Kalau anak-anak selalu disebut sebagai "masa depan", lalu bagaimana dengan hari ini? Bagaimana dengan anak yang malam ini tidur tanpa cukup makan di salah satu desa pesisir Rote Ndao? Bagaimana dengan anak perempuan berusia empat belas tahun yang justru sedang dipersiapkan keluarganya untuk menikah, bukan untuk melanjutkan sekolah?
Pertanyaan semacam inilah yang mengemuka dalam Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Teritori Rote Ndao yang diselenggarakan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Jemaat Betania Baa, Klasis Lobalain. Dan dari perayaan itu, lahir satu pergeseran cara pandang yang sederhana namun mendalam: anak bukan sekadar investasi masa depan, melainkan jemaat dan warga masyarakat yang utuh, hari ini juga.
Ketika "Masa Depan" Jadi Alasan untuk Menunda
Ungkapan bahwa anak adalah "pemimpin hari esok" sebenarnya tidak keliru. Tapi kalimat itu punya efek samping yang jarang disadari: ia membuat kita, secara tidak sengaja, menunda tanggung jawab. Kalau anak baru "berharga" nanti, maka hak-hak mereka hari ini pun jadi terasa bisa ditunda.
Padahal di lapangan, tantangan yang dihadapi anak-anak di wilayah kepulauan seperti Rote Ndao sama sekali tidak bisa menunggu. Gizi buruk masih jadi persoalan nyata di sejumlah desa pesisir. Akses layanan kesehatan yang jauh dari kata memadai. Ancaman kekerasan yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah. Dan yang tak kalah mengkhawatirkan, perkawinan anak yang di beberapa kampung masih dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan, padahal justru memutus masa depan anak itu sendiri.
Semua ini bukan angka statistik yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ini terjadi di rumah tetangga, di jemaat sebelah, bahkan mungkin di dalam keluarga sendiri. Karena itu, forum GMIT dalam perayaan HAN kali ini menegaskan satu hal: pemenuhan hak anak harus mencakup perlindungan yang utuh, atas jiwa, tubuh, akal budi, dan relasi sosial mereka. Tidak bisa setengah-setengah, apalagi ditunda-tunda.
Dan untuk urusan sebesar ini, tidak ada satu lembaga pun termasuk gereja sekalipun yang sanggup berjalan sendirian.
"Butuh Satu Kampung untuk Membesarkan Anak"
Empat pilar itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing punya peran yang saling menutupi kelemahan yang lain.
| Pilar | Peran Utama |
| Keluarga | Fondasi iman, kasih sayang, dan pendidikan karakter pertama |
| Gereja | Pengayom rohani dan ruang pelayanan bagi anak masa kini |
| Adat | Benteng kearifan lokal dan penegakan norma sosial |
| Negara | Penjamin regulasi dan layanan publik dasar |
Tabel di atas terlihat rapi, tapi kenyataannya di lapangan jauh lebih berantakan dan manusiawi daripada sekadar empat kotak yang saling melengkapi.
Keluarga: Fondasi yang Kadang Rapuh
Keluarga memang disebut sebagai pilar pertama dan utama, tempat anak pertama kali belajar tentang kasih, iman, dan siapa dirinya. Tapi realitanya, tidak semua keluarga di Rote Ndao punya kapasitas yang sama untuk menjalankan peran itu. Ada orang tua yang harus melaut dari subuh hingga sore, ada yang berjuang dengan keterbatasan ekonomi, ada pula yang sebenarnya juga butuh didampingi agar bisa mendampingi anaknya dengan baik.
Di sinilah letak pentingnya pilar-pilar lain bukan untuk menggantikan peran keluarga, melainkan menopangnya.
Gereja sebagai Pengayom, Bukan Penonton
GMIT lewat forum ini menegaskan bahwa gereja tidak boleh hanya menjadi tempat anak-anak "ditampilkan" saat perayaan tahunan, lalu dilupakan sesudahnya. Gereja dipanggil untuk membimbing pertumbuhan rohani anak secara berkelanjutan, merangkul mereka sebagai bagian pelayanan yang aktif hari ini bukan besok serta terus menyuarakan perlindungan anak, termasuk berani bicara ketika ada indikasi kekerasan atau eksploitasi.
Sebagaimana pernah dibahas dalam artikel gereja melayani, guru sejahtera demi tumbuh kembang utuh anak, kesejahteraan orang-orang di sekitar anak termasuk guru dan pendamping rohani juga menentukan seberapa utuh perlindungan yang bisa diberikan gereja kepada anak-anaknya.
Adat: Kearifan Lokal yang Sering Diremehkan
Ini bagian yang menurut penulis paling sering luput dari perhatian publik luas. Lembaga adat di Rote Ndao sebenarnya punya kekuatan moral yang besar untuk menekan angka kekerasan terhadap anak, sesuatu yang kadang tidak bisa dicapai hanya lewat jalur hukum formal. Nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun bisa menjadi alat penegakan sosial yang efektif, asal digandeng dengan benar, bukan dipinggirkan.
Negara: Penjamin yang Harus Hadir Sampai ke Pelosok
Pilar keempat, pemerintah daerah, punya tugas memastikan layanan publik kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial benar-benar sampai ke pelosok dan wilayah pesisir, bukan berhenti di kantor kecamatan. Dalam perayaan HAN ini, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, secara langsung menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus hadir mendukung agenda anak dan pemuda. Salah satu langkah konkret yang dijanjikan adalah membuka ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung, baik kepada pemerintah maupun masyarakat luas.
Ini bukan basa-basi seremonial. Ruang bersuara semacam ini penting justru karena selama ini anak-anak lebih sering menjadi objek pembicaraan orang dewasa, bukan subjek yang didengar langsung suaranya.
Suara dari Forum Anak GMIT
Di sisi lain, anak-anak sendiri diajak untuk turut berkomitmen: tekun belajar, taat kepada orang tua, dan takut akan Tuhan. Ini bukan beban sepihak. Perlindungan anak selalu berjalan dua arah orang dewasa melindungi, dan anak-anak pun diberi ruang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Semangat kolaboratif semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam tubuh GMIT. Sebagaimana pernah diulas dalam catatan tentang PAR Gereja Soe yang berbenah menyulam harapan lindungi anak, setiap klasis punya cara masing-masing menerjemahkan komitmen perlindungan anak ke dalam langkah nyata di lapangan, sesuai konteks dan tantangan wilayahnya.
Tiga Langkah Strategis ke Depan
Agar Sinergi 4 Pilar ini tidak berhenti sebagai jargon perayaan tahunan, forum HAN Rote Ndao merumuskan sejumlah langkah taktis yang perlu segera dijalankan bersama:
- Penguatan layanan dasar akses kesehatan dan gizi yang benar-benar merata hingga ke pulau-pulau kecil dan desa terpencil, bukan hanya tersedia di pusat kota kabupaten.
- Penegakan hukum kolaboratif memadukan hukum formal dengan hukum adat, agar pelaku kekerasan terhadap anak benar-benar mendapat efek jera, sekaligus proses pemulihan bagi korban berjalan dengan pendampingan yang tepat.
- Edukasi literasi digital membekali anak-anak sekaligus orang tua agar mampu memilah informasi dengan bijak, mengingat ancaman di era digital tidak kalah nyata dibanding ancaman fisik di dunia nyata.
Pertanyaan yang Sering Muncul dari Jemaat
Kenapa harus empat pilar, bukan cukup gereja dan keluarga saja? Karena persoalan seperti kekerasan anak dan perkawinan dini seringkali punya akar hukum dan sosial yang tidak bisa diselesaikan hanya lewat nasihat rohani. Adat menyentuh sisi norma sosial, negara menyentuh sisi regulasi dan layanan keduanya sama pentingnya dengan peran keluarga dan gereja.
Apakah program ini hanya berlaku selama perayaan HAN saja? Semangatnya justru sebaliknya. HAN dijadikan momentum untuk menegaskan komitmen, tapi implementasi tiga langkah strategis di atas dimaksudkan berjalan sepanjang tahun, bukan seremonial belaka.
Bagaimana peran jemaat biasa, bukan pengurus gereja, dalam sinergi ini? Sederhana saja: mulai dari kepekaan. Jemaat yang jeli melihat tanda-tanda anak tetangga yang tidak terurus, lalu berani bicara kepada pendeta atau tokoh adat setempat, sudah menjalankan bagian dari pilar keluarga dan gereja sekaligus.
Kesimpulan
Melindungi anak-anak di Rote Ndao bukan proyek satu pihak, dan bukan pula seremoni tahunan yang selesai begitu panggung HAN dibongkar. Ia adalah kerja bersama yang mengikat keluarga sebagai fondasi iman, gereja sebagai pengayom, adat sebagai benteng kearifan lokal, dan pemerintah sebagai penjamin regulasi. Ketika keempatnya berjalan beriringan, anak-anak Rote Ndao tidak lagi hanya dijanjikan "masa depan yang cerah", tetapi benar-benar mengalami perlindungan yang nyata hari ini.
Pesan Gembala
Bagi umat Kristen, komitmen melindungi anak bukan sekadar program sosial, melainkan panggilan iman. Yesus sendiri pernah menegur murid-murid-Nya yang hendak menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, lalu berkata:
"Biarkan anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku! Sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 19:14)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa merangkul dan melindungi anak bukan tugas tambahan gereja, melainkan inti dari panggilan pelayanan itu sendiri.
Profetik
Ketika keluarga, gereja, adat, dan pemerintah berjalan dalam satu barisan yang sama demi anak-anak Rote Ndao, di situlah Kerajaan Allah dinyatakan lebih dekat bukan nanti, melainkan hari ini juga.
Penulis sendiri percaya bahwa perubahan sebesar apa pun selalu dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten dilakukan di tingkat jemaat dan keluarga. Bagaimana dengan Anda apakah di lingkungan gereja atau kampung Anda sudah ada bentuk sinergi serupa untuk melindungi anak-anak? Atau justru Anda punya pengalaman lain yang ingin dibagikan? Yuk, ceritakan di kolom komentar.
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis seputar refleksi iman, kehidupan gereja, dan isu-isu sosial kemasyarakatan dari perspektif Kristen. Profil selengkapnya: yakangbioprofil




0 Comments