Gambaran ini bukan dongeng. Ribuan keluarga di Sumatera Selatan, Kalimantan, Maluku, hingga Papua Selatan menghadapi hal serupa saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merebak. Di tengah situasi itu, PGI dan gereja lokal membuka Rumah Oksigen untuk warga karhutla, dan tempatnya terbuka bagi siapa saja, bukan hanya jemaat.
Artikel ini merangkum apa yang sedang dikerjakan gereja di lapangan, apa yang masih kurang, dan apa yang bisa kita lakukan, baik sebagai warga terdampak maupun sebagai orang yang ingin membantu dari jauh.
Apa yang Terjadi: Karhutla yang Berubah Menjadi Krisis Kesehatan
Asap karhutla sering dianggap gangguan musiman. Sekolah libur, jalanan berkabut, lalu selesai. Padahal paparan asap yang berhari-hari adalah bencana paparan asap yang serius.
Partikel halus dari kebakaran lahan masuk ke saluran napas dan memicu gangguan pernapasan seperti ISPA. Anak kecil, lansia, ibu hamil, dan penderita asma atau penyakit paru adalah yang paling cepat jatuh sakit.
Dampaknya merambat ke mana-mana. Aktivitas belajar terhenti, orang tua cemas, dan rumah sendiri bisa tak lagi aman karena asap menembus celah jendela. Karena itulah kebutuhan akan tempat evakuasi sementara dengan udara yang lebih bersih menjadi sangat nyata.
Ruang Bebas Asap: Respons Cepat PGI
Merespons situasi ini, Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI bersama Jaringan Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana Indonesia (JAKOMKRIS PBI) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU) meluncurkan skema Ruang Bebas Asap.
Ruang ini berfungsi sebagai tempat transit dan perlindungan sementara ketika kualitas udara memburuk. Fokusnya jelas: melindungi kelompok yang paling rentan.
Siapa yang Diprioritaskan?
- Anak-anak dan balita
- Lansia
- Ibu hamil
- Penyandang disabilitas
- Warga dengan gangguan pernapasan
Apa yang Disediakan?
Ruang aman ini dilengkapi air bersih, masker, dan kebutuhan logistik dasar. Ada pula koordinasi dengan tenaga kesehatan agar warga yang kondisinya memburuk bisa dirujuk secara medis.
Menurut saya, bagian terakhir inilah yang membedakan ruang ini dari sekadar “tempat berteduh”. Gereja tidak berjalan sendiri dan menyambungkan warga ke layanan kesehatan yang memang berwenang menanganinya.
Rumah Oksigen: Tiga Titik GPIB di Kalimantan
| Lokasi | Provinsi | Keterangan |
| GPIB Ebenhaezer Palangka Raya | Kalimantan Tengah | Melayani masyarakat umum sejak 30 September 2026 (Selasa – Minggu) |
| GPIB Bethesda Marau | Kalimantan Barat | Titik perlindungan warga terdampak |
| GPIB Betlehem Sungai Ambawang | Kalimantan Barat | Titik perlindungan warga terdampak |
Ketua I Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Haenry Tamaela, menegaskan bahwa pendirian Rumah Oksigen adalah aksi tanggap darurat langsung untuk menyelamatkan warga dari bahaya asap.
Perhatikan satu hal: layanannya untuk masyarakat umum. Gereja tidak menanyakan KTP rohani. Dalam bencana, pintu yang terbuka lebar adalah kesaksian yang paling jujur.
Jaringan di Balik Layar: Pos Terpadu Gereja
Rumah Oksigen tidak muncul dari ruang hampa. Inisiatif ini bertumpu pada pengalaman Pos Terpadu Gereja di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pembagian perannya cukup rapi:
- Pos Terpadu Resort GKE Pontianak menghimpun bantuan dan menyiapkan fasilitas perlindungan di Kalimantan Barat.
- PGIW Kalimantan Tengah berfokus pada pembagian masker dan edukasi kesehatan.
- GPIB Mupel Kalselteng mendata kebutuhan warga di tingkat komunitas.
Pendataan di tingkat komunitas sering dianggap pekerjaan membosankan. Padahal tanpa data siapa butuh apa, bantuan mudah salah sasaran dan menumpuk di tempat yang sama.
Angka dan Hambatan di Lapangan
Sejauh ini PGI telah menyalurkan 6.000 masker melalui PGIW Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Bantuan logistik berupa makanan, air mineral, dan vitamin ikut dikirim.
Namun jalannya tidak mulus. Pengiriman 3.900 masker bantuan UEM ke Pontianak sempat terkendala jadwal penerbangan. Untuk operasional harian, Majelis Sinode memberi dukungan dana air bersih Rp750.000 per lokasi.
Angka itu sederhana, tetapi cukup menggambarkan realitasnya. Bantuan bencana bukan hanya soal niat baik. Logistik, jadwal pesawat, dan bahan bakar menentukan apakah masker tiba hari ini atau pekan depan.
Kebutuhan yang Paling Mendesak
- Tabung oksigen
- Masker
- Fasilitas medis
- Air bersih
- Susu steril untuk bayi
- BBM untuk mobilitas tim relawan
Kebutuhan BBM mungkin terdengar aneh dalam daftar bantuan kesehatan. Tetapi relawan yang tidak bisa bergerak berarti masker menumpuk di gudang sementara warga menunggu.
Jika Anda Warga Terdampak: Langkah Praktis Hari Ini
Bantuan gereja adalah pelengkap, bukan pengganti kewaspadaan pribadi. Beberapa langkah umum yang disarankan untuk menghadapi kualitas udara buruk:
- Pantau kualitas udara lewat informasi resmi pemerintah daerah atau BMKG, lalu batasi aktivitas luar ruangan saat udara buruk.
- Pakai masker yang tepat. Masker kain biasa kurang efektif menyaring partikel halus. Masker jenis N95 atau KN95 yang terpasang rapat lebih disarankan.
- Kurangi asap di dalam rumah. Tutup jendela dan pintu saat asap tebal, dan hindari membakar sampah atau menyalakan obat nyamuk bakar.
- Lindungi yang paling rentan. Prioritaskan balita, lansia, dan ibu hamil, dan pindahkan mereka ke ruang dengan udara lebih bersih bila memungkinkan.
- Segera ke fasilitas kesehatan bila ada sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, atau batuk yang makin parah.
Soal oksigen, jangan memakai tabung oksigen sendiri tanpa arahan tenaga kesehatan. Gunakan Rumah Oksigen atau fasilitas kesehatan terdekat dan ikuti petunjuk petugas.
Mengapa Gereja Bergerak? Sebuah Refleksi
Yesus sendiri menggemakan hal itu dalam Matius 25:40, bahwa apa yang kita perbuat bagi saudara-Nya yang paling hina, kita perbuat bagi-Nya. Menyediakan udara bersih bagi seorang lansia yang sesak napas termasuk dalam kategori itu.
PGI menyebut respons ini sebagai diakonia ekumenis: pelayanan bersama lintas denominasi yang menempatkan keselamatan dan martabat manusia sebagai prioritas utama.
Catatan Pribadi Penulis
Ini pendapat pribadi saya. Saya melihat Rumah Oksigen sebagai ujian kecil bagi gereja: apakah kita hanya ramai saat perayaan, atau juga hadir saat orang kesulitan bernapas?
Menurut saya, gereja yang sehat tidak diukur dari megahnya gedung, melainkan dari seberapa cepat pintunya dibuka ketika tetangga membutuhkan. Menariknya, ruang ibadah yang biasanya sepi pada hari kerja kini berfungsi sebagai ruang perlindungan.
Saya juga berharap pelayanan seperti ini tidak berhenti di satu musim bencana. Kesiapsiagaan berbasis komunitas semestinya menjadi kebiasaan, bukan reaksi darurat tahunan.
Bukan Pertama Kalinya Gereja Hadir di Tengah Bencana
Pola ini sudah sering terlihat. Saat Nusa Tenggara Timur diterjang badai, kita pernah membahas bagaimana kita perlu waspada bencana tetapi lebih waspada dosa sebagai bentuk kesadaran rohani menghadapi alam yang bergolak.
Setelah bencana Sumatera, muncul pula pertanyaan penting tentang prioritas pelayanan: Sumatera lebih membutuhkan perhatian daripada urusan bangsa lain. Karhutla kali ini mengingatkan bahwa luka di dalam negeri sendiri masih banyak.
Di sisi lain, solidaritas tidak mengenal batas negara. Contohnya ketika para uskup di Amerika Serikat menyerukan bantuan internasional untuk korban banjir Nepal.
Kecepatan respons juga menjadi pelajaran. Dalam kasus gempa Flores, PGI dan GMIT merespons cepat serta mengawal langsung kebutuhan korban di lapangan.
Bagaimana Kita Bisa Membantu
- Salurkan lewat jalur resmi. Hubungi gereja, sinode, atau PGIW terdekat untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
- Sumbang kebutuhan yang memang dicari, seperti masker, air bersih, vitamin, susu steril, atau dana BBM relawan.
- Sebarkan informasi yang benar. Hindari menyebar kabar yang belum diverifikasi, terutama soal pengobatan.
- Doakan secara spesifik: relawan yang lelah, tenaga kesehatan, dan keluarga yang kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri.
Ringkasan Poin Kunci
- PGI melalui PRB, JAKOMKRIS PBI, dan YEU meluncurkan Ruang Bebas Asap sebagai tempat perlindungan sementara.
- GPIB membuka tiga Rumah Oksigen: Palangka Raya, Marau, dan Sungai Ambawang.
- Rumah Oksigen Palangka Raya melayani masyarakat umum sejak 30 September 2026, Selasa hingga Minggu.
- Kelompok rentan menjadi prioritas utama.
- Kebutuhan mendesak: tabung oksigen, masker, fasilitas medis, air bersih, susu steril, dan BBM.
- Kolaborasi gereja, pemerintah, tenaga kesehatan, dan jaringan kemanusiaan terus diperkuat.
Tanya Jawab (FAQ)
Diskusi: Bagaimana Menurut Anda?
Jika gereja di kota Anda diminta membuka pintunya untuk warga yang kesulitan bernapas, apa yang menurut Anda paling siap disumbangkan jemaat? Tenaga, dana, atau sekadar kehadiran?
Tuliskan pendapat atau pengalaman Anda di kolom komentar. Cerita dari wilayah terdampak sangat berharga bagi pembaca lain.
Bagikan Artikel Ini
Jika tulisan ini bermanfaat, bagikan ke WhatsApp, Facebook, atau grup gereja Anda. Satu informasi yang tepat waktu bisa membantu satu keluarga mendapat perlindungan lebih cepat.
⚖️ Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis. Untuk keluhan pernapasan atau kondisi darurat, segera hubungi tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan terdekat. Informasi mengenai program dan angka bantuan bersumber dari rilis gereja dan dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan.
👤 Tentang Penulis
Akang Loger adalah penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Ia menulis tentang kehidupan gereja, pelayanan sosial, dan isu kemanusiaan dari perspektif iman. Lihat profil lengkap penulis.




0 Comments