, inti pendidikan Kristen yang sejati sebenarnya persis seperti yang dialami Yosia: proses dari mengetahui menuju mengalami perubahan.
Kita sering mengukur keberhasilan pendidikan iman dari seberapa banyak ayat yang dihafal anak-anak sekolah minggu, atau seberapa lancar seorang katekisan menjawab pertanyaan doktrin. Tapi kisah Yosia mengingatkan saya bahwa ukuran sejati pendidikan bukan seberapa banyak yang kita tahu, melainkan seberapa jauh pengetahuan itu mengubah cara kita hidup, memperlakukan sesama, dan menyembah Tuhan.
Saya juga percaya, pendidikan iman yang benar selalu mengajak kita menengok ke belakang untuk belajar sebagaimana pernah saya tuliskan di Belajar dari Masa Lalu: Pelajaran Berharga untuk Masa Depan. Yosia sendiri hanya bisa melakukan reformasi besar itu karena ia mau belajar dari kitab lama yang nyaris terlupakan.
Refleksi Pribadi: Kitab yang "Hilang" di Rumah Saya Sendiri
Saya pribadi ingat betul masa ketika Alkitab di rumah saya lebih sering menjadi pajangan daripada bacaan harian. Bukan karena tidak percaya, tapi karena kesibukan, karena rutinitas yang menggerus waktu teduh, sampai akhirnya firman itu "terkubur" persis seperti kitab yang ditemukan Hilkia di bait Allah.
Titik baliknya datang justru dari momen sederhana: sebuah renungan pagi yang saya baca tanpa sengaja, yang membuat saya menangkap kembali betapa jauh saya sudah melenceng dari komitmen awal iman saya. Rasanya seperti Yosia kecil-kecilan di ruang tamu sendiri bukan mengoyak pakaian, tapi mengoyak kesombongan bahwa saya sudah "cukup tahu" soal iman.
Dari situ saya belajar, mengetahui kebenaran itu selalu punya konsekuensi. Kalau kita benar-benar sadar akan kebenaran, respons yang wajar bukan sekadar "oh, menarik", tapi perubahan konkret entah itu memperbaiki hubungan yang rusak, membuang kebiasaan yang selama ini kita permaklumkan, atau kembali membangun disiplin rohani yang sempat kita tinggalkan.
Saya kira ini juga jadi alasan kenapa ketekunan itu begitu penting dalam perjalanan iman. Kalau Anda ingin membaca lebih dalam soal ini, saya pernah menulis renungan lain berjudul Bertekun dan Mengandalkan Tuhan, yang menurut saya masih nyambung dengan tema perubahan hidup yang kita bahas hari ini.
Bukan Perubahan Instan, Tapi Proses yang Berani
Satu hal yang perlu kita sadari: reformasi Yosia bukan proses semalam. Ini melibatkan seluruh bangsa, butuh keberanian politik dan rohani yang besar, dan pastinya menemui banyak penolakan dari mereka yang sudah nyaman dengan sistem lama.
Saya kira ini realistis untuk kita renungkan. Perubahan hidup karena mengetahui kebenaran jarang terjadi secara instan. Kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar melepaskan kebiasaan lama, memperbaiki pola pikir yang keliru, atau membangun kembali sesuatu yang sudah lama runtuh dalam hidup rohani kita.
Yang penting bukan seberapa cepat kita berubah, tapi apakah kita mau memulai seperti Yosia yang memulai dari air mata dan pertobatan, lalu berlanjut ke tindakan nyata yang berani.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Kisah Ini
Kenapa Yosia menangis saat mendengar kitab Taurat dibacakan? Karena ia menyadari betapa jauhnya bangsa itu telah melenceng dari perintah Tuhan, dan ia merasakan beban tanggung jawab sebagai pemimpin yang harus membawa perubahan.
Apa hubungan kisah Yosia dengan pendidikan Kristen zaman sekarang? Kisah ini menunjukkan bahwa pendidikan iman sejati tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus sampai pada perubahan sikap dan tindakan nyata persis seperti yang seharusnya terjadi dalam pengajaran iman kepada generasi muda kita.
Apakah reformasi Yosia berhasil sepenuhnya mengubah bangsa Israel? Sayangnya tidak permanen. Beberapa pasal setelahnya menunjukkan bahwa generasi berikutnya kembali menyimpang. Ini justru mengingatkan kita bahwa pendidikan iman perlu diteruskan terus-menerus, bukan cukup sekali saja.
Bagaimana cara menerapkan semangat 2 Raja-raja 23 dalam hidup sehari-hari? Mulai dengan jujur mengevaluasi area hidup yang masih jauh dari kebenaran Tuhan, lalu berani mengambil langkah konkret untuk berubah sekecil apa pun langkah itu, seperti kembali membangun waktu teduh atau memperbaiki relasi yang renggang.
Kesimpulan
Kisah Raja Yosia dalam 2 Raja-raja 23:1-18 mengajarkan kita bahwa mengetahui kebenaran adalah langkah awal, tapi perubahan hidup adalah tujuan sesungguhnya. Dari penemuan kitab yang terlupakan, Yosia bergerak menuju penyesalan yang tulus, perjanjian yang terbuka, pembersihan yang berani, hingga pemulihan tradisi ibadah yang sudah lama hilang. Semua ini relevan dengan semangat Bulan Pendidikan yang kita rayakan bahwa pendidikan iman sejati selalu menuntun kita dari kepala ke hati, dari pengetahuan ke tindakan.
Pesan Pengutusan
Saudara-saudari terkasih, marilah kita tidak puas hanya menjadi umat yang tahu banyak ayat, tetapi jadilah umat yang berani berubah karena kebenaran yang kita ketahui. Seperti firman Tuhan dalam Yohanes 8:32, "dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Biarlah kebenaran itu bukan hanya menambah pengetahuan kita, tetapi benar-benar memerdekakan dan mengubah cara kita hidup setiap hari.
Bangsa yang kembali menemukan firman-Nya yang terkubur, akan bangkit menjadi generasi yang membawa pemulihan bagi zamannya.
Saya percaya setiap orang punya momen "menemukan kitab yang hilang" dalam perjalanan imannya masing-masing momen ketika kebenaran yang selama ini kita ketahui tiba-tiba menampar kesadaran kita untuk berubah. Saya sendiri mengalaminya lewat sebuah pagi yang sederhana, tapi mengubah banyak hal dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda kapan terakhir kali kebenaran benar-benar mengubah cara Anda hidup? Yuk, bagikan pengalaman Anda di kolom komentar.
Dan kalau Anda punya pandangan berbeda soal bagian mana dari kisah Yosia ini yang paling menantang untuk diterapkan, saya juga sangat ingin dengar mari berdiskusi bersama.
Tentang Penulis
Akang Loger adalah penulis dan blogger Kristen sejak 2021, menulis berbagai renungan dan refleksi iman dengan harapan dapat menjadi berkat bagi pembaca dari berbagai latar belakang gereja. Kunjungi profil lengkapnya di yakangbioprofil



0Comments