Saya pernah mengalaminya sendiri. Bukan dalam skala kota atau bangsa, hanya dalam skala kecil di lingkungan pelayanan gereja. Waktu itu ada satu jemaat sepuh, ekonominya pas-pasan, tapi doanya yang menopang banyak program pelayanan kami tetap jalan di masa-masa sulit. Begitu keadaan membaik, namanya nyaris tidak pernah disebut lagi. Yang diingat justru orang-orang yang datang belakangan dengan dana besar. Saat itu saya baru benar-benar mengerti, secara pribadi, apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pengkhotbah 9:13-18.
Nas ini kebetulan jadi bacaan renungan minggu bulan kebangsaan di gereja kami, dengan tema besar Warga Bangsa Yang Berhikmat. Dan semakin saya renungkan, semakin saya sadar, ini bukan sekadar cerita kuno dari zaman Salomo. Ini cermin, untuk kita, hari ini juga.
Kisah Singkat di Balik Pengkhotbah 9:13-18
Ceritanya sederhana tapi dalam. Ada sebuah kota kecil, penduduknya sedikit, lalu dikepung oleh seorang raja besar yang membawa pasukan lengkap dengan segala kekuatan militernya. Situasinya genting. Secara logika, kota kecil itu sudah pasti kalah.
Tapi di dalam kota itu ada seorang yang miskin, namun berhikmat. Entah lewat strategi, lewat perkataan, atau lewat cara yang tidak dicatat detailnya oleh Pengkhotbah, orang ini berhasil menyelamatkan seluruh kota dari kehancuran.
Yang menarik, dan sekaligus menyakitkan, dari kisah ini adalah kelanjutannya: setelah krisis lewat, orang miskin berhikmat itu tidak diingat lagi. Pengkhotbah menulisnya dengan getir, seolah ingin menegur kita semua yang gampang melupakan jasa orang yang tidak "terlihat".
Dari sini Pengkhotbah menarik kesimpulan yang jadi inti dari seluruh nas ini: hikmat lebih baik daripada kekuatan, sekalipun hikmat itu datang dari orang yang dianggap remeh oleh dunia.
Kenapa Kita Lebih Gampang Menghargai Kekayaan Daripada Hikmat?
Jujur saja, ini bukan masalah zaman Pengkhotbah saja. Ini masalah kita, hari ini, di dunia yang serba diukur dari followers, saldo rekening, dan jabatan.
Dunia sering berbisik begini: "Tidak apa-apa kalau kamu tidak berhikmat, asal kaya. Nanti orang tetap mau berteman denganmu." Ironisnya, bisikan ini kadang lebih kita dengarkan daripada suara Tuhan sendiri.
Padahal, kalau kita jujur menelusuri Alkitab, Allah tidak pernah menilai manusia dari penampilan luar. Bukan dari kekayaan, bukan dari kepintaran akademis, apalagi dari jabatan struktural di gereja atau di pemerintahan. Allah melihat hati yang mengasihi, hati yang takut akan Dia.
Saya sendiri pernah terjebak pola pikir seperti itu. Dulu saya sempat berpikir, pelayanan saya baru "berarti" kalau saya sudah punya posisi tertentu. Butuh waktu lama untuk sadar, hikmat dan ketaatan itu jauh lebih dulu dituntut Tuhan daripada gelar apa pun.
3 Pelajaran dari Warga Bangsa Yang Berhikmat
Dari renungan minggu kebangsaan ini, ada tiga hal yang menurut saya penting untuk direnungkan bersama, bukan cuma dibaca sekilas lalu lewat begitu saja.
1. Kekuasaan Bukan Satu-satunya Cara Membangun Bangsa
Pengkhotbah dengan tegas menunjukkan, seorang penguasa yang mengandalkan kekuatan dan benteng pertahanan tapi minim hikmat, sesungguhnya rapuh. Kekuasaan tanpa hikmat gampang disalahgunakan, bahkan bisa menghancurkan bangsa yang seharusnya ia lindungi.
Sebaliknya, seorang warga biasa, bahkan yang secara ekonomi tidak diperhitungkan, bisa menyelamatkan kotanya. Syaratnya cuma satu: ia berhikmat, dan hikmat itu bersumber dari Tuhan.
Ini artikel yang pernah saya tulis soal makna kemerdekaan menurut iman Kristen mungkin bisa jadi bacaan lanjutan yang relevan: Apakah Kemerdekaan Itu Menurut Yesus?
2. Membangun Bangsa Tidak Harus Menunggu Jadi Pejabat
Ini bagian yang paling sering saya bagikan ke jemaat muda di gereja kami. Banyak yang merasa kontribusinya untuk bangsa dan gereja baru "sah" kalau sudah punya jabatan tertentu.
Padahal yang Tuhan minta sederhana: setiap warga, setiap jemaat, belajar menjadi orang yang berhikmat. Sebagai warga gereja, tugas kita bukan menunggu posisi, tapi mengisi hari-hari biasa dengan hikmat yang benar-benar dari Tuhan.
Kalau Anda penasaran bagaimana pandangan Alkitab soal kemerdekaan bangsa secara lebih luas, saya juga pernah menulis renungan lain di sini: Bangsa Yang Merdeka, Apa Kata Alkitab?
3. Berhikmat Berarti Punya Pengertian dan Akal Sehat yang Sehat
Hikmat dalam Alkitab bukan sekadar pintar secara intelektual. Ada unsur pengertian yang baik, akal sehat, dan hati nurani yang dipakai untuk menghadapi persoalan hidup, bukan untuk memenangkan argumen atau mencari pengakuan.
Warga yang berhikmat, menurut saya, adalah warga yang tidak menambah kekacauan di tengah masyarakat yang sudah cukup ramai dengan konflik. Ia justru jadi pembawa damai, ketenteraman, dan kemajuan, sekecil apa pun perannya.
Poin ini juga terasa relevan kalau kita menariknya ke konteks perayaan HUT kemerdekaan. Saya sempat membahasnya dari sudut pandang berbeda di tulisan ini: Makna HUT RI 78 Menurut Alkitab
Hikmat Dunia vs Hikmat Tuhan, Bedanya di Mana?
Supaya lebih mudah dibayangkan, saya coba ringkas perbandingannya begini. Tabel ini bukan rumus baku, cuma cara saya sendiri memetakan dua cara pandang yang sering bertabrakan dalam hidup sehari-hari.
| Aspek | 🌍 Hikmat Dunia | ✝️ Hikmat Tuhan (Pengkhotbah) |
| Ukuran Keberhasilan | Kekayaan, jabatan, popularitas | Hati yang takut akan Tuhan dan mengasihi |
| Cara Dipandang | Dari penampilan luar | Dari isi hati |
| Nasib "Orang Kecil" | Mudah dilupakan | Tetap diingat Tuhan, sekalipun dilupakan manusia |
| Fokus Utama | Diri sendiri, pengakuan | Kebaikan bersama, damai sejahtera |
Tapi saya perlu jujur, tabel ini tidak menangkap semuanya. Kadang dalam praktiknya dua hal ini bercampur, dan kita sendiri yang harus terus-menerus memeriksa hati, sedang berpegang pada hikmat yang mana.
Renungan lain yang menurut saya nyambung dengan tema hikmat dan kebangsaan ini bisa dibaca di sini: Menghargai Kemerdekaan, Mencintai Tanah Air, dan juga cerita inspiratif tentang gereja lintas negara yang tetap merayakan semangat kemerdekaan lewat iman: Pesan Kemerdekaan Indonesia Bergema di Stockholm
Pertanyaan yang Sering Muncul Soal Renungan Ini
Kenapa orang miskin yang berhikmat itu malah dilupakan? Bukannya harusnya dihormati? Ya, itu justru bagian yang paling menampar dari kisah ini. Pengkhotbah sengaja tidak menutupi kenyataan pahit itu. Manusia memang cenderung cepat lupa pada jasa yang tidak "berbunyi". Tapi pesannya bukan supaya kita pesimis, melainkan supaya kita tetap setia berbuat baik, sekalipun tidak diingat manusia, karena Tuhan tidak pernah lupa.
Apa hubungan renungan ini dengan tema kebangsaan dan kemerdekaan? Karena intinya sama: bangsa yang kuat bukan dibangun dari kekuasaan atau kekuatan militer semata, tapi dari warga-warganya yang mau hidup berhikmat, jujur, dan takut akan Tuhan, di posisi apa pun mereka berada.
Bagaimana cara praktis jadi "warga yang berhikmat" dalam hidup sehari-hari? Menurut saya, mulainya dari hal kecil: jujur di tempat kerja, tidak menambah keributan di media sosial, mau mendengar sebelum menghakimi, dan tetap setia berbuat baik walau tidak ada yang melihat. Sesederhana itu, tapi memang tidak mudah dijalani konsisten.
Kesimpulan
Pengkhotbah 9:13-18 mengingatkan kita, hikmat jauh lebih berharga daripada kekuatan, kekuasaan, atau kekayaan. Kisah orang miskin yang menyelamatkan kotanya menunjukkan bahwa kontribusi terbesar bagi bangsa tidak selalu datang dari mereka yang punya jabatan atau harta, tapi dari mereka yang mau hidup dengan hikmat dari Tuhan.
Sebagai warga bangsa, tugas kita bukan menunggu posisi tertentu untuk berbuat baik. Cukup dengan hati yang takut akan Tuhan, pengertian yang baik, dan akal sehat, kita sudah bisa jadi bagian dari pembangunan bangsa yang sesungguhnya: bangsa yang damai, tenteram, dan penuh kasih.
Pesan Gembala
Sekalipun dunia mudah melupakan jasa orang kecil, Tuhan tidak pernah demikian. Jadilah warga yang berhikmat, bukan untuk dikenang manusia, tapi karena itu yang Tuhan kehendaki dari hidup kita.
"Karena hikmat lebih baik dari pada kekuatan, sekalipun hikmat orang miskin itu dihina dan perkataannya tidak didengar orang." - Pengkhotbah 9:16
Selama masih ada satu warga yang mau berhikmat dan setia di hadapan Tuhan, sebuah kota, bahkan sebuah bangsa, tidak akan pernah benar-benar kehilangan harapannya.
Saya sendiri masih terus belajar soal ini, karena jujur, godaan untuk ingin "diakui" itu selalu ada. Apakah Anda pernah punya pengalaman berbuat baik tapi merasa dilupakan begitu saja? Yuk cerita di kolom komentar, saya benar-benar ingin dengar sudut pandang Anda.
Atau mungkin Anda justru punya kisah sebaliknya, tentang seseorang yang berhikmat dan akhirnya diingat dengan cara yang tidak terduga? Bagikan juga ya, siapa tahu jadi berkat buat pembaca lain.
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis renungan harian dan refleksi iman dari pengalaman pelayanan sehari-hari di gereja dan kehidupan bermasyarakat. Profil lengkap: yakangbioprofil



0 تعليقات