TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
0
    0
      Berita Terkini

      Allah Memelihara Bumi Milik-Nya: Umat Dipanggil Menjaganya | Mazmur 65:1-14

      Renungan Mazmur 65:1-14: Allah memelihara bumi milik-Nya. Temukan panggilan umat menjaga ciptaan lewat kisah nyata dan langkah praktis di gereja.

      Ilustrasi bukit hijau, sungai, dan gereja desa dengan bumi dalam dua telapak tangan, tema Allah memelihara bumi milik-Nya dari Mazmur 65:1-14

      Renungan Minggu, Bulan Lingkungan, Pena Rohani - Allah memelihara bumi milik-Nya, dan umat dipanggil menjaga bumi itu. Kalimatnya gampang diucapkan dari mimbar. Yang sulit adalah hari Senin pagi, ketika kita berdiri di halaman gereja yang penuh bungkus plastik dan bingung harus mulai dari mana.

      Renungan untuk kebaktian Minggu, 1 November 2026 (Minggu Biasa XXII) mengajak kita membaca Mazmur 65:1-14 dengan pelan. Bukan hanya sebagai nyanyian syukur atas hujan dan panen. Mazmur ini juga bisa menjadi cermin: sudah sampai di mana rasa syukur kita?

      Di tulisan ini saya membagikan tiga hal yang pernah saya lihat sendiri di lingkungan gereja. Semuanya biasa saja. Justru karena biasa, kita sering melewatinya tanpa menoleh.

      Sesudahnya ada tabel ringkas, langkah yang bisa dikerjakan minggu ini, dan beberapa pertanyaan yang sering muncul seputar iman Kristen dan lingkungan hidup.

      Mazmur 65: Pemelihara Bumi yang Lebih Dulu Mendengar Doa

      Mazmur 65 sering dibacakan sebagai mazmur syukur panen. Itu tidak salah, tetapi urutannya layak diperhatikan. Pemazmur tidak langsung berbicara tentang hujan. Ia mulai dari doa dan pengampunan.

      Tiga gerakan dalam satu mazmur

      Ayat 1-4: Doa dan pengampunan

      Umat datang membawa kesalahan, dan Allah menghapusnya. Sebelum ada cerita tentang tanah, ada cerita tentang hati yang dipulihkan.

      Ayat 5-8: Kuasa atas gunung dan laut

      Allah menegakkan gunung-gunung dan meredakan deru laut. Alam yang tampak liar ternyata tetap berada dalam genggaman-Nya.

      Ayat 9-14: Allah melawat bumi

      Di sini mazmurnya menjadi sangat konkret. Sungai Allah penuh air, alur ladang dibasahi, tanah yang keras dilunakkan hujan, dan padang rumput serta lembah digambarkan bersorak.

      Yang saya perhatikan dari kata kerjanya

      Hampir semua kata kerja di bagian itu milik Allah: melawat, memberi, mengairi, melunakkan, memberkati. Manusia hadir sebagai penerima. Artinya jelas: bumi bukan milik kita, dan itu selaras dengan pengakuan Mazmur 24:1 bahwa bumi dan segala isinya kepunyaan TUHAN.

      Mazmur 65 sendiri tidak menyusun daftar tugas bagi manusia. Panggilan untuk menjaga bumi kita dengar dari bagian Alkitab lain, misalnya Kejadian 2:15, ketika manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memeliharanya. Syukur dari Mazmur 65 dan tugas dari Kejadian bertemu di satu titik: yang menerima dengan sukacita ikut menjaga dengan setia.

      Di blog ini, tulisan Allah memelihara semua ciptaan-Nya dalam Matius 6:25-34 membahas sisi yang sama dari arah kekhawatiran hidup. Sementara itu, gambaran tanah dan air dalam Yehezkiel 47:1-12 memperlihatkan air yang mengalir dan menghidupkan, sejalan dengan "sungai Allah" di Mazmur 65.

      Cerita Pertama: Halaman Gereja yang Hanya Jadi Ruang Kosong

      Saya pernah melihat sebuah gereja katakanlah "Gereja U" pada dua tahun lalu, dengan halaman yang cukup luas. Tanahnya bisa ditanami. Tetapi yang tumbuh di sana hanya rumput liar, dan sebagian sudut mulai tak terurus.

      Saya berhenti agak lama di situ. Bukan marah, lebih tepatnya sayang. Tanah itu dipercayakan Tuhan, dan seperti sedang menunggu seseorang mengajaknya bekerja.

      Apa yang sebenarnya hilang

      Bukan tanah, bukan air, bukan matahari. Semuanya ada. Yang belum ada adalah kemauan untuk mengelola, dan kebiasaan membayangkan gereja sebagai lebih dari tempat berkumpul tiap hari Minggu.

      Mazmur 65 menggambarkan Allah yang membasahi alur-alur ladang. Saya sering bertanya-tanya, bagaimana rasanya bagi Allah melihat alur yang sudah dibasahi itu tidak pernah kita tanami.

      Gambaran kebun gereja yang sederhana

      Ilustrasi halaman gereja yang berubah dari lahan kosong berumput liar menjadi kebun sayuran, tanaman obat, dan pohon buah untuk jemaat

      Kebun gereja tidak perlu besar. Satu petak kecil sudah cukup untuk belajar.

      • Sayuran harian seperti kangkung, sawi, atau cabai, yang cepat dipanen dan mudah dirawat.
      • Tanaman obat keluarga seperti jahe, kunyit, dan serai.
      • Pohon buah yang ditanam hari ini dan dinikmati anak-anak sekolah minggu beberapa tahun lagi.

      Hasilnya bisa dipakai untuk konsumsi kegiatan gereja, dibagikan kepada jemaat yang sedang kesulitan, atau menjadi ruang belajar bersama. Soal kepedulian terhadap sesama, tulisan Allah peduli terhadap setiap individu bisa menjadi teman renungan berikutnya.

      Jenis tanaman tentu perlu disesuaikan dengan tanah dan musim di tempat masing-masing. Tanyakan kepada jemaat yang sudah lama bertani; biasanya mereka tahu apa yang cocok, dan senang kalau ditanya.

      Cerita Kedua: Pelatihan Selesai, Semangatnya Ikut Selesai

      Cerita kedua lebih halus, dan karena itu lebih mudah terlewat. Jemaat pernah mendapat pembinaan: cara mengelola usaha, memanfaatkan sumber daya lokal, bahkan ada lembaga mitra yang bersedia mendampingi.

      Pada hari-hari awal, semangatnya terasa. Tetapi setelah kegiatan usai, pelan-pelan semuanya mereda. Kegiatan lanjutan hampir tidak ada, dan sebagian orang kembali ke kebiasaan lama.

      Pelajaran dari alur ladang

      Mazmur 65:10 menyebut Allah mengairi alur-alur, meratakan gumpalan tanah, dan melunakkannya dengan hujan. Itu pekerjaan bertahap. Tidak ada petani yang menabur hari ini lalu menuai besok pagi.

      Pemberdayaan jemaat mirip begitu. Pelatihan hanyalah hujan pertama. Setelahnya masih ada tanah yang harus diolah, bibit yang harus dijaga, dan orang yang harus saling mengingatkan.

      Mengukur pelayanan dengan cara lain

      Saya mulai ragu apakah keberhasilan pelayanan cukup diukur dari jumlah pelatihan atau jumlah mitra. Ukuran yang lebih jujur mungkin sederhana: ada berapa keluarga yang masih mengerjakannya enam bulan kemudian?

      Beberapa hal kecil yang menurut saya layak dicoba:

      • Pilih satu kegiatan saja, misalnya kebun bersama atau pengolahan sampah menjadi kompos.
      • Tetapkan siapa bertanggung jawab atas apa, tertulis, supaya tidak saling menunggu.
      • Jadwalkan pertemuan singkat tiap bulan untuk melihat apa yang jalan dan apa yang macet.
      • Libatkan mitra sebagai pendamping jangka panjang, bukan hanya narasumber satu hari.

      Kalau ingin contoh aksi kecil yang bisa dimulai dari rumah, silakan baca dua aksi nyata iman untuk menyelamatkan bumi. Langkah kecil yang dikerjakan terus-menerus lebih berarti daripada rencana besar yang berhenti di map.

      Cerita Ketiga: Pujian tentang Kebesaran Tuhan, Sampah Tertinggal di Halaman

      Kita rajin beribadah, rapat, dan menjalankan program pelayanan. Itu baik, dan saya tidak bermaksud mengecilkannya. Tetapi ada satu pemandangan yang pelan-pelan mengganggu saya.

      Ibadah selesai. Firman sudah didengar, pujian tentang kebesaran Tuhan baru saja dinyanyikan. Lalu di halaman masih ada sampah tertinggal, dan lampu atau keran air belum diperhatikan.

      Jarak antara telinga dan tangan

      Saya merasa ada jarak antara apa yang kita dengar dan apa yang kita kerjakan. Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa pun; jarak itu ada di banyak tempat, dan mungkin juga di dalam diri kita masing-masing.

      Lingkungan gereja sebenarnya ikut bersaksi. Orang yang lewat tidak mendengar khotbah kita, tetapi mereka melihat halamannya.

      Merawat ciptaan sebagai bagian dari ibadah

      Jemaat bergotong royong membersihkan halaman gereja, memilah sampah, dan menanam pohon sebagai wujud syukur dan menjaga ciptaan Tuhan

      Buat saya, menjaga ciptaan bukan pekerjaan tambahan di luar iman. Ia salah satu cara rasa syukur menjadi nyata. Bumi ini milik-Nya, dan kita dipanggil memeliharanya dengan setia.

      Beberapa kegiatan yang bisa melibatkan seluruh jemaat:

      • Kerja bakti membersihkan halaman setelah ibadah, bergiliran per rayon atau kelompok pelayanan.
      • Menanam pohon bersama, dengan nama penanam dan tanggalnya dicatat.
      • Memilah sampah organik dan plastik di lingkungan gereja.
      • Menunjuk beberapa orang yang memastikan lampu, kipas, dan keran sudah dimatikan sesudah kegiatan.

      Hal yang saya suka dari kegiatan seperti ini: jemaat tidak hanya belajar menjaga bumi, tetapi juga belajar bekerja sama dan saling bertanggung jawab.

      Dari Syukur ke Tindakan: Ringkasan Mazmur 65 untuk Kehidupan Sehari-hari

      Tabel ini merangkum gambaran dalam Mazmur 65 dan bentuk nyatanya bagi umat yang ingin menjaga ciptaan Tuhan.

      Gambaran dalam Mazmur 65Wujud Syukur yang NyataLangkah Pertama

      Sungai Allah penuh air


      (ay. 10)

      Menghemat dan menjaga sumber airPerbaiki keran bocor, tampung air hujan untuk menyiram tanaman

      Tanah dibasahi dan dilunakkan


      (ay. 10)

      Mengelola lahan gereja dan pekarangan rumahBuat satu petak kebun percobaan

      Gandum dan hasil bumi disediakan


      (ay. 10-14)

      Berbagi hasil panen dengan sesamaSisihkan sebagian hasil kebun untuk jemaat yang membutuhkan

      Deru laut diredakan


      (ay. 8)

      Tidak membuang sampah ke sungai dan lautPilah sampah, kurangi plastik sekali pakai

      Padang dan lembah bersorak


      (ay. 13-14)

      Menanam dan merawat pohonTanam pohon di halaman gereja dan beri penanggung jawab

      Pertanyaan yang Sering Muncul

      Apa pesan utama Mazmur 65:1-14?

      Allah mendengar doa, mengampuni, dan memelihara bumi lewat air, tanah, dan hasil panen. Karena semuanya anugerah-Nya, umat menanggapi dengan syukur yang juga terlihat dalam cara memperlakukan alam.

      Apakah Alkitab memerintahkan umat menjaga bumi?

      Ya, secara umum. Kejadian 2:15 menyebut manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memeliharanya, dan Mazmur 24:1 menegaskan bumi milik TUHAN. Mazmur 65 menambah dasar syukurnya.

      Bagaimana gereja kecil bisa mulai menjaga lingkungan?

      Mulai dari satu kegiatan yang realistis: kerja bakti rutin, satu petak kebun, atau pemilahan sampah. Tunjuk penanggung jawab, jadwalkan evaluasi bulanan, lalu tambah kegiatan setelah yang pertama berjalan.

      Apa kaitan rasa syukur dengan pelestarian lingkungan?

      Syukur yang jujur menjaga pemberian. Kalau kita sungguh menghargai air, tanah, dan udara sebagai berkat Tuhan, wajar bila kita merawatnya dan tidak membuangnya begitu saja.

      Apakah menjaga lingkungan termasuk pelayanan gereja?

      Bisa dikatakan begitu. Gereja dipanggil bersaksi lewat kata dan perbuatan. Lingkungan yang bersih, pohon yang ditanam, dan sampah yang dikelola adalah kesaksian yang bisa dilihat siapa saja.

      Yang Saya Bawa Pulang dari Mazmur 65

      • Bumi milik Allah, dan Dia sendiri yang memeliharanya; kita penerima, bukan pemilik.
      • Syukur yang berhenti di doa dan nyanyian belum selesai; ia perlu sampai ke tanah dan tangan.
      • Pelatihan tanpa pendampingan jarang bertahan; pemberdayaan butuh waktu seperti ladang butuh musim.
      • Lingkungan gereja ikut bersaksi tentang iman jemaatnya.
      • Langkah kecil yang konsisten lebih berharga daripada rencana besar yang tidak pernah berjalan.

      Mulai minggu ini

      1. Setelah kebaktian Minggu, ajak beberapa orang memungut sampah di halaman gereja selama sepuluh menit.
      2. Periksa keran, lampu, dan kipas sebelum gedung dikunci.
      3. Bicarakan dengan majelis atau pengurus: bagian halaman mana yang bisa dijadikan satu petak kebun?
      4. Di rumah, bawa tas belanja sendiri dan kurangi plastik sekali pakai.

      Pertanyaan untuk Anda

      Halaman atau tanah apa di sekitar gereja Anda yang sebenarnya bisa dimanfaatkan, tetapi belum disentuh? Dan apa yang membuat jemaat Anda sulit bergerak setelah sebuah pelatihan selesai? Silakan tulis pengalaman jujur Anda di kolom komentar; saya ingin belajar dari gereja dan jemaat lain.

      Bacaan lanjutan

      Tentang penulis

      Akang Loger, penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Profil lengkap ada di halaman bio penulis.

      Bagikan renungan ini

      Kalau tulisan ini menolong Anda, bagikan ke grup WhatsApp keluarga, rayon, atau komisi pelayanan di gereja Anda. Mungkin ada satu orang yang sedang menunggu ajakan untuk mulai.

      Catatan

      Tulisan ini adalah renungan pribadi untuk membantu pembacaan Alkitab dan bukan pengganti khotbah, bimbingan pastoral, atau nasihat teknis pertanian dan pengelolaan lingkungan. Untuk keputusan tentang lahan atau pengelolaan sampah gereja, bicarakan dengan majelis jemaat dan pihak yang berkompeten di daerah Anda.

      Baca Juga:

      Loading...
      Add a comment

      0 Comments

      Write a comment
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • Hubungi kami di : https://www.jgmittubutuan.com/p/kontak.html