Saya cerita ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Saya sendiri pernah, entah berapa kali, hampir ikut membagikan sesuatu tanpa memeriksa dulu kebenarannya. Rasanya cepat sekali jari ini bergerak menekan tombol "kirim" atau "bagikan", padahal hati kecil sebenarnya sudah curiga ada yang tidak beres.
Nah, ternyata soal ini soal kesaksian palsu, soal keadilan yang bisa dibeli, soal sikap memihak bukan masalah baru. Firman Tuhan sudah bicara soal ini ribuan tahun lalu, jauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada media sosial. Mari kita buka bersama Keluaran 23:1-13.
Sekilas tentang Konteks Keluaran 23:1-13
Kitab Keluaran pasal 23 ini adalah bagian dari kumpulan hukum yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel lewat Musa, tidak lama setelah mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Menariknya, bangsa yang baru saja lepas dari penindasan ini justru langsung diberi aturan tentang bagaimana memperlakukan sesama dengan adil termasuk memperlakukan orang asing dan bahkan musuh mereka.
Ada semacam logika rohani di sini: orang yang pernah tertindas seharusnya paling paham arti ketidakadilan, dan karena itu paling tidak boleh menjadi pelaku ketidakadilan terhadap orang lain.
Ayat 1 sampai 3 bicara soal kesaksian palsu dan sikap memihak. Ayat 4 dan 5 bicara soal berbuat baik bahkan kepada musuh. Ayat 6 sampai 9 bicara soal keadilan hukum, suap, dan perlakuan terhadap orang asing. Lalu ayat 10 sampai 13 menutup dengan aturan tahun sabat dan hari Sabat, sebuah pengingat bahwa keadilan sosial itu berakar dari relasi kita dengan Tuhan sendiri.
Jangan Menyebarkan Kabar Bohong (Ayat 1-3)
"Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar." (Keluaran 23:1, terjemahan bebas)
Kalau kita perhatikan, ayat pertama pasal ini langsung menyerang soal informasi yang tidak benar. Ini bukan kebetulan. Sepertinya Tuhan tahu, jauh sebelum era digital, bahwa kabar bohong itu punya kekuatan merusak yang luar biasa besar bisa menghancurkan reputasi orang, memecah keluarga, bahkan memutarbalikkan keadilan di pengadilan.
Yang menarik, ayat 2 melanjutkan dengan larangan mengikut kebanyakan orang untuk berbuat jahat, atau memberi kesaksian yang condong kepada yang banyak untuk membelokkan keadilan. Ini seperti Tuhan sedang bicara langsung ke kita hari ini: jangan ikut-ikutan viral kalau yang viral itu salah. Jangan ikut arus hanya karena semua orang lagi membagikan sesuatu.
Saya pribadi belajar untuk punya semacam "jeda tiga detik" sebelum membagikan berita apa pun. Tiga detik untuk bertanya: sudah saya cek sumbernya? Apakah ini bisa merugikan orang lain kalau ternyata salah? Sederhana, tapi cukup menolong.
Sebagai jemaat GMIT yang hidup di tengah masyarakat yang plural, kita punya tanggung jawab ganda: menjaga kesaksian iman kita sekaligus menjaga integritas informasi yang kita sebarkan. Bukankah nama baik Tuhan juga ikut dipertaruhkan setiap kali kita, sebagai orang percaya, ikut menyebarkan sesuatu yang tidak benar?
Kalau kita ingin merenungkan lebih dalam soal penderitaan dan ketidakadilan yang kita hadapi karena kebenaran, saya pernah menulis refleksi tentang ayat Alkitab penguat iman saat mengalami penderitaan dan ketidakadilan yang mungkin bisa menjadi pelengkap renungan ini.
Berbuat Baik Bahkan kepada Musuh (Ayat 4-5)
Bagian ini selalu membuat saya terdiam sejenak setiap kali membacanya.
"Apabila engkau bertemu dengan lembu musuhmu atau keledainya yang tersesat, maka haruslah engkau membawanya kembali kepadanya." (Keluaran 23:4)
Bayangkan situasinya: kamu punya musuh, orang yang mungkin pernah menyakitimu atau berselisih denganmu. Lalu suatu hari ternyata ternaknya tersesat, dan kamu yang menemukannya. Hukum Taurat berkata: kembalikan. Bukan biarkan saja, apalagi diam-diam senang karena musuhmu rugi.
Ini prinsip yang jauh melampaui sekadar "jangan balas dendam." Ini soal aktif berbuat baik meskipun hati belum sepenuhnya berdamai. Ini melawan naluri manusia kita yang cenderung diam-diam senang ketika orang yang tidak kita sukai mengalami kesulitan.
Saya jadi ingat, betapa mudahnya kita hari ini terjebak dalam sikap "biar rasain" terhadap orang yang berbeda pandangan politik, berbeda suku, atau berbeda kelompok gerejawi sekalipun. Padahal Tuhan justru menuntut yang sebaliknya: tolong dia, bukan karena dia layak, tapi karena itu cerminan karakter Tuhan sendiri di dalam kita.
Jangan Memutarbalikkan Hukum bagi Orang Miskin (Ayat 6)
"Janganlah engkau memutarbalikkan hukum bagi orang miskin di antaramu dalam perkaranya." (Keluaran 23:6)
Ayat ini sering terlewat begitu saja, padahal isinya sangat relevan dengan realita sosial kita. Orang miskin, orang yang tidak punya koneksi, orang yang tidak punya uang untuk membayar pengacara mahal, seringkali menjadi pihak yang paling dirugikan dalam sistem hukum yang timpang.
Ketidakadilan struktural semacam ini tidak selalu berupa kejahatan yang mencolok. Kadang bentuknya halus: birokrasi yang berbelit-belit bagi orang kecil tapi cepat bagi yang berduit, layanan yang lambat bagi yang tidak "kenal orang dalam", atau sekadar sikap meremehkan terhadap orang yang penampilannya sederhana.
Sebagai gereja, GMIT dan gereja-gereja lain punya panggilan untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak punya suara. Ini bukan soal politik praktis, tapi soal keberpihakan iman kepada yang lemah, sebagaimana Tuhan sendiri berpihak.
Suap: Racun yang Membutakan Mata yang Melihat (Ayat 7-8)
Ini bagian yang menurut saya paling menusuk untuk konteks kita hari ini.
"Suap janganlah kauterima, sebab suap membutakan mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar." (Keluaran 23:8)
Perhatikan kalimatnya: suap membutakan mata orang yang melihat. Artinya, suap bukan hanya menipu orang bodoh atau orang yang tidak tahu apa-apa. Suap bisa membutakan bahkan orang yang tadinya jujur, yang tadinya bisa melihat kebenaran dengan jelas. Ada kekuatan gelap dalam suap yang mampu membalikkan hati nurani seseorang.
Padahal firman Tuhan sangat tegas: suap itu bukan sekadar pelanggaran administratif, tapi sesuatu yang merusak kemampuan kita untuk melihat kebenaran itu sendiri. Sekali kita terbiasa menerima atau memberi suap, standar moral kita perlahan bergeser tanpa kita sadari.
Saya teringat cerita seorang teman yang bekerja di instansi pemerintah. Dia bercerita betapa beratnya menolak "amplop" yang ditawarkan, karena hampir semua rekan kerjanya menerima itu sebagai hal biasa. Tapi dia bertahan, meski sering dianggap aneh atau terlalu kaku. Baginya, itu soal menjaga hati nuraninya tetap bisa melihat dengan jernih persis seperti yang dikatakan ayat 8 ini.
Isu ketidakadilan seperti ini kadang datang dengan cara yang keras dan menyakitkan, bahkan sampai pada tindak kekerasan terhadap mereka yang bersuara. Saya pernah menulis tentang seruan suara kenabian gereja terkait peristiwa Andrie yang disiram air keras dan seruan PGI, sebuah pengingat bahwa memperjuangkan keadilan memang ada harganya.
Jangan Menindas Orang Asing (Ayat 9)
"Janganlah engkau menindas orang asing; kamu sendiri tahu bagaimana perasaan orang asing, karena kamu sendiri dahulu adalah orang asing di tanah Mesir." (Keluaran 23:9)
Ayat ini bicara soal diskriminasi terhadap orang asing, orang yang berbeda, orang yang bukan bagian dari kelompok "kita". Dan alasannya sangat personal: karena kamu sendiri pernah merasakan menjadi orang asing, menjadi minoritas, menjadi pihak yang direndahkan.
Ini prinsip empati rohani yang luar biasa. Tuhan tidak hanya berkata "jangan diskriminatif" secara abstrak, tapi mengingatkan pengalaman hidup mereka sendiri sebagai dasar untuk berbelas kasih kepada orang lain.
Di Indonesia yang begitu plural suku, agama, budaya, latar belakang ekonomi diskriminasi masih menjadi luka yang nyata, termasuk dalam pengalaman umat Kristen di beberapa daerah yang kadang mengalami perlakuan tidak adil karena identitas iman mereka. Justru karena itu, kita dipanggil untuk tidak melakukan hal yang sama kepada kelompok lain yang berbeda dari kita.
Yesus sendiri, dalam pelayanan-Nya, banyak kali membarui praktik budaya yang tidak adil pada zaman-Nya hal ini saya bahas lebih dalam di tulisan Yesus membarui praktik budaya yang tidak adil.
Tahun Sabat dan Hari Sabat: Keadilan yang Berakar dari Relasi dengan Tuhan (Ayat 10-13)
Bagian penutup pasal ini agak berbeda temanya sekilas, bicara soal tahun ketujuh tanah harus diistirahatkan, dan hari ketujuh untuk beristirahat termasuk agar budak, orang asing, bahkan hewan ternak bisa beristirahat.
Tapi kalau direnungkan lebih dalam, ini justru penutup yang pas. Keadilan sosial menolak hoax, menolak suap, menolak diskriminasi tidak bisa berdiri sendiri sebagai aturan moral yang lepas dari Tuhan. Semuanya berakar dari kesadaran bahwa hidup kita, waktu kita, bahkan tanah yang kita garap, adalah milik Tuhan dan harus dikelola sesuai kehendak-Nya.
Ayat 13 menutup dengan pengingat untuk berhati-hati dan tidak menyebut nama allah lain. Ini seolah menegaskan: keadilan sejati hanya bisa lahir dari kesetiaan penuh kepada Tuhan yang benar, bukan dari sistem nilai yang bercampur aduk dengan berhala-berhala zaman ini entah itu berhala kekuasaan, uang, atau popularitas.
Berikut ringkasan sederhana tema-tema utama Keluaran 23:1-13 agar mudah diingat:
| Ayat | Tema Utama | Relevansi Masa Kini |
| 1–3 | Kesaksian palsu, ikut arus | Menolak hoax dan penyebaran informasi palsu |
| 4–5 | Berbuat baik kepada musuh | Melampaui sekat perbedaan dan permusuhan |
| 6 | Keadilan bagi orang miskin | Melawan ketidakadilan struktural |
| 7–8 | Larangan suap | Integritas dan anti-korupsi |
| 9 | Perlindungan orang asing | Menolak diskriminasi |
| 10–13 | Sabat dan tahun sabat | Keadilan berakar dari relasi dengan Tuhan |
Tapi tabel ini hanya kerangka. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membawa semua prinsip ini turun ke percakapan sehari-hari kita, ke grup WhatsApp keluarga kita, ke tempat kerja kita, ke bilik suara kita.
Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari?
Saya tidak mau menutup bagian ini dengan daftar "5 langkah praktis" yang terasa kaku. Tapi izinkan saya berbagi beberapa hal sederhana yang saya coba terapkan sendiri, dengan segala keterbatasan saya:
Pertama, soal hoax, saya belajar untuk tidak buru-buru. Kalau ada berita yang bikin emosi naik, saya coba tunggu dulu, cek dulu, baru putuskan mau dibagikan atau tidak.
Kedua, soal suap dan ketidakadilan kecil sehari-hari, saya coba mulai dari hal sederhana tidak memberi "uang pelicin" meskipun itu akan mempercepat urusan saya, meskipun kadang terasa merepotkan diri sendiri.
Ketiga, soal diskriminasi, saya coba lebih sering bertanya pada diri sendiri: apakah saya memperlakukan orang ini berbeda hanya karena latar belakangnya? Ini pertanyaan yang menyakitkan kalau dijawab jujur, tapi perlu terus ditanyakan.
Keempat, dan ini yang paling sulit bagi saya pribadi, adalah soal berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti saya. Saya tidak selalu berhasil. Tapi Keluaran 23:4-5 terus mengingatkan saya bahwa iman bukan soal perasaan yang sudah selesai berdamai, tapi soal ketaatan yang kadang harus dijalani lebih dulu sebelum perasaan itu menyusul.
Situasi bangsa kita hari ini, dengan segala pergumulan sosial dan politiknya, membutuhkan gereja yang bukan hanya berdoa dari balik mimbar, tapi juga hadir menyuarakan keadilan. Saya pernah membahas ini lebih jauh dalam refleksi tentang skenario 2026 dan suara kenabian dari perbatasan Merauke, catatan penting dari Pdt. Dr. Mery Kolimon yang menurut saya sangat menggugah.
Ketika Bersuara Itu Berat, Tapi Tetap Dipanggil untuk Bersuara
Saya tidak mau berpura-pura bahwa memilih jalan kebenaran itu selalu mudah. Kadang memilih untuk tidak ikut arus, menolak suap, atau membela orang yang terdiskriminasi, justru membuat kita berhadapan dengan risiko kehilangan relasi, kehilangan kesempatan, bahkan kehilangan rasa aman.
Ada banyak contoh, di berbagai belahan dunia, tentang perempuan dan komunitas yang memilih diam atau bersuara di tengah tekanan ketidakadilan. Saya pernah menulis renungan tentang dilema ini dalam tulisan damai atau diam: aksi perempuan Nigeria di Hari Doa Sedunia 2026, yang menurut saya relevan untuk direnungkan bersama.
Beberapa Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa hukum sekecil ini soal suap, kesaksian, hewan tersesat dimasukkan langsung setelah Sepuluh Perintah Allah? Karena keadilan sosial bukan urusan "tambahan" dalam iman, tapi bagian inti dari bagaimana umat Tuhan diharapkan hidup bersama. Sepuluh Perintah memberi kerangka besar, dan pasal-pasal berikutnya menjabarkan bagaimana itu terlihat dalam interaksi sehari-hari.
Apakah larangan menerima suap ini hanya berlaku untuk hakim atau pejabat? Prinsipnya berlaku lebih luas. Setiap kita, dalam skala apa pun entah sebagai orang tua, karyawan, pemimpin komunitas, atau warga biasa bisa berhadapan dengan godaan untuk "melancarkan" sesuatu dengan cara yang tidak jujur.
Bagaimana kalau saya sudah terlanjur ikut menyebarkan hoax tanpa sadar? Langkah paling jujur adalah mengakuinya, meminta maaf kalau perlu, dan mengoreksi informasi tersebut secara terbuka. Itu jauh lebih bermartabat daripada berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Kesimpulan
Keluaran 23:1-13 mengajarkan kita bahwa iman yang sejati harus terlihat dalam sikap terhadap kebenaran, keadilan, dan sesama. Menolak hoax berarti menjaga integritas informasi yang kita sebarkan. Menolak suap berarti menjaga hati nurani agar tetap bisa melihat kebenaran dengan jernih. Menolak ketidakadilan dan diskriminasi berarti berpihak kepada yang lemah dan yang berbeda dari kita, sebagaimana Tuhan sendiri berpihak kepada bangsa Israel ketika mereka masih menjadi orang asing di Mesir.
Semua ini bukan sekadar aturan sosial, tapi cerminan dari karakter Tuhan yang kita sembah.
Seruan Gembala
Saudara yang terkasih, di tengah bangsa yang masih bergumul dengan hoax, suap, ketidakadilan, dan diskriminasi, biarlah kita menjadi terang yang berbeda. Bukan dengan suara yang keras, tapi dengan hidup yang jujur dan berpihak pada kebenaran.
"Janganlah kamu turut memutarbalikkan hukum bagi orang miskin di antaramu dalam perkaranya." - Keluaran 23:6
Biarlah ayat ini terus mengingatkan kita, setiap kali kita berhadapan dengan pilihan untuk diam atau bersuara, untuk ikut arus atau berdiri sendiri demi kebenaran.
Profetik
Akan datang harinya ketika kebenaran yang selama ini dibungkam akan bangkit dan bersuara, dan bangsa ini akan melihat keadilan mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering.
Saya sendiri masih terus belajar soal ini, dan jujur saja, tidak selalu berhasil melakukannya dengan sempurna. Apakah Anda pernah menghadapi situasi di mana harus memilih antara diam demi kenyamanan atau bersuara demi kebenaran? Bagaimana Anda menghadapinya? Saya ingin sekali mendengar cerita Anda di kolom komentar, atau ceritakan tulisan ini di medsos Anda.
Atau mungkin Anda punya pengalaman berbeda soal menghadapi godaan suap di lingkungan kerja atau komunitas Anda yuk, kita diskusikan bersama.
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis renungan dan refleksi iman seputar kehidupan sehari-hari, keadilan sosial, dan panggilan gereja di tengah masyarakat. Kunjungi profil lengkap di yakangbioprofil



0Comments