TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
0
    0
      Berita Terkini

      Gelar Festival Bulan Keluarga 2026 SD GMIT Adakan Futsal dan Fashion Show

      Festival Bulan Keluarga 2026 diikuti 12 SD GMIT se-Kota Kupang. Ada futsal, fashion show, tari kreasi, dan kuis keluarga hingga 24 Oktober 2026.

      Anak-anak SD GMIT bermain futsal dan tampil fashion show dalam Festival Bulan Keluarga 2026 di Kota Kupang

      Lapangan futsal di SD GMIT Manulai II, Kecamatan Alak, 2 Oktober 2026. Festival Bulan Keluarga 2026 resmi dibuka hari itu, dan SD GMIT mengadakan futsal dan fashion show sebagai dua acara andalannya.

      Pesertanya datang dari 12 Sekolah Dasar GMIT se-Kota Kupang. Festival ini berlangsung sampai 24 Oktober 2026.

      Tulisan ini merangkum apa saja yang dilombakan, siapa penyelenggaranya, dan mengapa perayaan seperti ini layak dilihat lebih dari sekadar acara sekolah.

      Apa Itu Festival Bulan Keluarga 2026 Antar-SD GMIT?

      Festival ini digelar oleh Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Priskila Kota Kupang untuk memeriahkan Bulan Keluarga GMIT 2026. Pelaksananya Forum Guru dan Tenaga Kependidikan.

      Tema yang dipilih cukup membumi: "Memulai dengan Langkah Kecil untuk Perubahan yang Besar." Tidak ada slogan muluk-muluk di sana.

      Bagi jemaat GMIT, Bulan Keluarga adalah masa ketika gereja mengajak keluarga berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana rumah kita sebenarnya? Kali ini pertanyaan itu dibawa ke sekolah.

      Ringkasan Fakta Festival

      Berikut data pokoknya, supaya mudah dicek dan dibagikan.

      KategoriDetail Informasi
      Nama KegiatanFestival Bulan Keluarga 2026 antar-SD GMIT
      PenyelenggaraYapenkris Priskila Kota Kupang (melalui Forum Guru dan Tenaga Kependidikan)
      Pusat KegiatanSD GMIT Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang
      Jadwal Pelaksanaan

      Pembukaan: Jumat, 2 Oktober 2026


      Berlangsung hingga: 24 Oktober 2026

      Peserta12 SD GMIT di Kota Kupang
      Tema“Memulai dengan Langkah Kecil untuk Perubahan yang Besar”
      Lomba & Kegiatan

      • Futsal


      • Fashion Show


      • Tari Kreasi


      • Kuis Keluarga


      • Talent Show


      • Pameran Karya Siswa


      • Ibadah Bersama

      Futsal dan Fashion Show: Dua Panggung, Dua Cara Anak Bertumbuh

      Perbandingan lomba futsal dan fashion show siswa SD GMIT yang melatih keberanian dan sportivitas anak

      Dari semua mata acara, futsal dan fashion show paling mudah menarik perhatian. Yang satu penuh keringat dan teriakan, yang satu penuh senyum gugup di atas panggung.

      Keduanya kelihatan bertolak belakang. Padahal keduanya melatih hal yang sama: berani tampil dan siap menerima hasil.

      Turnamen Futsal SD GMIT: Belajar Kalah dengan Kepala Tegak

      Turnamen futsal dibuka secara simbolis lewat tendangan kick-off. Sekretaris Sinode GMIT bersama jajaran pengurus dan pimpinan gereja terkait yang melakukannya.

      Anak SD bermain futsal dengan semangat penuh, tapi belum selalu dengan kendali emosi. Justru di situlah nilainya. Di lapangan kecil itu mereka belajar bergantian mengoper bola, menerima keputusan wasit, dan bersalaman dengan lawan setelah peluit panjang.

      Hal-hal itu sulit diajarkan lewat ceramah. Lapangan mengajarkannya lebih cepat.

      Fashion Show SD GMIT: Percaya Diri Itu Dilatih

      Fashion show sering dipandang sebelah mata, seolah hanya soal baju bagus. Menurut saya, itu penilaian yang terburu-buru.

      Berjalan sendirian di depan banyak orang adalah ujian nyata bagi anak berusia sekolah dasar. Ada yang lancar, ada yang kaku, ada yang lupa melangkah. Semuanya sedang belajar bahwa gugup itu wajar dan tampil itu bisa dilatih.

      Kalau ada kostum daerah atau busana bertema yang dikenakan, itu bonus: anak sekaligus mengenal identitas budayanya. Detail kostum dan kriteria penilaiannya tidak dirinci dalam informasi yang saya terima, jadi sebaiknya ditanyakan langsung ke panitia atau sekolah masing-masing.

      Kegiatan Lain yang Tak Kalah Penting

      Festival ini juga memuat tari kreasi, kuis keluarga, talent show, dan pameran karya siswa. Ada pula ibadah bersama, yang menjaga agar seluruh rangkaian tetap berpusat pada iman dan bukan hanya perlombaan.

      Kuis keluarga patut dicatat. Kegiatan ini mengundang orangtua ikut terlibat, bukan hanya menonton dari bangku penonton.

      Mengapa Sekretaris Sinode GMIT Memberi Apresiasi?

      Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menilai Yapenkris Priskila berhasil memadukan perayaan gereja dengan kegiatan sekolah. Itu terobosan yang jarang dilakukan, karena biasanya kedua dunia ini berjalan sendiri-sendiri.

      Beliau juga menekankan manfaat fisik dan sosialnya. Aktivitas bergerak dan berinteraksi langsung membantu menyelaraskan kecerdasan kinetik dan intelektual anak. Efek lainnya, anak lebih jauh dari stres dan kecanduan gawai.

      Poin terakhir itu mengena bagi banyak keluarga. Banyak orangtua tahu layar terlalu lama itu tidak sehat, tetapi sulit menyediakan alternatif yang benar-benar menarik bagi anak. Festival seperti ini memberi alternatif tersebut.

      Komitmen Yapenkris: Mutu Pendidikan dan Kepercayaan Publik

      Ketua Yapenkris Priskila Kota Kupang, Ariyandi Benygerius Mauko, S.Pd., M.Hum., menyebut kegiatan ini sebagai komitmen nyata pengurus. Seluruh sumber daya yayasan diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kepercayaan publik terhadap sekolah-sekolah GMIT.

      Kata kuncinya kepercayaan. Orangtua memilih sekolah bukan hanya dari nilai rapor, tetapi dari rasa aman dan keyakinan bahwa anaknya dibentuk dengan baik.

      Sekolah yang rajin menghadirkan ruang bagi karakter, bakat, dan kebersamaan perlahan membangun kepercayaan itu. Festival adalah salah satu bukti yang bisa dilihat langsung oleh banyak orang sekaligus.

      Dimensi Rohani: Dari Langkah Kecil ke Perubahan Besar

      Tema festival mengingatkan saya pada satu ayat dari nabi Zakharia: "Sebab siapa yang menghina hari peristiwa-peristiwa yang kecil?" (Zakharia 4:10a, TB). Dalam konteks aslinya, ayat ini bicara tentang pembangunan Bait Allah yang dimulai dari hal sederhana.

      Pesan itu terasa dekat dengan pendidikan anak. Satu pertandingan futsal, satu penampilan di panggung, satu doa bersama di akhir acara: semuanya tampak kecil. Tetapi hal-hal kecil itulah yang menyusun karakter.

      Amsal juga memberi pegangan bagi orangtua dan guru: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6, TB). Mendidik berarti menyiapkan jalan, dan festival ini adalah salah satu jalannya.

      Gereja dan Sekolah Tidak Bekerja Sendiri-sendiri

      Pembentukan iman tidak berhenti di ruang kebaktian. Tulisan tentang peran orangtua dalam mewariskan iman, bukan sekadar nama menegaskan bahwa orangtua tetap pendidik pertama. Sekolah dan gereja melengkapi, bukan menggantikan.

      Hal serupa terlihat pada perayaan anak-anak di jemaat. Misalnya ketika anak-anak menjadi bintang di puncak Tri Ganda GMIT Jemaat Tubutuan. Anak yang diberi ruang tampil di gereja cenderung lebih percaya diri di mana pun ia berada.

      Mengapa Keluarga Perlu Ikut Terlibat

      Keluarga Kristen mendampingi anak setelah Festival Bulan Keluarga GMIT 2026 dengan tema langkah kecil perubahan besar

      Festival ini bertema Bulan Keluarga, jadi akan janggal jika keluarga hanya menjadi penonton. Kehadiran orangtua di pinggir lapangan atau di bangku depan panggung sering lebih berarti bagi anak daripada pialanya.

      Anak yang melihat ayah dan ibunya bersorak, bahkan saat timnya kalah, mengerti bahwa ia dicintai tanpa syarat. Sikap seperti ini juga dibahas dalam renungan tentang merawat kasih dan kesetiaan dalam keluarga.

      Ada juga sisi praktis yang sering terlupa: biaya. Seragam, kostum, transportasi, dan konsumsi bisa menambah pengeluaran rumah tangga. Prinsip dalam pengelolaan keuangan secara bijak menurut Alkitab berguna di sini: rencanakan dari awal agar kegembiraan anak tidak berubah menjadi beban orangtua.

      Apa yang Bisa Dipelajari dari Festival Ini

      Sebagai penulis yang mengikuti kabar gereja dan pendidikan Kristen sejak 2021, saya melihat beberapa pola yang layak ditiru sekolah atau jemaat lain.

      • Libatkan banyak sekolah sekaligus. Saling mengenal, dan itu membangun rasa sebagai satu keluarga besar GMIT.
      • Campur lomba fisik, seni, dan rohani. Anak punya bakat berbeda, dan setiap anak perlu menemukan panggungnya.
      • Beri waktu yang cukup. Rentang tiga pekan memberi ruang bagi anak untuk berlatih dan bagi keluarga untuk hadir tanpa terburu-buru.
      • Pakai tema yang jujur. "Langkah kecil" mengajak semua orang mulai dari yang bisa dilakukan hari ini.

      Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

      Kapan Festival Bulan Keluarga 2026 SD GMIT dilaksanakan?

      Festival dibuka Jumat, 2 Oktober 2026, dan dijadwalkan berlangsung sampai 24 Oktober 2026. Jadwal tiap lomba bisa berubah, jadi konfirmasikan ke panitia atau sekolah.

      Di mana festival ini dipusatkan?

      Kegiatan dipusatkan di SD GMIT Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Pesertanya berasal dari 12 SD GMIT se-Kota Kupang.

      Lomba apa saja yang ada?

      Ada turnamen futsal, fashion show, tari kreasi, kuis keluarga, talent show, pameran karya siswa, dan ibadah bersama.

      Siapa penyelenggaranya?

      Yapenkris Priskila Kota Kupang menyelenggarakannya melalui Forum Guru dan Tenaga Kependidikan, sebagai bagian dari perayaan Bulan Keluarga GMIT 2026.

      Apa tujuan festival ini?

      Tujuannya meningkatkan kebersamaan, sportivitas, kreativitas, dan rasa percaya diri siswa. Festival juga menjadi wadah pembentukan karakter dan unjuk bakat.

      Kesimpulan

      Festival Bulan Keluarga 2026 menunjukkan bahwa perayaan gereja dan kegiatan sekolah bisa berjalan beriringan. Futsal dan fashion show hanyalah pintu masuk, sementara yang dituju adalah anak yang percaya diri, sportif, dan dekat dengan keluarga serta imannya.

      Poin kunci yang bisa dibawa pulang:

      • Festival diikuti 12 SD GMIT se-Kota Kupang dan berlangsung 2-24 Oktober 2026.
      • Kegiatannya beragam, dari olahraga dan seni sampai ibadah bersama.
      • Aktivitas langsung membantu anak seimbang secara fisik dan intelektual serta menjauh dari kecanduan gawai.
      • Keterlibatan orangtua adalah bagian terpenting dari Bulan Keluarga.

      Kotak Tips: Langkah Nyata untuk Orangtua Minggu Ini

      Mulai dari yang kecil:

      1. Tanyakan pada anak lomba mana yang ingin ia ikuti, lalu dengarkan alasannya.
      2. Sisihkan waktu untuk hadir, walau hanya satu pertandingan.
      3. Setelah acara, ajak anak bercerita tentang yang ia rasakan, bukan hanya hasilnya.
      4. Tutup hari dengan doa singkat bersama.

      Bagaimana Pendapat Anda?

      Apakah sekolah atau jemaat Anda pernah mengadakan kegiatan serupa? Menurut Anda, kegiatan apa yang paling efektif membangun karakter anak? Tulis pengalaman Anda di kolom komentar. Saya ingin membaca cerita dari berbagai daerah.

      Bagikan Artikel Ini

      Kalau tulisan ini bermanfaat, bagikan ke grup WhatsApp keluarga, komunitas gereja, atau media sosial Anda. Bisa jadi ada guru atau orangtua yang sedang mencari ide perayaan Bulan Keluarga.

      Tentang Penulis

      Akang Loger adalah penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Profil lengkapnya ada di halaman bio penulis.

      Catatan Penafian

      Informasi dalam artikel ini disusun dari keterangan kegiatan yang tersedia per Oktober 2026. Jadwal, lokasi, dan mata lomba dapat berubah. Untuk data terbaru dan resmi, silakan hubungi Yapenkris Priskila Kota Kupang atau sekolah terkait. Artikel ini bersifat informatif dan renungan, bukan pengganti nasihat pastoral atau profesional.

      Baca Juga:

      Loading...
      Add a comment

      0 Comments

      Write a comment
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • Hubungi kami di : https://www.jgmittubutuan.com/p/kontak.html