Saya pernah. Dan jawaban yang saya temukan bukan dari buku, melainkan dari seorang lelaki buta di pinggir jalan Yerusalem. Renungan ini mengajak kita memahami cara mengerjakan pekerjaan Allah di tengah penderitaan, dengan bertolak dari Yohanes 9:1-7 dan dari pengalaman pahit yang saya alami justru ketika melayani.
Bacalah pelan-pelan. Mungkin ada satu kalimat yang memang ditujukan untuk Anda hari ini.
Ketika "Apa Salahku?" Menjadi Pertanyaan Pertama
Penderitaan jarang datang dengan sopan. Ia datang tiba-tiba, dan reaksi pertama kita hampir selalu sama: mencari sebab, mencari siapa yang salah.
Reaksi itu sangat manusiawi. Tetapi, seperti kita lihat nanti, belum tentu sejalan dengan cara Tuhan memandang.
Pertanyaan murid yang terdengar akrab
Dalam Yohanes 9:1-2, Yesus melihat seorang yang buta sejak lahir. Murid-murid langsung bertanya: siapa yang berbuat dosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?
Perhatikan, mereka tidak bertanya bagaimana menolongnya. Mereka sibuk membahas penyebabnya, seolah lelaki itu bahan diskusi di ruang kuliah.
Pola pikir ini bukan hal baru. Pada masa itu, sakit dan cacat tubuh lazim dikaitkan dengan dosa pribadi atau dosa orang tua. Para peneliti Injil Yohanes mencatat hal yang sama (lihat daftar sumber).
Teman-teman Ayub juga berpikir begitu. Mereka duduk berhari-hari menemani, lalu mulai menuduh. Di akhir kisah, Allah sendiri menegur mereka (Ayub 42:7).
Yesus pernah membahas hal serupa dalam Lukas 13:1-5, tentang orang-orang yang tertimpa menara di Siloam. Jawaban-Nya tegas: korban bukan otomatis lebih berdosa dari orang lain.
Jawaban Yesus: Sebuah Sudut Pandang yang Membalik Logika
Jawab Yesus dalam Yohanes 9:3: bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.
Satu kalimat, dan seluruh bingkai berpikir murid-murid runtuh.
Bukan pembenaran bagi rasa sakit
Saya ingin berhati-hati di sini. Ayat ini tidak berarti Allah sengaja menimpakan penderitaan supaya terlihat hebat. Ayat ini juga bukan alasan untuk berkata kepada orang yang sedang berduka, "Sabar ya, ini rencana Tuhan."
Yesus tidak berkhotbah panjang kepada si buta. Ia menyembuhkannya. Artinya, kita diajak melihat bahwa penderitaan tidak otomatis berarti hukuman, dan bahwa Allah sanggup bekerja di dalamnya.
Ada perbedaan besar antara "Allah menyebabkan ini" dan "Allah sanggup memakai ini". Yohanes 9 lebih dekat pada yang kedua.
Penderitaan sebagai ruang kosong
Lembah kelam dalam hidup kita bisa menjadi ruang kosong. Bukan karena kita pantas menderita, melainkan karena di ruang itulah tangan Tuhan sering terlihat paling jelas.
Rasul Paulus mengalaminya sendiri. Ia memohon agar duri dalam dagingnya dicabut, tetapi jawaban yang ia terima adalah bahwa kuasa Allah menjadi sempurna dalam kelemahan (2 Korintus 12:9).
Kata "Kita" dan Jam yang Terus Berjalan
Yesus tidak berhenti pada teori. Dalam Yohanes 9:4 Ia berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang."
Kata "kita" itu mengikat murid-murid, dan mengikat kita juga.
Bergerak, bukan sekadar meratap
Saat sakit, kecewa, atau melihat orang lain terluka, ada dua godaan. Pertama, tenggelam dalam ratapan. Kedua, sibuk mencari kambing hitam.
Yesus menawarkan jalan ketiga: tetap bekerja selama siang masih ada. Bukan bekerja dengan tenaga sendiri, melainkan mengerjakan pekerjaan-Nya, yaitu pekerjaan Dia yang mengutus.
"Siang" itu terbatas
Kata Yesus, malam akan datang. Kesempatan tidak selamanya terbuka. Orang tua yang sakit, anak yang butuh didengar, jemaat yang butuh digembalakan, semuanya tidak bisa menunggu hingga hati kita pulih sempurna.
Itu bukan tuntutan agar kita memaksakan diri. Itu undangan untuk tidak menunda kebaikan yang masih bisa dilakukan hari ini.
Lumpur, Ludah, dan Kolam "Yang Diutus"
Cara Yesus menyembuhkan terasa aneh. Ia meludah ke tanah, membuat adukan, mengoleskannya ke mata si buta, lalu menyuruhnya membasuh diri di kolam Siloam (Yohanes 9:6-7).
Tidak steril. Tidak masuk akal. Dan si buta tidak meminta cara itu.
Ketaatan yang tidak menunggu paham
Bayangkan berjalan menuju kolam dengan mata berlumpur, dilihat orang, tanpa jaminan apa pun. Ia hanya taat. Ia pergi, membasuh diri, lalu pulang dengan mata yang melihat.
Pemulihan dari Tuhan kadang terasa "berlumpur". Tidak rapi, tidak cepat, tidak sesuai bayangan kita. Namun mujizat di kisah ini baru terjadi setelah langkah ketaatan itu diambil.
Kolam itu benar-benar ada
Kolam Siloam bukan legenda. Para arkeolog menemukan sebagian kolam itu pada 2004 ketika perbaikan pipa air di Yerusalem, lalu penggalian lanjutan menunjukkan kolam besar dari zaman Yesus. Tangga-tangga yang kita lihat hari ini mungkin pernah dilalui lelaki buta itu.
Fakta ini mengingatkan saya: iman kita tidak bertumpu pada dongeng. Ia bertumpu pada peristiwa yang nyata, di tempat yang nyata.
Pengalaman Saya: Ketika Luka Datang dari Rumah Tuhan
Sekarang saya ingin bercerita, sesuatu yang tidak mudah saya tulis.
Saya pernah melayani di sebuah gereja, sebut saja Gereja "SS". Saya berusaha mengerjakan bagian saya di tengah lingkungan pelayanan yang penuh tantangan. Kemauan untuk belajar dan berlatih sangat minim. Pembekalan lewat pelatihan kurang. Namun klaim sepihak sering terlontar tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika Alkitab bukan lagi penentu
Alih-alih menjadikan Alkitab sebagai otoritas tertinggi (Sola Scriptura), banyak keputusan lahir dari pemikiran sendiri. Dampak jangka panjangnya diabaikan.
Pelayanan berjalan tanpa arah, tanpa program kerja yang terukur. Seolah sekadar menggugurkan kewajiban. Pelayanan terlihat seperti hanya melayani jadwal setelah itu? ya 'sudah'. Perlahan, warisan pelayanan baik yang dibangun para pendahulu ikut terkikis.
Niat baik yang bertepuk sebelah tangan
Sejak awal masuk kemajelisan yang baru, saya seperti sudah membayangkan hal ini. Hati saya lalu tergerak untuk membenahi dan mengajar. Saya menawarkan pelatihan, membuka ruang diskusi, dan menyediakan sesi tanya jawab agar fondasi pelayanan kembali benar.
Suara saya diabaikan. Lebih menyakitkan lagi, ketika mereka buntu, jalan keluarnya dicari ke sumber yang tidak punya kapasitas maupun pengalaman. Belajar dari sumber yang keliru, hasilnya pun melenceng dari kebenaran.
Di titik itu penderitaan batin terasa begitu nyata. Ada sedih, kecewa, dan air mata, melihat rumah Tuhan dikelola tanpa kesungguhan.
Mundur bukan berarti menyerah
Itu bukan berhenti mencintai Tuhan, dan bukan menyerah pada panggilan-Nya. Itu keputusan iman untuk tetap mengerjakan pekerjaan Allah dengan cara dan di ladang yang berbeda, tempat kebenaran firman dihargai dan dikerjakan dengan tanggung jawab.
Saya tidak mengatakan keputusan ini cocok untuk semua orang. Setiap situasi pelayanan berbeda, dan ada saatnya bertahan lebih bijak daripada pergi. Yang ingin saya bagikan hanya ini: pekerjaan Allah tidak berhenti ketika satu pintu pelayanan tertutup bagi kita.
Dua Cara Menanggapi Penderitaan
Tabel berikut merangkum perbedaan cara pandang murid dengan cara pandang Yesus dalam Yohanes 9:1-7.
| Aspek | Cara Pandang Murid-Murid | Cara Pandang Yesus |
| Pertanyaan Utama | Siapa yang salah? | Apa yang Allah mau kerjakan? |
| Fokus | Menelusuri penyebab di masa lalu | Bertindak di masa kini |
| Sikap Terhadap Orang Menderita | Membicarakan dan menilai | Menyapa, menyembuhkan, melibatkan |
| Hasil | Beban rasa bersalah bertambah | Pemulihan dan kemuliaan Allah dinyatakan |
| Respons yang Diminta | Diam menonton | "Kita harus mengerjakan..." |
Sisi yang Jarang Dibicarakan: Setelah Sembuh, Ia Justru Dikucilkan
Kebanyakan renungan berhenti di ayat 7, saat mata si buta terbuka. Padahal kisahnya terus berlanjut.
Dalam pasal yang sama, lelaki ini diinterogasi tetangga dan orang Farisi. Orang tuanya takut menjawab. Akhirnya ia diusir dari rumah ibadat (Yohanes 9:34).
Pekerjaan Allah tidak selalu disambut tepuk tangan
Pelajaran ini penting bagi siapa pun yang pernah melayani dengan tulus lalu disalahpahami. Mukjizat tidak menjamin kita diterima. Si buta justru dikucilkan, tetapi di akhir cerita Yesus menemuinya, dan ia mengaku percaya serta menyembah (Yohanes 9:35-38).
Kalau Anda pernah merasa disingkirkan karena berpegang pada kebenaran, kisah ini berkata: Yesus yang mencari Anda, bukan orang-orang yang mengusir.
Langkah Praktis Ketika Anda Sedang Berjalan di Lembah
Teori tidak menolong kalau tidak bisa dipakai hari Senin pagi. Berikut lima langkah yang saya coba, tidak selalu berhasil, tetapi menolong.
1. Ganti pertanyaan
Dari "Apa salahku?" menjadi "Apa yang bisa kukerjakan hari ini?" Pertanyaan baru ini tidak menghapus luka, tetapi memberi arah.
2. Cari satu langkah ketaatan kecil
Bukan sepuluh rencana besar. Cukup satu langkah, misalnya membaca satu pasal, menelepon satu orang, atau meminta maaf kepada seseorang.
3. Pilih sumber belajar dengan teliti
Dari pengalaman saya di Gereja "SS", belajar dari sumber yang tidak berkapasitas menghasilkan kekeliruan. Uji ajaran dengan Alkitab, bandingkan dengan tafsir yang bertanggung jawab, dan tanyakan pada orang yang lebih berpengalaman.
4. Biarkan diri menangis
Air mata bukan tanda iman yang lemah. Yesus sendiri pernah menangis (Yohanes 11:35).
5. Tetap layani, dengan batas yang sehat
Melayani di masa sukar tidak berarti memaksa diri hingga habis. Kadang pelayanan itu cukup berupa mendengarkan satu orang dengan sungguh-sungguh.
Kotak Tips Praktis Malam ini, tulis di kertas satu "lumpur" yang sedang Tuhan minta Anda lalui, dan satu langkah ketaatan kecil untuk besok. Tempel di tempat yang terlihat.
Jika Anda Ingin Membaca Lebih Jauh
Beberapa tulisan di blog ini bisa menemani pergumulan Anda:
- Tentang kesaksian di masa sulit: bersaksi tentang Allah yang setia di tengah dunia yang luka, dan Tuhan tetap setia saat dunia terluka, mari bersaksi.
- Tentang penyertaan Tuhan: refleksi bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu.
- Tentang air mata dan salib: jika Yesus saja menderita, masihkah kita menolak air mata.
- Tentang menjadi pembawa damai: berkat Tuhan bagi pendamai di masa sengsara.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah penderitaan selalu akibat dosa?
Tidak. Dalam Yohanes 9:3 Yesus menolak anggapan itu. Dosa memang bisa membawa akibat buruk, tetapi tidak semua penderitaan lahir dari dosa orang yang mengalaminya.
Apa arti "pekerjaan Allah dinyatakan" dalam Yohanes 9:3?
Artinya kuasa, kasih, dan kemuliaan Allah terlihat melalui keadaan seseorang. Dalam kisah ini wujudnya penyembuhan, dan juga kesaksian si buta tentang Yesus.
Mengapa Yesus memakai ludah dan tanah?
Alkitab tidak menjelaskan alasannya. Yang jelas, caranya menuntut ketaatan: si buta harus pergi ke kolam Siloam. Para penafsir menyoroti ketaatan itu sebagai bagian dari pemulihan.
Bagaimana tetap melayani saat sedang menderita?
Mulai dari langkah kecil: berdoa, mendengarkan orang lain, atau menolong dalam hal sederhana. Jaga juga kesehatan batin. Melayani tidak sama dengan memaksa diri sampai habis.
Di mana kolam Siloam sekarang?
Di sisi selatan Kota Daud, Yerusalem. Bagian kolam dari zaman Yesus ditemukan pada 2004 dan sedang digali lebih lanjut.
Kesimpulan dan Poin Kunci
- Penderitaan tidak otomatis berarti hukuman. Yesus menolak logika sebab-akibat yang sempit.
- Allah sanggup menyatakan pekerjaan-Nya di dalam keterbatasan kita.
- Kata "kita" dalam Yohanes 9:4 memanggil orang percaya untuk tetap bergerak selama kesempatan ada.
- Ketaatan, meski jalannya "berlumpur", sering menjadi pintu pemulihan.
- Pelayanan yang tulus bisa disalahpahami, tetapi Yesus tetap menemui orang yang setia.
Bagi saya, kisah si buta menegaskan satu hal: penderitaan bukan titik akhir cerita. Ia mungkin ruang kosong yang sedang menunggu karya tangan Tuhan.
Mari Berdiskusi
Pernahkah Anda merasa terluka justru di tempat Anda melayani? Apa yang membuat Anda tetap setia, atau apa yang membuat Anda akhirnya memilih jalan lain? Tuliskan di kolom komentar. Cerita Anda bisa menguatkan pembaca lain.
Bagikan Renungan Ini
Kalau tulisan ini menolong, bagikan ke WhatsApp, Facebook, atau grup pemuda dan komisi di gereja Anda. Mungkin ada seseorang yang sedang mengajukan pertanyaan "Apa salahku?" hari ini.
Tentang Penulis
Akang Loger adalah penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Profil lengkap: yakangbioprofil.blogspot.com.
Catatan Penafian
Artikel ini adalah renungan rohani dan pengalaman pribadi penulis, bukan pengganti nasihat medis, psikologis, atau konseling profesional. Jika Anda mengalami depresi berkepanjangan atau pikiran untuk menyakiti diri, segera hubungi tenaga kesehatan jiwa, pendeta, atau orang tepercaya di sekitar Anda.
Sumber dan Referensi
Teks Alkitab
- Yohanes 9:1-7, Bible.com (YouVersion)
- Lukas 13:1-5; Ayub 42:7; 2 Korintus 12:9; Yohanes 9:34-38; Yohanes 11:35 (Alkitab).
Kajian teologi dan tafsir
- Sanda, Hendrik Yufengkri. 2020. "Penderitaan, Dosa, dan Pekerjaan-Pekerjaan Allah: Eksegesis Injil Yohanes 9:2-4." KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Vol. 1 No. 1. Garuda
- "Yesus Sang Mediator (Yohanes 9:1-41)." JPTAM Vol. 10 No. 2. DOI: 10.31004/jptam.v10i2.41979
- Bangun, Osvaldo Herri. Injil Yohanes dan Masalah Teodise: Sebuah Upaya Menanggapi Masalah Penderitaan Berdasarkan Teks Yohanes 9:1-7. Skripsi, UKDW. Katalog UKDW
- "Yesus Sang Mediator yang Merengkuh Umat Termarginalisasi: Analisis Sosio-Historis terhadap Yohanes 9." Gema Teologika, UKDW. Jurnal
- Bahan Pemahaman Alkitab (DPA) Minggu Prapaskah IV, 19 Maret 2023, GKP. Dokumen
- Renungan "Buta Rohani," 15 Agustus 2008, SABDA. Renungan
Arkeologi Kolam Siloam
- Robinson, Tom. "Archaeologists Discover Biblical Pool of Siloam." Good News Magazine, UCG. Artikel
- "Pool of Siloam to Be Fully Excavated." Associates for Biblical Research. Artikel



0 Comments