Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam diskusi panel yang digelar Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC) pada 20 Agustus 2026 lalu, bertajuk "AI Utility, Ethics, and Governance". Bukan kebetulan kalau isu ini kini naik ke meja gereja global. WCC Ingatkan Tanggung Jawab Etika AI bukan sekadar isu teknologi, melainkan panggilan moral yang menyentuh langsung cara umat percaya memaknai relasi mereka dengan mesin buatan sendiri.
Ketika Teolog dan Diplomat Duduk Semeja
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang berbeda namun saling melengkapi. Dr. Ezekiel Takam, yang baru saja merampungkan studi doktoralnya di bidang Teologi dan Etika AI dari University of Geneva, hadir membawa perspektif akademis-teologis. Di sisi lain, Michael Meier selaku Atase Hubungan Internasional untuk Canton of Geneva mewakili sudut pandang kebijakan publik dan tata kelola.
Kombinasi keduanya menghasilkan diskusi yang tidak melulu abstrak. Ada nuansa praktis, ada juga kedalaman refleksi. Dan yang menarik, keduanya sepakat pada satu titik: martabat dan kerentanan manusia harus menjadi kompas utama dalam setiap keputusan yang menyangkut AI, bukan efisiensi atau kecanggihan semata.
AI Hanyalah Alat, Tapi Manusia yang Membentuknya
Ambil contoh sederhana yang ia sampaikan. Ketika seseorang memberikan perintah atau prompt kepada AI dengan nada emosional, tanpa sadar ia sedang "mengajari" sistem itu untuk merespons seolah-olah ia juga punya emosi. Ini terdengar sepele. Tapi kalau direnungkan lebih dalam, di sinilah letak bahayanya manusia bisa mulai memperlakukan sesuatu yang tidak bernyawa seakan-akan ia hidup dan punya perasaan.
Rev. Dr. Kenneth Mtata, Direktur Program WCC untuk Kehidupan, Keadilan, dan Perdamaian, menyebut fenomena ini sebagai potensi "lereng licin" atau slippery slope. Istilah ini biasa dipakai untuk menggambarkan bagaimana satu langkah kecil yang tampak wajar bisa perlahan menyeret ke arah yang jauh dari maksud semula. Dalam konteks ini, Mtata mengingatkan pentingnya menjaga batas yang jelas: relasi manusia dengan AI harus tetap dipahami sebagai relasi manusia dengan teknologi, bukan relasi antar-makhluk hidup.
Bagi umat Kristen, peringatan ini sebetulnya bukan hal baru. Alkitab sejak awal sudah menegaskan posisi manusia sebagai gambar Allah (imago Dei), sebuah status yang tidak bisa dipindahkan atau dibagi kepada ciptaan lain, apalagi kepada mesin. Ketika batas ini mulai kabur, di situlah gereja perlu bersuara.
"AI untuk Kebaikan" Ide Mulia yang Perlu Diuji
Gagasan AI for good, atau AI yang dipakai demi kebaikan bersama, memang terdengar menjanjikan. Siapa yang tidak ingin teknologi dipakai untuk menolong, bukan merusak? Tapi Dr. Takam mengajak audiens untuk tidak berhenti di slogan itu saja. Ia mendorong perlunya refleksi lebih jauh: siapa sebenarnya aktor-aktor yang berada di balik pembentukan AI tersebut?
Ini poin yang menurutnya sering luput dari perhatian publik. Para aktor di balik pengembangan AI, baik disadari maupun tidak, kerap menyisipkan visi antropologi tertentu tentang "siapa" atau "apa" AI itu sebenarnya. Padahal, seperti yang ia tegaskan berulang kali, AI tidak memiliki tubuh fisiologis. Ia murni alat, hasil rancangan manusia, bukan entitas yang berdiri sendiri dengan kehendaknya sendiri.
Refleksi semacam ini sebetulnya relevan sekali dengan apa yang pernah dibahas dalam artikel kecerdasan buatan menurut Yesus dalam Perjanjian Baru, di mana prinsip-prinsip kasih dan pelayanan kepada sesama manusia tetap menjadi pusat, bukan pemujaan terhadap kecanggihan teknologi itu sendiri.
Bukan Cuma Urusan Big Tech
Bagian lain yang tak kalah penting dari diskusi ini datang dari Michael Meier. Ia menyoroti kecenderungan bahwa arah perkembangan AI selama ini terlalu banyak diserahkan kepada perusahaan-perusahaan teknologi raksasa. Menurutnya, ini keliru. Keputusan sebesar itu, yang berdampak pada hajat hidup orang banyak, tidak sepatutnya hanya ditentukan segelintir korporasi.
Ia menyerukan perlunya keterlibatan suara masyarakat sipil yang lebih kuat dan konsisten. Salah satu langkah konkret yang ia usulkan adalah mengevaluasi ulang proses pengadaan (procurement) AI di berbagai entitas, termasuk lembaga pemerintahan. Sebab, keputusan membeli atau mengadopsi sebuah sistem AI sesungguhnya adalah keputusan etis, bukan sekadar transaksi teknis.
Empat Wajah Kerentanan yang Disorot
Dalam sesi tersebut, staf WCC turut menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak AI pada beberapa aspek hak asasi manusia yang krusial:
| Aspek yang Disorot | Kekhawatiran Utama |
| 🔴 Keadilan kesehatan (health equity) | Potensi kesenjangan akses akibat bias algoritma |
| ⚔️ Senjata otonom (autonomous weapons) | Ancaman terhadap nilai kemanusiaan dalam konflik |
| 🌐 Keadilan digital (digital justice) | Ketimpangan akses teknologi antarkelompok masyarakat |
| ⚖️ Keadilan gender (gender justice) | Bias sistemik yang bisa memperkuat diskriminasi |
Empat isu ini sebenarnya saling terkait. Kalau dipikir-pikir, semuanya bermuara pada satu hal: siapa yang paling rentan akan paling mudah terdampak ketika teknologi dikembangkan tanpa kontrol etis yang memadai. Diskusi ini juga sempat menyinggung relevansi ensiklik kepausan "Magnifica Humanitas" dalam konteks tersebut, menunjukkan bahwa keresahan ini bukan hanya milik satu tradisi gereja, melainkan lintas denominasi.
Langkah Selanjutnya: Strategi, Bukan Sekadar Wacana
Di penghujung sesi, Michael Meier menyampaikan apresiasinya atas diskusi yang berlangsung dan menyatakan harapannya untuk terus berkolaborasi dengan staf serta mitra WCC ke depan. Sementara Dr. Takam menutup dengan penekanan yang cukup tegas: langkah pertama yang perlu diambil adalah menganalisis AI beserta seluruh ekosistemnya sebagai bentuk kekuasaan baru.
Ia menambahkan, jika ingin memberikan dampak nyata di luar zona nyaman, pendekatan yang diambil haruslah sangat strategis bukan reaksi spontan, apalagi sekadar pernyataan sikap tanpa tindak lanjut.
Bagi gereja-gereja lokal, termasuk yang sedang bergumul menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, refleksi semacam ini juga selaras dengan pembahasan tentang pelayanan gereja di era digital 2026. Teknologi memang bisa jadi berkat, tapi hanya jika dikawal dengan kesadaran etis yang jelas.
Kenapa Ini Penting bagi Umat Kristen Awam?
Mungkin ada yang bertanya, memangnya seberapa relevan diskusi tingkat tinggi seperti ini untuk jemaat biasa yang sehari-hari cuma pakai AI untuk cari resep masakan atau bantu kerjaan kantor?
Jawabannya: sangat relevan. Sebab keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari bagaimana kita bicara pada asisten AI, seberapa jauh kita menyandarkan keputusan penting pada rekomendasi algoritma, bagaimana kita mendidik anak-anak menggunakan teknologi ini semuanya adalah bagian dari pembentukan budaya yang lebih besar. Gereja, termasuk mereka yang menekuni peningkatan kompetensi guru sekolah Kristen, punya peran strategis untuk menanamkan kesadaran ini sejak dini kepada generasi muda.
Ini juga jadi bahan renungan menarik ketika dikaitkan dengan tren yang belakangan ramai dibicarakan soal mengapa Gen Z kembali ke altar. Di tengah dunia yang makin dipenuhi interaksi dengan mesin, banyak anak muda justru mencari kembali sesuatu yang otentik relasi yang hidup, bukan sekadar respons algoritma yang dirancang untuk terdengar empatik.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah WCC menolak penggunaan AI sepenuhnya? Tidak. Dari diskusi ini jelas terlihat bahwa WCC tidak anti-teknologi. Yang mereka soroti adalah pentingnya kerangka etis dan tata kelola yang jelas, bukan penolakan total terhadap AI.
Apa maksud dari istilah "lereng licin" yang disampaikan Rev. Dr. Kenneth Mtata? Istilah ini menggambarkan bagaimana kebiasaan kecil, seperti memperlakukan AI seolah punya perasaan, bisa perlahan menggeser batas antara relasi manusia-teknologi menjadi sesuatu yang menyerupai relasi antar-makhluk hidup, padahal AI tetaplah alat.
Kenapa isu ini penting bagi gereja, bukan hanya bagi ahli teknologi? Karena isu AI menyentuh langsung pertanyaan tentang martabat manusia sebagai gambar Allah, sesuatu yang menjadi inti pengajaran Kristen sejak awal. Gereja punya kepentingan teologis, bukan sekadar praktis, untuk terlibat dalam percakapan ini.
Kesimpulan
Diskusi panel WCC bertajuk "AI Utility, Ethics, and Governance" menegaskan satu hal penting: AI bukanlah teknologi yang netral. Ia dibentuk oleh nilai, kepentingan, dan visi tertentu dari para pengembangnya. WCC Ingatkan Tanggung Jawab Etika AI justru menjadi pengingat bahwa martabat manusia harus tetap menjadi pusat, bukan efisiensi atau kecanggihan semata. Dari kekhawatiran soal keadilan kesehatan, senjata otonom, keadilan digital, hingga keadilan gender, semuanya menuntut keterlibatan aktif masyarakat sipil, termasuk gereja, dalam mengawal arah perkembangan teknologi ini.
Pesan Gembala
Bagi umat percaya, momen ini adalah panggilan untuk kembali menegaskan bahwa hanya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan mesin ciptaan manusia sendiri.
"Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27)
Ayat ini mengingatkan bahwa martabat manusia bukan berasal dari kemampuan berpikir atau berbicara secanggih apa pun mesin buatan, melainkan dari status sebagai gambar Allah yang tidak bisa ditiru atau digantikan oleh teknologi apa pun.
Profetik
Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan, gereja dipanggil untuk menjadi suara yang menjaga agar manusia tetap menjadi tuan atas ciptaannya sendiri, bukan sebaliknya, tunduk pada logika mesin yang ia bangun sendiri.
Bagaimana menurut Anda, apakah gereja selama ini sudah cukup vokal menyuarakan etika penggunaan AI di tengah jemaat? Atau justru topik ini masih terasa jauh dari percakapan sehari-hari di gereja Anda? Yuk bagikan pandangan Anda dan share tulisan ini.(al)**
Tentang Penulis
Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis seputar iman, refleksi kehidupan, dan isu-isu kontemporer dari sudut pandang Kristen. Profil selengkapnya: yakangbioprofil



0Comments