TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Penginjilan Mandeg? Mungkin Masalahnya Ada di Internal Gereja

Penginjilan Mandeg? Mungkin Masalahnya Ada di Internal Gereja

Penginjilan mandeg bukan selalu soal dunia luar. Simak refleksi tentang masalah internal gereja yang diam-diam menghambat pekabaran Injil.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Suasana rapat majelis gereja yang reflektif, menggambarkan dinamika internal yang memengaruhi penginjilan

Kesaksian, Pena Rohani - Masalahnya Ada di Internal Gereja - Pernah nggak, Anda duduk di rapat majelis dan diam-diam bertanya dalam hati: "Kenapa ya, gereja kita segini-segini aja soal penginjilan?"

Bukan karena nggak ada program. Bukan karena nggak ada dana sama sekali. Tapi ada sesuatu yang macet, dan susah dijelaskan dengan kata-kata. Kalau Anda pernah merasakan kegelisahan semacam ini, saya kira Anda tidak sendirian. Banyak jemaat, pengurus, bahkan hamba Tuhan, diam-diam menyimpan pertanyaan yang sama.

Yang menarik dan kadang menyakitkan untuk diakui adalah bahwa penyebabnya sering kali bukan dari luar. Bukan karena masyarakat makin sekuler, bukan karena zaman makin sulit. Justru, akar masalahnya sering bersembunyi di dalam gereja itu sendiri.

Tulisan ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam, sebelum buru-buru menyalahkan keadaan di luar.

Ketika Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Dunia Luar

Ada semacam refleks yang wajar terjadi di gereja mana pun: ketika penginjilan tidak berbuah, yang pertama disalahkan biasanya adalah "zaman sekarang susah", "orang makin cuek soal agama", atau "generasi muda sudah beda". Semua itu mungkin ada benarnya sedikit. Tapi kalau kita jujur, itu jalan pintas yang nyaman karena kita tidak perlu menatap cermin.

Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, tantangan terbesar bagi pekabaran Injil sering kali justru lahir dari dalam gereja sendiri. Bukan dari luar tembok, tapi dari dalam ruang rapat, dari susunan anggaran, dari perbedaan cara pandang antar generasi jemaat.

Mari kita bedah satu per satu, dengan hati yang terbuka bukan untuk menghakimi, tapi untuk membenahi.

1. Perbedaan Pandangan Teologis yang Tidak Pernah Diselesaikan

Ini sering jadi akar yang paling halus, tapi paling merusak.

Bayangkan situasi ini: sekelompok pemuda gereja merasa penginjilan adalah hal mendesak karena bagi mereka, Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, titik. Tapi di sisi lain, sebagian majelis punya pandangan yang lebih pluralis: cukup berbuat baik, cukup jadi berkat, tidak perlu "memaksa" orang untuk percaya.

Dua pandangan ini kelihatannya sama-sama baik. Sama-sama punya niat mulia. Tapi kalau dibiarkan berjalan sendiri-sendiri tanpa pernah didudukkan bersama, hasilnya adalah kebuntuan. Pemuda merasa idenya ditolak. Majelis merasa pemuda terlalu "agresif". Dan di tengah itu semua, penginjilan jadi korban gencatan senjata yang tidak pernah selesai.

Tanpa kesatuan visi antara pendeta, majelis, dan jemaat, penginjilan akan sulit sekali bergerak maju sekuat apa pun semangat satu kelompok saja. Ibarat mendayung perahu, kalau satu orang mendayung ke kiri dan yang lain ke kanan, yang terjadi bukan maju, tapi berputar di tempat.

Yang perlu direnungkan bukan siapa yang benar. Tapi apakah forum untuk mendudukkan perbedaan ini pernah benar-benar dibuka?

2. Belajar dari Luka Lama William Carey

Ilustrasi semangat juang William Carey menekuni misi penginjilan meski ditolak gerejanya

Kalau Anda merasa gereja Anda "aneh" karena justru dihambat oleh internal sendiri, sejarah bisa jadi penghiburan sekaligus peringatan.

William Carey, yang kelak dikenal sebagai bapak misionaris modern, justru mengalami penolakan paling menyakitkan dari gerejanya sendiri saat ia menyampaikan kerinduannya untuk menginjili bangsa-bangsa lain. Gerejanya waktu itu punya keyakinan bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan siapa saja tanpa perlu campur tangan manusia jadi buat apa repot-repot pergi?

Carey tidak menyerah. Ia bekerja sebagai tukang sepatu, mengumpulkan uang sendiri, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya bisa berangkat ke India dan mengubah sejarah misi dunia.

Yang bikin merenung dari kisah ini bukan soal India-nya. Tapi soal betapa dekatnya penolakan itu bukan dari orang asing, bukan dari pemerintah, tapi dari saudara seiman sendiri, dari mimbar yang seharusnya jadi rumah baginya.

Kalau seorang tokoh sebesar Carey saja pernah mengalami hambatan dari dalam, mungkin bukan hal yang aneh kalau gereja kita hari ini mengalami hal serupa dalam skala yang lebih kecil. Yang membedakan adalah: apakah kita mau belajar dari kegigihannya, atau justru membiarkan sejarah berulang tanpa perubahan.

3. Tidak Ada Target, Tidak Ada Evaluasi

Ini poin yang sering dianggap "terlalu duniawi" untuk dibicarakan di gereja padahal justru sangat praktis dan Alkitabiah kalau dipakai dengan hati yang benar.

Coba tanyakan ke diri sendiri atau ke pengurus gereja Anda: berapa banyak orang yang mendengar Injil dari gereja kita tahun lalu? Kalau jawabannya "tidak tahu" atau hening panjang, itu sudah jadi petunjuk penting.

Menetapkan target misalnya 2.000 orang mendengar Injil dalam setahun bukan berarti kita mengukur pekerjaan Roh Kudus dengan angka. Itu soal kejujuran dan tanggung jawab. Tanpa target, penginjilan gampang jadi wacana yang mengambang, dibicarakan setiap rapat tapi tidak pernah benar-benar dievaluasi.

Beberapa hal praktis yang bisa dibenahi:

  • Dokumentasi setiap kegiatan seperti KKR sebaiknya mencatat berapa banyak jiwa yang mendengar berita Injil, bukan sekadar dokumentasi foto untuk media sosial.
  • Pelatihan mengirim jemaat untuk belajar penginjilan pribadi, supaya mereka bisa melatih jemaat lain, bukan cuma mengandalkan satu-dua orang "yang memang berbakat".
  • Pendeta penginjil menahbiskan hamba Tuhan yang secara khusus fokus turun ke lapangan, bukan hanya duduk di kantor gereja mengurus administrasi.

Kalau dipikir-pikir, banyak gereja punya laporan keuangan yang rapi sampai ke rupiah terakhir, tapi tidak punya laporan berapa jiwa yang mendengar Injil tahun ini. Ironis, bukan?

4. Anggaran yang Bicara Lebih Jujur dari Visi Misi

Perbandingan simbolis prioritas anggaran gereja antara kebutuhan internal dan penginjilan

Ini bagian yang mungkin agak menyentil, tapi perlu dikatakan.

Salah satu indikator paling jujur soal komitmen sebuah gereja terhadap penginjilan bukan terletak di visi-misi yang tertulis indah di dinding, tapi di rincian anggaran tahunannya. Sangat disayangkan kalau biaya rapat majelis dan konsumsi justru lebih besar daripada anggaran penginjilan.

Bukan berarti rapat dan konsumsi itu salah itu kebutuhan wajar dalam organisasi apa pun. Tapi kalau dibandingkan, dan ternyata timpang jauh, itu menunjukkan ke mana sebenarnya prioritas gereja diarahkan, terlepas dari apa yang tertulis di brosur tahunan.

Pos AnggaranIdealnya...Status Prioritas
Rapat & Konsumsi MajelisWajar, tapi proporsional🟡 Sedang (Proporsional)
Penginjilan & KKR Ke Daerah TerpencilDiprioritaskan, bukan sisa anggaran🟢 Sangat Tinggi (Prioritas)
Pelatihan Penginjilan JemaatDianggarkan rutin, bukan insidental🟢 Tinggi (Rutin)

Anggaran untuk kampanye pekabaran Injil, termasuk ke pulau-pulau terpencil, semestinya diprioritaskan dan mendapat alokasi yang memadai. Bukan menunggu "kalau ada sisa dana".

Kalau gereja Anda mau jujur mengevaluasi diri, coba lihat laporan keuangan tahun lalu. Angka tidak pernah bohong soal ke mana hati sebuah komunitas sebenarnya condong.

5. Berani Bermimpi Besar, Bukan Sekadar Bertahan

Ada gereja yang sudah nyaman dengan rutinitas: ibadah Minggu, sekolah minggu, persekutuan doa, selesai. Tidak ada yang salah dengan itu sebagai fondasi. Tapi gereja yang sehat semestinya punya mimpi yang lebih besar menempatkan misionaris di suku-suku dan wilayah pedalaman yang masih memegang kepercayaan lama.

Ini bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang konkret: memberi beasiswa sekolah teologia bagi calon misionaris, membiayai hidup mereka melalui lembaga penginjilan, dan secara rutin memantau laporan perkembangan jiwa-jiwa yang dijangkau.

Mimpi besar ini mungkin terasa jauh dari kapasitas gereja lokal yang kecil. Tapi justru di situlah pertanyaannya: apakah kita pernah benar-benar berdoa dan merencanakan ke arah sana, atau kita sudah keburu menyerah sebelum mencoba karena merasa "gereja kita kan kecil"?

Jadi, dari Mana Kita Mulai Membenahi?

Kalau membaca sampai sini dan merasa "wah, ini kok relevan banget dengan gereja saya" itu wajar. Sebagian besar gereja, di titik tertentu, pasti pernah mengalami setidaknya satu dari lima hal di atas.

Yang penting bukan merasa bersalah berlebihan, tapi mulai membuka percakapan jujur. Ajak pendeta, majelis, dan perwakilan jemaat duduk bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk menyamakan visi ulang.

Gereja juga tidak berjalan sendiri banyak sinode dan komunitas gereja lain di Indonesia yang sedang berjuang membenahi hal serupa. Misalnya soal bagaimana sinode GMIT tengah berupaya membenahi persoalan domestiknya sendiri, atau bagaimana dinamika legalitas gereja di berbagai negara turut memengaruhi arah misi global. Kita tidak sendiri dalam pergumulan ini.

Kesimpulan

Penginjilan yang mandeg jarang sekali disebabkan oleh satu faktor tunggal. Tapi kalau ditarik benang merahnya, lima hal ini paling sering jadi biang keladi: perbedaan teologis yang tidak diselesaikan, kurangnya dukungan internal seperti yang dialami William Carey, tidak adanya target dan evaluasi yang jelas, alokasi anggaran yang timpang, serta absennya mimpi besar untuk menjangkau lebih jauh.

Keberhasilan penginjilan sangat bergantung pada sinergi antara pendeta, majelis, dan jemaat. Kalau komponen internal ini tidak sejalan, gereja itu sendiri yang justru menjadi penghambat bagi pemberitaan Injil yang seharusnya ia bawa keluar.

Membenahi ini bukan pekerjaan semalam. Tapi setiap gereja yang mau jujur mengevaluasi diri, sudah selangkah lebih maju dibanding gereja yang terus mencari kambing hitam di luar.

Pesan Pengutusan

Amanat Agung bukan sekadar tugas tambahan gereja itu adalah alasan gereja itu ada. Ketika internal gereja sibuk dengan dirinya sendiri, dunia di luar sana tetap menunggu, tanpa tahu berapa lama lagi. Matius 28:19-20  : 

"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." 

Amanat ini tidak diberikan kepada gereja yang sempurna. Diberikan kepada gereja yang mau taat, walau dengan segala kekurangannya.

Gereja yang berani membenahi rumahnya sendiri terlebih dahulu, pada waktunya akan menjadi terang yang dipercaya untuk menjangkau rumah-rumah yang lain.

Saya menuliskan refleksi ini bukan sebagai orang yang sudah punya semua jawaban, tapi sebagai sesama jemaat yang juga masih terus belajar melihat ke dalam sebelum menunjuk keluar. Kalau Anda pernah mengalami salah satu dari lima hal di atas di gereja Anda, bagaimana cara Anda dan jemaat lain mulai membicarakannya? Yuk bagikan di kolom komentar siapa tahu ceritanya bisa jadi pelajaran buat gereja lain juga.


Author Box

Ditulis oleh Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Lihat profil selengkapnya 

0Comments