TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Wariskan Iman, bukan Sekedar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan

Wariskan Iman, bukan Sekedar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan

Wariskan Iman, bukan Sekedar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan – renungan Ulangan 6:1-9 soal tanggung jawab iman dalam keluarga Kristen.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Wariskan Iman, bukan Sekedar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan

Renungan Minggu, Pena Rohani - Peran Orangtua dalam Pendidikan - Ada satu pertanyaan yang sering muncul di kepala saya setiap kali menghadiri kebaktian Bulan Pendidikan: kalau anak saya besar nanti, apa yang akan mereka ingat dari saya? Nama keluarga yang saya jaga baik-baik? Gelar yang saya kejar setengah mati? Atau iman yang saya hidupi setiap hari, bahkan waktu tidak ada yang melihat?

Pertanyaan itu tidak enak. Tapi justru karena tidak enak, saya rasa penting untuk kita duduk dan merenungkannya bersama, terutama di bulan yang oleh GMIT ditetapkan sebagai Bulan Pendidikan ini.

Dan saya percaya, jawabannya sudah lama dituliskan bukan oleh motivator pendidikan modern, tapi oleh Musa, ribuan tahun lalu, kepada umat Israel yang baru saja mau memasuki Tanah Perjanjian.

Ulangan 6:1-9: Bukan Sekadar Perintah, Tapi Warisan

Coba kita baca ulang bagian ini pelan-pelan:

"Dengarlah, hai orang Israel! TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu... Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu..." (Ulangan 6:4-7, disarikan)

Yang menarik, perintah ini tidak diberikan kepada guru agama, bukan juga kepada pendeta atau lembaga pendidikan. Perintah ini diberikan langsung kepada orangtua. Kepada bapak dan ibu di rumah tangga biasa, yang sehari-harinya sibuk dengan ladang, ternak, dan urusan rumah.

Musa tahu satu hal yang sering kita lupakan: iman tidak diwariskan lewat institusi. Iman diwariskan lewat rumah tangga.

Ini yang menurut saya sering terlewat kalau kita hanya membaca ayat ini secara sepintas. Kita cenderung berpikir, "Ah, itu urusan sekolah minggu," atau "Nanti kalau sudah besar, dia akan mengerti sendiri." Tapi Ulangan 6 tidak memberi ruang untuk delegasi semacam itu. Tanggung jawab itu ada di pundak orangtua, titik.

Ketika "Nama Baik" Menggantikan "Iman yang Hidup"

Saya ingin jujur soal satu hal yang cukup menohok buat saya pribadi. Ada masa di mana saya lebih sibuk memikirkan bagaimana anak saya terlihat baik di depan orang sopan, berprestasi, rapi bajunya ke gereja dibanding memikirkan apakah dia benar-benar mengenal Tuhan yang ia sembah.

Dan saya rasa saya tidak sendirian. Banyak keluarga Kristen, termasuk di lingkungan GMIT, tanpa sadar mewariskan status, bukan iman. Kita ingin anak menyandang nama keluarga yang terhormat. Kita ingin mereka jadi kebanggaan di kampung, di jemaat, di sekolah. Itu wajar, tidak salah.

Tapi kalau itu satu-satunya yang kita kejar, kita sedang menyiapkan generasi yang tahu nama Tuhan, tapi tidak mengenal Tuhan.

Perbedaannya besar sekali. Anak yang hanya tahu nama Tuhan akan goyah begitu menghadapi krisis kehilangan, kegagalan, godaan dunia yang makin keras. Tapi anak yang benar-benar mengenal Tuhan, yang imannya "tertulis di hati" seperti kata Ulangan 6:6, punya akar yang tidak mudah dicabut angin.

Tiga Gerakan dalam Ulangan 6:1-9 yang Masih Relevan Sampai Sekarang

Tiga Gerakan dalam Ulangan 6:1-9 yang Masih Relevan Sampai Sekarang

Kalau saya perhatikan lebih dalam, ada semacam pola bergerak dalam teks ini dari dalam ke luar. Saya bagi jadi tiga bagian sederhana, bukan sebagai daftar kaku, tapi sebagai cara memahami urutannya.

1. Iman itu dulu tinggal di hati orangtua sendiri

Ayat 6 bilang, "apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan." Kata "engkau" di sini penting. Sebelum bicara soal anak, Musa dulu bicara soal orangtua itu sendiri.

Ini poin yang paling sering saya lewatkan sebagai orangtua. Kita terlalu cepat lompat ke "bagaimana caranya mendidik anak," padahal pertanyaan yang lebih dulu harus dijawab adalah: apakah imanku sendiri hidup, atau cuma rutinitas?

Anak-anak, entah kenapa, punya radar yang tajam untuk hal ini. Mereka bisa membedakan mana doa yang keluar dari hati dan mana yang cuma formalitas sebelum makan.

2. Iman itu diajarkan berulang-ulang, bukan sekali seumur hidup

Ayat 7 memakai kata yang dalam bahasa Ibraninya punya nuansa "diulang-ulang", "diasah terus", seperti mengasah pisau di batu asahan. Bukan sekali ceramah panjang lalu selesai.

Ini menantang cara pikir kita yang serba instan. Kita sering berharap satu kali kebaktian keluarga, satu kali retreat remaja, sudah cukup membentuk iman anak seumur hidup. Padahal firman ini justru menuntut pengulangan di rumah, di jalan, waktu berbaring, waktu bangun.

Artinya, mendidik iman itu bukan program, tapi gaya hidup harian.

3. Iman itu terlihat, bukan cuma diucapkan

Ayat 8-9 berbicara soal tanda di tangan, di dahi, di tiang pintu. Bangsa Israel kemudian memaknainya secara literal lewat tefilin dan mezuzah. Tapi maknanya lebih dalam dari sekadar simbol fisik: iman itu harus kelihatan dalam cara kita hidup, bukan hanya terucap di mulut.

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat orangtuanya lakukan, ketimbang dari apa yang orangtuanya katakan.

Belajar dari Kisah yang Sering Terlewat

Saya jadi ingat sebuah kisah yang pernah saya dengar dari seorang guru sekolah minggu di kampung. Ada seorang anak yang selalu hafal ayat, selalu juara lomba menghafal Alkitab, tapi ketika ditanya "kamu berdoa untuk apa hari ini?", dia bingung menjawab. Sebaliknya, ada anak lain yang tidak pandai menghafal, tapi begitu polos berkata, "aku berdoa supaya Bapak tidak marah-marah lagi di rumah, karena tadi malam Bapak berdoa juga sama aku sebelum tidur."

Anak kedua ini, meski tidak juara lomba, sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting: iman yang hidup dalam keseharian rumah tangganya.

Saya tidak sedang bilang menghafal ayat itu tidak penting. Sama sekali tidak. Tapi kalau hafalan itu berdiri sendiri tanpa teladan hidup di rumah, dia hanya jadi informasi, bukan iman yang berakar.

Kenapa Ini Penting Sekali di Konteks Pendidikan Kristen GMIT

Bulan Pendidikan sering kita rayakan dengan semangat memuji dunia pendidikan, mendoakan guru, mendoakan sekolah-sekolah Kristen. Itu baik dan memang harus. Tapi Ulangan 6 mengingatkan kita untuk tidak berhenti di situ.

Pendidikan iman yang sesungguhnya tidak bisa dioutsourcing sepenuhnya ke sekolah, ke gereja, atau ke sekolah minggu meski ketiganya sangat berperan. Rumah tangga tetap menjadi ruang kelas utama, dan orangtua tetap menjadi guru pertama yang dilihat langsung oleh anak setiap hari.

Ini juga relevan ketika kita bicara soal tantangan dunia pendidikan hari ini, termasuk isu-isu seperti ketimpangan yang masih terjadi di lapangan pendidikan kita. Sistem boleh belum sempurna, tapi rumah tangga Kristen tetap punya panggilan yang tidak tergantung pada sistem itu mewariskan iman.

Kalau ingin melihat lebih jauh bagaimana tokoh-tokoh Alkitab menghidupi peran mendidik generasi berikutnya, ada baiknya membaca juga refleksi tentang tokoh-tokoh pendidikan dalam Alkitab yang menginspirasi. Banyak dari mereka justru mendidik lewat kehidupan sehari-hari, bukan lewat mimbar besar.

Tabel Sederhana: Mewariskan Nama vs Mewariskan Iman

Supaya lebih jelas, saya coba bandingkan dua orientasi ini dalam tabel kecil. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tapi untuk bahan refleksi pribadi kita masing-masing.

FokusMewariskan NamaMewariskan Iman
Tujuan utamaStatus, reputasi keluargaHubungan pribadi dengan Tuhan
Ukuran keberhasilanPrestasi, gelar, jabatanKarakter dan ketaatan pada firman
Cara mendidikInstruksi sesekali, dorongan prestasiPengulangan harian, teladan hidup
Yang terlihat anakEkspektasi sosialDoa, kejujuran, kasih yang konsisten

Tapi tabel ini juga tidak bisa berdiri sendiri. Realitanya, banyak keluarga termasuk keluarga saya berada di antara dua kutub ini, tidak murni di satu sisi. Dan itu manusiawi. Yang penting adalah ke mana arah kecenderungan kita, dan apakah kita mau terus dikoreksi firman Tuhan.

Kalau ingin merenungkan lebih dalam soal bagaimana pengalaman masa lalu bisa jadi pelajaran untuk pendidikan iman ke depan, saya juga pernah menulis soal belajar dari masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk masa depan yang bisa jadi pelengkap renungan ini.

Bagaimana Orangtua Bisa Mulai Hari Ini?

Saya tidak mau menutup bagian ini dengan daftar "5 langkah mendidik anak beriman" yang terlalu rapi dan terasa seperti brosur seminar. Tapi ada beberapa hal sederhana yang, dari pengalaman banyak keluarga di jemaat, cukup nyata dampaknya:

  • Mulai dari doa yang jujur, bukan doa yang "kedengaran rohani" di depan anak.
  • Ajak anak bicara soal Tuhan waktu situasi biasa di meja makan, di motor pulang sekolah bukan hanya waktu ibadah keluarga.
  • Biarkan anak melihat orangtua minta maaf ketika salah. Ini mengajarkan kejujuran iman lebih dari seribu nasihat.
  • Rayakan pertumbuhan karakter anak, bukan cuma nilai rapor atau piala lomba.

Poin-poin ini tidak berdiri sebagai formula ajaib. Tetap butuh proses, kadang gagal, kadang harus diulang lagi besok. Tapi itulah persisnya makna "mengajarkan berulang-ulang" dalam Ulangan 6:7.

Renungan lain yang juga menyentuh tema keluarga dan pendidikan iman bisa dibaca di renungan harian Kristen tentang pentingnya pendidikan dalam keluarga dan renungan Bulan Pendidikan tentang menjadi duta yang mendidik.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Topik Ini

Kenapa Ulangan 6:1-9 selalu dibaca di Bulan Pendidikan? Karena teks ini secara langsung berbicara soal tanggung jawab mendidik generasi berikutnya dalam iman, bukan cuma soal pengetahuan agama. Ini jadi dasar teologis yang kuat untuk tema pendidikan Kristen.

Apakah ini berarti sekolah dan gereja tidak penting? Tidak. Sekolah dan gereja tetap sangat penting sebagai mitra. Tapi Ulangan 6 menegaskan bahwa tanggung jawab utama tetap ada di rumah tangga, bukan didelegasikan seluruhnya.

Bagaimana kalau saya merasa gagal sebagai orangtua dalam hal ini? Ini pertanyaan yang jujur, dan banyak orangtua merasakannya, termasuk saya sendiri di beberapa fase hidup. Firman ini bukan untuk menghakimi, tapi mengundang kita mulai lagi, hari ini, dari yang sederhana.

Apa hubungan topik ini dengan "wariskan iman, bukan sekadar nama"? Nama baik keluarga akan berlalu seiring waktu, tapi iman yang diwariskan dengan benar akan terus hidup lewat generasi berikutnya, bahkan setelah kita tidak ada.

Kesimpulan

Ulangan 6:1-9 mengingatkan kita bahwa pendidikan iman dimulai dari rumah, dihidupi lebih dulu oleh orangtua, diajarkan berulang-ulang setiap hari, dan terlihat nyata dalam tindakan bukan hanya diucapkan. Mewariskan nama baik itu penting, tapi tidak cukup. Yang kekal adalah iman yang benar-benar tertanam di hati generasi berikutnya.

Generasi yang mengenal Tuhan bukan sekadar nama-Nya

Pesan edukasi: Pendidikan iman bukan proyek jangka pendek dia butuh konsistensi harian dan keteladanan nyata, jauh lebih dari sekadar teori atau hafalan.

Pesan pengutusan: Sebagai orangtua dan pendidik Kristen, kita dipanggil untuk hidup lebih dulu sebelum mengajar. "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu... dan haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu" (Ulangan 6:5,7).

Kalimat profetik: Generasi yang mengenal Tuhan bukan lewat nama, tapi lewat rumah tangga yang hidup dalam firman-Nya, akan menjadi terang yang tidak padam meski zaman berubah.

Saya sendiri masih belajar soal ini setiap hari, dan sering jatuh-bangun dalam menerapkannya di rumah. Bagaimana dengan Anda? Apa satu hal sederhana yang orangtua Anda wariskan dalam iman, yang sampai sekarang masih Anda ingat? Yuk bagikan di kolom komentar siapa tahu ceritanya bisa menguatkan orangtua lain yang membaca.


Tentang Penulis

Akang Loger - Penulis dan blogger Kristen sejak 2021, menulis dari pergumulan dan refleksi sehari-hari sebagai bagian dari perjalanan iman. Kunjungi profil lengkap di DISINI

0Comments