TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Akhiri Kekerasan Papua! Ini Pesan Kemanusiaan PGI yang Menggetarkan Hati

Akhiri Kekerasan Papua! Ini Pesan Kemanusiaan PGI yang Menggetarkan Hati

Akhiri Kekerasan Papua jadi seruan mendesak PGI usai tragedi di Intan Jaya dan Yahukimo. Simak pesan kemanusiaan PGI dan refleksi iman di baliknya.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Ilustrasi burung merpati damai terbang di atas gereja dan pegunungan Papua saat fajar, melambangkan seruan PGI mengakhiri kekerasan di Tanah Papua

Berita, Pena Rohani - Pesan Kemanusiaan PGI - Saya masih ingat rasanya membaca berita itu pertama kali. Bukan berita biasa yang lewat begitu saja di linimasa, tapi berita yang membuat saya berhenti sejenak, menatap layar ponsel, lalu menghela napas panjang. Seorang pendeta gugur. Seorang ibu hamil delapan bulan, bersama bayi yang belum sempat melihat dunia, ikut direnggut nyawanya. Seorang warga sipil ditemukan dengan luka yang sulit dibayangkan oleh akal sehat. Seorang pilot asing yang datang untuk mengabdi lewat penerbangan perintis, justru pulang dalam keadaan tak bernyawa. Dan seorang prajurit muda, yang bertugas menjaga keamanan, juga harus gugur.

Semua ini terjadi dalam hitungan hari saja, di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo, Tanah Papua. Dan di tengah duka yang begitu berat itu, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyuarakan sesuatu yang menurut saya penting untuk kita dengar bersama: akhiri kekerasan Papua, karena setiap nyawa yang hilang adalah luka bagi kemanusiaan kita semua.

Tulisan ini bukan sekadar rangkuman berita. Ini adalah ajakan untuk merenung bersama, sebagai umat percaya maupun sebagai sesama manusia, tentang apa yang sedang terjadi di ujung timur negeri kita.

Duka yang Tidak Bisa Dianggap Angka Statistik

Ada kecenderungan, ketika berita tentang Papua muncul, kita membacanya sekilas lalu menggeser layar ke berita berikutnya. Konflik di sana sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga bagi sebagian orang, ia terasa seperti "berita lama yang terus berulang". Tapi coba berhenti sejenak dan bayangkan: bagaimana rasanya jika yang gugur itu adalah gembala jemaat di gereja Anda sendiri? Bagaimana jika ibu hamil yang kehilangan nyawa bersama bayinya itu adalah anggota keluarga Anda?

Pdt. Elianus Agimbau adalah gembala jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) yang melayani di tengah situasi yang jauh dari kata aman. Melkiana Duwitau adalah seorang ibu yang sedang menantikan kelahiran anaknya, delapan bulan usia kandungannya, ketika nyawanya justru direnggut. Okto Tigau, warga sipil biasa, ditemukan meninggal dengan luka tembak dan dugaan penyiksaan yang berat. Captain Nicholas F. Goselin, pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, gugur ketika pesawat sipil AMA yang diterbangkannya diserang dan dibakar di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026. Dan Praka Bayu Oktara, seorang prajurit TNI, juga gugur dalam rangkaian kekerasan yang sama.

Di luar nama-nama itu, ribuan warga sipil terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka karena situasi keamanan yang terus memburuk. Bukankah ini semua terlalu berat untuk dianggap sekadar "angka" dalam laporan berita?

Bagi saya pribadi, membaca deretan nama ini terasa berbeda dibanding membaca laporan konflik pada umumnya. Ada wajah, ada profesi, ada peran dalam keluarga yang melekat di setiap nama itu. Seorang gembala. Seorang calon ibu. Seorang warga biasa yang sedang menjalani hidupnya. Seorang penerbang yang datang untuk menghubungkan pedalaman Papua dengan dunia luar. Seorang prajurit muda yang mungkin masih punya banyak rencana hidup. Semua itu sekarang tinggal kenangan.

Sikap Tegas PGI: Sebuah Seruan yang Lahir dari Hati yang Terluka

Menanggapi rentetan tragedi ini, PGI, melalui siaran persnya, tidak tinggal diam. Ketua Umum PGI, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu, menyampaikan sikap yang jelas dan tegas. Ia menegaskan bahwa apapun kepentingannya, baik politik maupun keamanan, menghilangkan nyawa manusia yang tidak bersalah tidak dapat dibenarkan.

Ilustrasi dua tangan berjabat dengan lilin menyala di tengah peta Papua, melambangkan ajakan dialog damai dan rekonsiliasi dari PGI

Ada beberapa poin penting yang disuarakan PGI, dan menurut saya, poin-poin ini layak direnungkan bukan hanya oleh pihak yang bertikai, tapi oleh kita semua sebagai bangsa:

Pertama, PGI mengecam keras segala bentuk pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, dan serangan bersenjata yang menimbulkan korban jiwa, termasuk serangan terhadap pesawat sipil dan warga tak bersenjata. Kedua, PGI menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin pudarnya penghormatan terhadap martabat manusia, sebab setiap orang diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki nilai yang tak tergantikan.

Ketiga, PGI mendesak semua pihak yang bertikai untuk menahan diri dan menghentikan segala bentuk kekerasan, karena keselamatan warga sipil seharusnya menjadi prioritas utama. Keempat, dan ini bagian yang menurut saya cukup berani, PGI menilai bahwa pendekatan militeristik yang selama ini diterapkan belum mampu menghadirkan solusi damai, justru melahirkan penderitaan panjang yang berulang bagi warga di daerah konflik.

Kelima, PGI mendesak agar seruan dialog damai yang selama ini disuarakan oleh gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil, benar-benar diwujudkan secara nyata dan bermartabat, bukan hanya wacana. Keenam, PGI mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas seluruh peristiwa ini melalui penyelidikan yang independen dan tidak memihak, disertai sanksi hukum yang berat bagi pelaku yang terbukti bersalah. Dan ketujuh, PGI meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk menegakkan hukum secara profesional dan transparan terhadap aparat yang patut diduga melanggar HAM.

Tabel berikut merangkum poin-poin sikap PGI agar lebih mudah dipahami, sebagaimana dilangsir dari Siaran Pers PGI :

NoSikap PGIInti Pesan
1Mengecam kekerasan bersenjataSemua bentuk pembunuhan dan penyiksaan tidak dapat dibenarkan
2Menegaskan martabat manusiaSetiap orang diciptakan menurut gambar Allah
3Mendesak penghentian kekerasanKeselamatan warga sipil harus jadi prioritas
4Mengevaluasi pendekatan militeristikPendekatan keamanan semata dinilai belum menghadirkan solusi damai
5Mendorong dialog damaiAjakan dialog dari gereja dan masyarakat sipil perlu diwujudkan nyata
6Mendesak investigasi independenPengusutan tuntas dan sanksi bagi pelaku yang terbukti bersalah
7Meminta penegakan hukum profesionalTNI dan Polri diminta transparan dan akuntabel
Sikap-sikap ini bukan sekadar pernyataan formal ala organisasi keagamaan. Bagi saya, ini adalah teriakan hati nurani yang mewakili banyak umat yang lelah melihat konflik berulang tanpa ujung yang jelas.

Mengapa Pendekatan Militeristik Terus Dipertanyakan?

Salah satu poin yang menarik perhatian saya adalah penilaian PGI terhadap pendekatan militeristik. Ini bukan pertama kalinya gereja-gereja di Papua menyuarakan hal serupa. Jauh sebelum tragedi ini, para pemimpin gereja sudah berulang kali mengingatkan bahwa Papua bukan sekadar wilayah yang bisa didekati dengan logika keamanan semata, melainkan tanah yang dihuni manusia dengan sejarah, budaya, dan luka panjang yang perlu disembuhkan lewat dialog, bukan senjata.

Sebelumnya, ketika delegasi PGI mendarat di Merauke, isu ini juga sudah ditegaskan bahwa Papua bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan manusia dengan kisah hidup yang nyata. Semangat yang sama juga tampak dalam catatan perjalanan iman dari perbatasan Merauke yang menyoroti pentingnya menjemput fajar perlawanan secara damai, bukan dengan kekerasan. Bahkan suara solidaritas dari sinode-sinode daerah, seperti yang disuarakan GMIT, menunjukkan bahwa keprihatinan terhadap Papua bukan isu lokal semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh tubuh gereja di Indonesia.

Saya pribadi melihat ini sebagai pola yang berulang: setiap kali ada eskalasi kekerasan, muncul seruan damai dari gereja, lalu situasi mereda sementara, lalu meletus lagi di kemudian hari. Pertanyaannya, sampai kapan pola ini akan terus berulang tanpa ada perubahan pendekatan yang mendasar?

Perspektif Kemanusiaan yang Lebih Luas

Yang menarik dari pernyataan PGI kali ini adalah bagaimana isu Papua dikaitkan dengan isu kemanusiaan global. Ada semangat yang sama dengan gerakan solidaritas dari belahan dunia lain, mulai dari Swiss hingga Papua, yang mempertanyakan apakah komitmen global terhadap hak asasi manusia hanya sekadar retorika atau benar-benar diwujudkan. Bahkan perbandingan dengan isu hak atas tanah dari Greenland hingga Merauke menunjukkan bahwa persoalan Papua sesungguhnya beririsan dengan isu global yang lebih besar: hak masyarakat adat atas tanah dan kehidupan mereka sendiri.

Ini mengingatkan saya bahwa Papua bukan sekadar isu domestik Indonesia semata, tapi bagian dari pergumulan kemanusiaan yang lebih luas tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang berada di pinggiran, jauh dari pusat kekuasaan dan sorotan media.

Sebagai orang Kristen, saya percaya bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, apapun latar belakang etnis, politik, atau posisinya dalam konflik. Ketika prinsip ini benar-benar dihayati, seharusnya tidak ada ruang untuk membenarkan kekerasan terhadap siapa pun, baik warga sipil, aparat, maupun pihak yang berseberangan secara politik.

Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Umat dan Warga Negara?

Membaca berita ini, mungkin sebagian dari kita bertanya, "Lalu apa yang bisa saya lakukan? Saya kan bukan tentara, bukan pejabat, bukan tokoh gereja besar." Pertanyaan ini wajar, dan menurut saya jawabannya sederhana namun tidak mudah dijalankan: mulai dari mendoakan dengan sungguh-sungguh, menahan diri dari menyebarkan opini yang memperkeruh suasana, dan mendukung suara-suara yang mengajak dialog damai, bukan yang memperuncing konflik.

Gereja lokal juga bisa mengambil peran nyata, misalnya dengan menggalang dukungan bagi pengungsi, membuka ruang diskusi jujur tentang Papua di komunitas masing-masing, atau sekadar menyebarkan informasi yang berimbang alih-alih ikut menyebarkan kebencian di media sosial. Langkah kecil ini mungkin terasa tidak signifikan, tapi ketika dilakukan bersama-sama oleh banyak orang, dampaknya bisa terasa.

FAQ Seputar Seruan PGI dan Kekerasan di Papua

Kenapa PGI baru bersuara sekarang, padahal konflik Papua sudah lama terjadi? Sebenarnya PGI dan gereja-gereja di Papua sudah berulang kali menyuarakan keprihatinan mereka selama bertahun-tahun. Namun eskalasi kekerasan yang menewaskan banyak korban dalam waktu berdekatan, termasuk seorang pendeta dan ibu hamil, membuat PGI merasa perlu menyampaikan sikap resmi yang lebih tegas.

Apakah PGI memihak salah satu pihak dalam konflik ini? Dari pernyataan resminya, PGI menekankan kecaman terhadap segala bentuk kekerasan tanpa memandang siapa pelakunya, baik itu kelompok bersenjata maupun aparat keamanan. Fokus utamanya adalah perlindungan nyawa dan martabat manusia, bukan keberpihakan politik.

Apa solusi yang ditawarkan PGI untuk mengakhiri kekerasan Papua? PGI mendorong dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, dan masyarakat sipil, disertai penyelidikan independen atas berbagai peristiwa kekerasan dan penegakan hukum yang adil terhadap siapa pun yang terbukti bersalah.

Bagaimana saya bisa membantu meski tinggal jauh dari Papua? Doa yang sungguh-sungguh, dukungan untuk pengungsi lewat lembaga yang kredibel, serta menyebarkan informasi yang berimbang dan tidak provokatif adalah langkah nyata yang bisa dilakukan siapa saja.

Kesimpulan

Tragedi yang terjadi di Intan Jaya dan Yahukimo mengingatkan kita bahwa konflik Papua bukan sekadar berita politik yang jauh dari kehidupan kita, melainkan persoalan kemanusiaan yang mendesak untuk diselesaikan. PGI, lewat pernyataannya, menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan, penghormatan terhadap martabat manusia, evaluasi pendekatan militeristik, dan perwujudan nyata dialog damai. Semua pihak, baik kelompok bersenjata, aparat keamanan, maupun pemerintah, diajak untuk menempatkan keselamatan warga sipil di atas kepentingan lainnya.

Ilustrasi salib kayu di atas bukit menghadap desa Papua saat senja, melambangkan pengharapan dan damai sejahtera bagi Tanah Papua

Pesan Pengutusan

Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah dunia yang penuh dengan kekerasan dan kebencian. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Matius 5:9

"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." 

Marilah kita menjadikan doa dan tindakan nyata kita sebagai wujud panggilan itu, khususnya bagi saudara-saudara kita di Tanah Papua yang sedang berduka.

Di tengah bumi Papua yang basah oleh air mata, Tuhan sedang menabur benih damai yang kelak akan bertumbuh menjadi keadilan dan pemulihan bagi setiap anak-Nya yang menantikan fajar baru.

Bagaimana menurut Anda, apakah dialog damai benar-benar bisa terwujud di tengah kompleksnya persoalan Papua, atau adakah langkah lain yang menurut Anda lebih mendesak untuk dilakukan? Saya juga ingin tahu, sebagai umat Kristen, bagaimana cara Anda mendoakan situasi ini di gereja atau keluarga masing-masing? Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar.


Tentang Penulis

Akang Loger Penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Menulis dari keprihatinan dan refleksi iman terhadap isu-isu kemanusiaan dan kehidupan bergereja di Indonesia. Profil selengkapnya: yakangbioprofil

0Comments