Saya diam sejenak. Pertanyaan itu bukan pertanyaan teologis yang bisa dijawab dengan kutipan ayat semata. Itu pertanyaan dari hati yang terluka, yang sudah lelah berjuang, dan takut kalau-kalau Tuhan tidak lagi berkenan padanya.
Pertanyaan "masih suka sesama jenis, apakah belum bertobat?" ini memang bukan pertanyaan baru. Ia muncul berulang-ulang, baik di ruang konseling gereja, di kolom komentar media sosial, sampai di grup WhatsApp persekutuan. Dan sayangnya, jawaban yang sering diberikan cenderung terlalu sederhana: kalau sudah bertobat, ketertarikan itu harus hilang total, titik.
Saya sendiri, setelah bertahun-tahun menulis dan berinteraksi dengan banyak orang percaya yang bergumul dengan hal ini, merasa perlu untuk duduk lebih dalam dan menimbang ulang: apakah benar Alkitab mengajarkan pertobatan seperti itu?
Pertobatan Itu Soal Arah Hidup, Bukan Sekadar Perasaan
Ini yang paling sering disalahpahami. Banyak dari kita termasuk saya dulu menyamakan pertobatan dengan hilangnya perasaan atau godaan tertentu. Padahal pertobatan Kristen sejatinya bukan tentang perasaan yang instan berubah, melainkan tentang perubahan arah hidup.
Kalau kita mau jujur membaca Alkitab, pertobatan sejati itu soal hati yang berbalik kepada Tuhan Yesus, soal komitmen untuk hidup taat, bukan soal apakah ketertarikan tertentu langsung lenyap seketika. Orang yang bertobat dari kebiasaan marah, misalnya, tidak otomatis kebal dari rasa marah seumur hidupnya. Ia belajar mengelolanya, menyerahkannya, hari demi hari.
Begitu pula dengan seseorang yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis. Ia bisa saja tetap merasakan dorongan itu, tapi memilih untuk tidak menghidupinya, karena hidupnya sudah ia serahkan penuh kepada Yesus Kristus. Itu bukan kegagalan iman. Itu justru bukti bahwa ia sedang berjuang.
Saya percaya banyak dari kita perlu belajar ulang membedakan dua hal ini: perasaan yang muncul dan pilihan yang diambil. Dua hal itu tidak selalu sejalan, dan itu wajar.
Godaan Bukan Dosa Ini yang Sering Terlupa
Ada satu kebenaran sederhana yang, entah kenapa, sering hilang dari percakapan soal ini: pencobaan itu sendiri bukan dosa.
Coba pikirkan Yesus sendiri. Dalam Alkitab dicatat bahwa Ia dicobai di padang gurun, tapi Ia tidak berdosa karena dicobai Ia berdosa hanya jika Ia jatuh ke dalamnya. Prinsip ini berlaku sama untuk semua orang percaya, tanpa memandang bentuk pencobaannya.
Orang heteroseksual juga menghadapi godaan hawa nafsu, godaan perzinaan, godaan untuk mengejar hubungan di luar nikah. Mereka yang bergumul dengan homoseksualitas menghadapi jenis pencobaan yang berbeda, tapi bukan sesuatu yang membuat mereka lebih "berdosa" dibanding orang lain. Semua orang punya pergumulannya sendiri-sendiri.
Yang Tuhan minta bukan supaya kita tidak pernah dicobai itu mustahil selama kita masih hidup di dunia ini melainkan supaya kita menjaga kekudusan hidup di tengah pencobaan itu. Itu panggilan yang sama untuk semua orang, tanpa terkecuali.
Kalau Anda sedang berjuang dengan perasaan bersalah karena godaan yang datang berulang, saya mau bilang: itu bukan tanda Anda belum bertobat. Itu tanda Anda masih manusia, dan sedang berperang melawan dosa bukan menyerah padanya.
Penguasaan Diri: Bukti Nyata Roh Kudus Bekerja
Jadi ketika dorongan dosa tidak langsung hilang setelah seseorang bertobat, penguasaan diri itulah yang menjadi bukti bahwa Roh Kudus sedang bekerja dalam hidupnya. Bukan ketidakadaan godaan, tapi kemampuan untuk tidak menyerah padanya.
Saya jadi teringat seorang teman lama yang pernah cerita bagaimana ia bergumul dengan hal ini selama belasan tahun. Ia bilang, "Aku nggak pernah merasa perasaan ini hilang total. Tapi aku belajar untuk memikul salibku setiap hari, dan itu yang membuatku terus dekat dengan Tuhan."
Memikul salib setiap hari itu bukan slogan rohani kosong. Bagi sebagian orang, itu berarti menyangkal diri dari sesuatu yang terasa begitu personal dan berat. Dan Alkitab tidak pernah bilang itu mudah justru sebaliknya, Yesus sendiri berkata siapa yang mau mengikut Dia harus memikul salibnya (Lukas 9:23).
Satu hal lagi yang penting: Alkitab mengajarkan bahwa kasih tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk hubungan romantis atau seksual (kasih Eros). Ada bentuk kasih yang lebih murni dan tidak kalah dalam kasih Agape yang bisa disalurkan lewat persahabatan, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama, tanpa harus melibatkan relasi romantis sama sekali.
Identitas Anda Bukan Label Pergumulan Anda
Ini bagian yang menurut saya paling penting, dan paling sering dilupakan gereja.
Di dalam Kristus, identitas seseorang bukanlah label pergumulannya entah itu "gay", "lesbian", atau apa pun sebutan yang sering ditempelkan orang. Identitas dalam Kristus jauh lebih dalam dari itu: kita adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17), anak-anak Allah, milik Kristus.
Seseorang tidak perlu menjadi heteroseksual terlebih dahulu untuk bisa dipandang hidup kudus di hadapan Tuhan. Yang Tuhan lihat bukan orientasi atau ketertarikan yang muncul begitu saja tanpa kita minta, tapi bagaimana kita merespons ketertarikan itu apakah kita menghidupinya, atau memilih untuk tetap taat.
Kemenangan sejati dalam doktrin kekristenan bukan berarti seluruh godaan lenyap tanpa bekas. Kemenangan sejati adalah ketika Kristus menjadi Tuhan atas hidup kita, dan kita terus memilih untuk taat, hari demi hari, meski pergumulan itu masih ada.
Saya pribadi percaya, kalau gereja lebih fokus mengajarkan hal ini bahwa identitas kita di dalam Kristus lebih besar dari pergumulan apa pun akan lebih banyak orang yang berani jujur soal perjuangan mereka, tanpa takut dihakimi.
Panggilan Bagi Gereja: Jadi Rumah, Bukan Ruang Sidang
Terlalu sering, pelayanan pastoral gereja justru menjadi tempat yang menakutkan bagi orang-orang yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis. Mereka takut cerita, takut dihakimi, takut dikucilkan. Padahal gereja seharusnya menjadi tempat pertama yang mereka datangi ketika bergumul, bukan tempat terakhir yang mereka hindari.
Saya pernah membaca sebuah renungan yang mengingatkan saya tentang bagaimana kasih yang tulus bisa memulihkan relasi yang retak Anda bisa baca lebih dalam soal ini di Kasih yang Memulihkan Relasi. Prinsip yang sama berlaku di sini: gereja dipanggil untuk memulihkan, bukan menghakimi.
Konseling Kristen yang sehat itu bukan tentang memaksa seseorang berubah orientasi dalam waktu singkat, melainkan tentang mendampingi seseorang bertumbuh dalam pergumulan iman-nya, sabar, dan penuh kasih sama seperti Tuhan sabar terhadap kita semua yang punya pergumulan masing-masing, apa pun bentuknya.
Kalau gereja Anda punya keluarga yang sedang berjuang dengan hal-hal seperti ini, mungkin renungan tentang Keluarga yang Hidup dalam Kebaikan bisa menjadi bahan diskusi yang membangun bersama.
Tabel Singkat: Miskonsepsi vs Pemahaman Alkitabiah
Saya coba ringkas beberapa hal yang sering disalahpahami, biar lebih mudah dibaca:
| Miskonsepsi Umum | Pemahaman yang Lebih Alkitabiah |
| Bertobat = ketertarikan langsung hilang | Bertobat = arah hidup berubah, godaan tetap ada tapi tidak dihidupi |
| Godaan = dosa | Godaan bukan dosa, menyerah pada godaan itulah dosa |
| Harus jadi heteroseksual dulu baru kudus | Kekudusan diukur dari ketaatan, bukan orientasi |
| Identitas = label pergumulan | Identitas = ciptaan baru di dalam Kristus |
Tabel ini tentu tidak menjawab semua pertanyaan, tapi setidaknya bisa jadi titik awal untuk merenung lebih dalam.
Kalau Perasaan Itu Tidak Kunjung Hilang, Apa yang Harus Dilakukan?
Ini pertanyaan yang paling sering saya terima setelah menulis topik-topik seperti ini. Saya tidak akan berpura-pura punya jawaban instan, tapi ada beberapa hal yang bisa jadi pegangan:
- Jangan berhenti mendekatkan diri kepada Tuhan lewat doa dan firman, bahkan ketika pergumulan itu belum hilang.
- Cari komunitas atau mentor rohani yang aman untuk bercerita, bukan yang akan langsung menghakimi.
- Ingat bahwa proses pertumbuhan rohani itu panjang, bukan instan dan itu berlaku untuk semua jenis pergumulan, bukan hanya ini.
- Jangan biarkan rasa bersalah membuat Anda menjauh dari Tuhan justru itulah saat yang paling Anda perlukan Dia.
Kalau Anda sedang merasa sendirian dalam pergumulan ini, saya sarankan membaca renungan Pulihkanlah Kami dari Perasaan Sendirian dan Sepi dalam Pergumulan Hidup. Rasanya seperti ditulis untuk momen-momen seperti ini.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Kak, kalau saya masih suka sesama jenis, artinya saya belum bertobat ya? Belum tentu. Pertobatan itu soal arah hati dan pilihan hidup, bukan soal apakah suatu perasaan langsung hilang begitu saja. Yang penting adalah apakah Anda memilih untuk taat, bukan apakah godaan itu masih muncul.
Apakah saya bisa dianggap hidup kudus kalau perasaan itu masih ada? Kekudusan diukur dari respons Anda terhadap godaan, bukan dari ada atau tidaknya godaan itu. Selama Anda tidak menghidupinya dan terus berjuang, itu adalah bagian dari hidup kudus.
Haruskah saya cerita ke gereja soal pergumulan ini? Kalau ada mentor atau komunitas yang Anda percaya aman dan tidak menghakimi, cerita bisa sangat membantu. Tapi kalau belum menemukan itu, mulai dulu dari kedekatan pribadi dengan Tuhan lewat doa.
Apa bedanya godaan dan dosa dalam konteks ini? Godaan adalah dorongan atau pikiran yang muncul tanpa kita minta. Dosa terjadi ketika kita memilih untuk menyerah dan menghidupi godaan itu. Godaan sendiri bukan sesuatu yang membuat Anda bersalah di hadapan Tuhan.
Kesimpulan
Pertanyaan "masih suka sesama jenis, apakah belum bertobat?" tidak punya jawaban sesederhana ya atau tidak. Pertobatan sejati adalah soal perubahan arah hidup dan hati yang taat kepada Tuhan Yesus, bukan soal hilangnya suatu perasaan secara instan. Godaan bukan dosa. Penguasaan diri adalah bukti Roh Kudus bekerja. Dan identitas kita di dalam Kristus jauh lebih besar dari label pergumulan apa pun yang kita bawa.
Pesan Gembala
Sahabat, kalau hari ini Anda sedang berjuang dan merasa lelah, ingatlah bahwa Tuhan tidak menuntut kesempurnaan instan dari Anda Dia menuntut ketaatan yang terus bertumbuh. "Karena itu siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus 5:17). Anda bukan didefinisikan oleh pergumulan Anda, tapi oleh siapa Anda di dalam Kristus.
Profetik
Tuhan sedang menuntun setiap hati yang berjuang menuju kekudusan yang bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari kasih-Nya yang memampukan kita berjalan satu langkah lebih dekat setiap hari.
Saya sendiri belajar banyak hal ini bukan dari buku teologi semata, tapi dari mendengarkan cerita orang-orang yang berani jujur soal pergumulan mereka. Apakah Anda punya pengalaman atau pandangan berbeda soal topik ini? Yuk cerita di kolom komentar saya benar-benar ingin dengar sudut pandang Anda, atau silahkan share tulisan ini di Sosmed dengan cerita-cerita Anda. (al)**
Tentang Penulis
Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis tentang iman, relasi, dan pergumulan hidup sehari-hari dari sudut pandang Alkitab. Profil: yakangbioprofil



0 Comments