Pertanyaan itu terasa makin relevan ketika saya membaca dua kabar yang datang hampir bersamaan dari dua penjuru berbeda. Yang satu dari Bandung, tempat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menggelar Capacity Building tahunan bagi stafnya. Yang satu lagi dari Amarasi Timur, Nusa Tenggara Timur, tempat Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengajari petani jemaatnya cara membuat pupuk bokashi. Dua dunia yang kelihatannya jauh berbeda, tapi sebenarnya sedang bicara hal yang sama: gereja yang mau bekerja, bukan sekadar berkhotbah.
Dan menurut saya, di situlah letak makna sesungguhnya dari sinergi PGI & GMIT, tingkatkan kapasitas kerja dan ekonomi bukan sinergi dalam arti dua lembaga ini duduk satu meja dan menandatangani MoU, melainkan sinergi visi. Keduanya, dengan cara masing-masing, sedang membuktikan bahwa iman yang hidup itu harus terasa di dompet dan di meja kerja jemaat, bukan cuma di hati.
PGI dan Upaya Membangun "Rumah" yang Sehat untuk Para Pekerjanya
Mari kita mulai dari Bandung. PGI kembali menggelar kegiatan rutin tahunannya, Capacity Building (CB), yang diikuti oleh seluruh staf, karyawan, hingga Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI penuh waktu. Kegiatan tiga hari ini mengusung tema yang menurut saya cukup menyentuh: "Kebersamaan yang Menguatkan: Membangun Keluarga PGI yang Produktif."
Saya sengaja menggarisbawahi kata "keluarga" di situ. Karena sejujurnya, terlalu sering organisasi keagamaan termasuk gereja lupa bahwa staf dan karyawannya juga manusia yang butuh dihargai, bukan sekadar roda penggerak administrasi. CB tahun ini tampaknya ingin membalik kebiasaan lama itu.
Tujuannya jelas: menumbuhkan pemahaman bahwa bekerja itu bagian dari panggilan pelayanan, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan penuh kasih. Bukan slogan kosong, karena materi yang dibawakan pun langsung menyasar akar masalah yang sering bikin organisasi termasuk gereja jalan di tempat: budaya kerja yang toksik dan komunikasi antar-tim yang buruk.
Hospitality: Kata yang Sering Dilupakan di Ruang Kerja Gerejawi
Salah satu narasumber, Pantar Purnawan, memaparkan pentingnya budaya kerja hospitality semangat melayani, memuliakan manusia, dan menerima rekan kerja maupun jemaat apa adanya. Ia menyampaikan bahwa budaya hospitality yang sehat berdampak langsung pada efektivitas pelayanan, inisiatif tim, retensi staf, kolaborasi lintas bidang, kepercayaan lembaga, hingga kesejahteraan tim secara menyeluruh.
Saya pribadi setuju betul dengan poin ini. Berapa banyak dari kita yang pernah merasa lelah bukan karena beban kerja, tapi karena suasana kerja yang dingin dan penuh curiga? Hospitality, dalam konteks ini, bukan cuma soal ramah kepada tamu gereja, tapi juga soal bagaimana sesama pekerja gereja memperlakukan satu sama lain di balik layar.
Untuk mewujudkan budaya itu, dibutuhkan keteladanan pemimpin, budaya layanan internal yang konsisten, pembinaan berkelanjutan, serta kebiasaan saling memberi apresiasi lewat feedback yang jujur bukan basa-basi formalitas semata.
Relasi Antar-Individu: Fondasi Produktivitas yang Sering Diabaikan
Narasumber lain, Pdt. Dr. Bambang Widjaja, menyoroti sisi yang tak kalah penting: hubungan produktivitas dengan relasi antar-individu di tempat kerja. Ia membagikan tiga poin kunci untuk membangun relasi yang harmonis di kantor memahami gaya perilaku masing-masing individu, mengenali dampak dari kesamaan maupun perbedaan gaya tersebut, dan belajar menyesuaikan diri agar tercipta atmosfer kerja yang positif.
Bukan teori manajemen kantoran biasa, tapi ada nilai teologis yang menyusup di baliknya: manusia diciptakan berbeda-beda, dan justru dari situ kita belajar saling melengkapi, bukan saling menghakimi.
Selain sesi materi dan diskusi yang berlangsung di GKPB Fajar Pengharapan, kegiatan CB ini juga diisi program team-building, rekreasi bersama, serta kunjungan ke berbagai mitra pelayanan PGI di Jawa Barat seperti Sinode GKPB, Sinode GKP, dan PGIW Jabar. Kunjungan semacam ini penting, sebab memperluas wawasan pelayanan lintas lembaga adalah salah satu cara gereja belajar dari gereja lain sesuatu yang menurut saya masih jarang dilakukan secara sistematis.
Jika Anda tertarik dengan bagaimana PGI juga aktif menyuarakan isu sosial lain di luar urusan internal, ada baiknya membaca bagaimana PGI menggelar seminar soal sekolah gratis dan perang lawan narkoba, yang menunjukkan komitmen serupa di ranah pendidikan dan kesehatan sosial.
Dari Bandung ke Amarasi Timur: Ketika Gereja Turun ke Ladang
Saya membayangkan suasananya: bukan ruang ber-AC dengan proyektor canggih seperti di Bandung, melainkan halaman gereja yang beralaskan tanah, dikelilingi petani yang datang dengan cangkul dan harapan. Dua wajah pelayanan gereja yang sama-sama sah, sama-sama penting.
Langkah GMIT ini diambil untuk membekali petani jemaat dengan keterampilan teknis pertanian berkelanjutan. Ini bukan langkah basa-basi, mengingat sektor pertanian di Amarasi Timur kerap menghadapi tantangan berat seperti dampak perubahan iklim, keterbatasan teknologi, dan rendahnya kapasitas pengelolaan usaha tani yang menghambat produktivitas jemaat.
Suara dari Sinode: Gereja Tak Boleh Berhenti di Mimbar
Bendahara Sinode GMIT, Pnt. Yefta Sanam, menegaskan bahwa gereja memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian ekonomi jemaat. Ia menyampaikan bahwa pemimpin gereja masa kini tidak lagi bisa hanya fokus pada pelayanan di atas mimbar, tapi juga harus turun langsung mendampingi jemaat mengelola perkebunan dan peternakan mereka.
Kalimat itu menohok saya, jujur saja. Karena selama ini banyak dari kita termasuk saya sendiri kadang menganggap urusan ekonomi jemaat sebagai "urusan duniawi" yang terpisah dari panggilan rohani. Padahal Pnt. Yefta Sanam menegaskan bahwa peningkatan ekonomi keluarga akan berdampak langsung pada perbaikan kualitas kesehatan, pendidikan anak, serta keberlanjutan pelayanan gereja itu sendiri.
Senada, Ketua BPAPE Sinode GMIT, Pdt. Yunus Kay Tulang, menyampaikan bahwa gereja memikul tanggung jawab moral untuk hadir dalam aspek sosial-ekonomi jemaat, bukan hanya sebatas pelayanan spiritual semata. Dua pernyataan ini, kalau dibaca berdampingan, seolah menjadi jawaban langsung atas pertanyaan yang saya lontarkan di awal tulisan ini.
Apa Saja yang Diajarkan dalam Pelatihan Ini?
Materi yang diberikan cukup komprehensif dan sangat praktis, jauh dari kesan teori di atas kertas:
| Indikator | Capacity Building PGI (Bandung) | Pelatihan Hortikultura GMIT (Amarasi Timur) |
| Fokus Pelayanan | Penguatan Internal & Budaya Kerja Organisasi | Pemberdayaan Ekonomi Umat & Akar Rumput |
| Sasaran Peserta | Seluruh Staf, Karyawan, & MPH PGI Penuh Waktu | Petani binaan dari 4 Jemaat (Pniel Koka, Galed Oesena, Hananial Puskou, Maranatha Nohaen) |
| Tema / Spirit | "Kebersamaan yang Menguatkan: Membangun Keluarga PGI yang Produktif" | Kemandirian ekonomi jemaat melalui pertanian berkelanjutan |
| Materi / Program | • Budaya hospitality di ruang kerja • Relasi harmonis & penyesuaian gaya perilaku • Team-building, rekreasi, & studi banding | • Pemilihan benih, persiapan lahan & bedengan • Pemupukan berimbang & identifikasi hama • Pembuatan pupuk bokashi & NPK cair mandiri |
| Narasumber / Tokoh | Pantar Purnawan & Pdt. Dr. Bambang Widjaja | Pnt. Yefta Sanam (Bendahara Sinode) & Pdt. Yunus Kay Tulang (Ketua BPAPE) |
| Dampak / Goal | Lingkungan kerja yang sehat, efisien, bebas budaya toksik, dan penuh kepedulian (hospitality) | Menekan biaya produksi, mengatasi dampak iklim, serta meningkatkan kualitas kesehatan & pendidikan keluarga |
Yang menarik, tanaman yang jadi fokus pelatihan cukup beragam mulai dari sayuran, cabai, tomat, bawang, hingga padi. Artinya, pelatihan ini tidak dirancang untuk satu jenis komoditas saja, tapi disesuaikan dengan kebutuhan riil petani di lapangan.
Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan petani dari empat jemaat binaan, yaitu GMIT Pniel Koka, GMIT Galed Oesena, GMIT Hananial Puskou, dan GMIT Maranatha Nohaen. Empat jemaat ini bisa dibilang menjadi contoh kecil bagaimana gereja lokal bisa jadi motor penggerak ekonomi umat, bukan cuma penerima kabar baik secara rohani semata.
Semangat memberdayakan jemaat di akar rumput ini sejalan dengan langkah GMIT dalam membenahi berbagai persoalan domestiknya, sebagaimana pernah diulas dalam artikel gereja bergerak: Sinode GMIT benahi domestik, PGI soroti Papua.
Kenapa Dua Kegiatan Ini Layak Disebut "Sinergi"?
Saya tahu, secara administratif, dua kegiatan ini tidak berjalan bersama-sama dalam satu program. PGI mengurus stafnya sendiri, GMIT mengurus jemaatnya sendiri. Tapi kalau kita mundur sedikit dan melihat gambaran besarnya, ada benang merah yang menyatukan keduanya: keduanya sama-sama percaya bahwa kapasitas manusia entah itu kapasitas kerja staf gereja atau kapasitas ekonomi jemaat tani adalah bagian tak terpisahkan dari misi gereja.
Ini yang menurut saya sering luput dari perhatian umat awam. Kita cenderung menilai "keberhasilan" gereja dari jumlah jemaat yang hadir ibadah Minggu, bukan dari seberapa sehat kehidupan kerja stafnya atau seberapa mandiri ekonomi jemaatnya. Padahal, dua hal ini justru fondasi yang menopang keberlanjutan pelayanan gereja dalam jangka panjang.
Dan ini juga selaras dengan semangat yang terus digaungkan PGI di berbagai forum, termasuk tuntutan agar sinode-sinode anggota lebih serius mengurus keadilan dan kerukunan internal, seperti yang diangkat dalam ulasan PGI wajibkan keadilan dan kerukunan di Sidang Agung ke-39. Kapasitas kerja yang sehat dan ekonomi jemaat yang mandiri, pada akhirnya, adalah bentuk konkret dari keadilan itu sendiri.
Peningkatan kapasitas juga tak melulu soal materi kerja atau pertanian. Sebagaimana gereja mendorong kompetensi guru sekolah Kristen agar pendidikan umat makin berkualitas seperti dibahas dalam artikel cara meningkatkan kompetensi guru sekolah Kristen capacity building staf PGI dan pelatihan tani GMIT sesungguhnya berada dalam satu payung besar: gereja yang serius membangun sumber daya manusianya di segala lini.
Pertanyaan yang Sering Muncul dari Pembaca
Kenapa PGI perlu mengadakan Capacity Building setiap tahun, bukankah stafnya sudah profesional? Justru karena profesionalisme itu perlu dirawat, bukan dianggap selesai begitu saja. Dunia kerja terus berubah, tekanan pelayanan juga terus bertambah. CB tahunan ini semacam "servis rutin" supaya budaya kerja tetap sehat dan tidak stagnan.
Apakah pelatihan hortikultura GMIT ini hanya untuk empat jemaat itu saja? Untuk tahap ini, memang difokuskan pada empat jemaat binaan program Mission 21–GMIT di Klasis Amarasi Timur. Tapi biasanya, program semacam ini dijadikan model yang nanti bisa direplikasi ke jemaat-jemaat lain kalau hasilnya terbukti efektif.
Apa hubungan langsung antara ekonomi jemaat dan pelayanan gereja? Sangat erat. Ketika ekonomi keluarga jemaat membaik, kemampuan mereka mendukung pelayanan gereja baik secara materi maupun partisipasi juga ikut membaik. Selain itu, kualitas hidup jemaat secara keseluruhan, dari kesehatan sampai pendidikan anak, ikut terangkat.
Key conclusion
Dari dua kabar ini, satu hal yang saya tangkap dengan jelas: gereja di Indonesia baik di level nasional seperti PGI maupun di level sinode seperti GMIT sedang bergerak menuju cara pandang yang lebih holistik. Pelayanan tidak lagi dibatasi pada ruang ibadah, tapi merambah ke ruang kerja staf dan ladang jemaat.
Capacity Building yang digelar PGI membuktikan bahwa gereja peduli pada kesehatan internal organisasinya sendiri, sementara pelatihan hortikultura Sinode GMIT membuktikan bahwa gereja hadir sampai ke akar rumput ekonomi umatnya. Dua langkah berbeda, satu arah yang sama: menjadikan gereja sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi yang nyata, bukan sekadar lembaga spiritual yang berjarak dari persoalan hidup sehari-hari jemaatnya.
Pengutusan
Saudara-saudari terkasih, kerja keras dan usaha ekonomi kita bukanlah hal yang terpisah dari iman. Justru lewat pekerjaan tangan dan ladang yang kita garap, kita sedang menjalankan panggilan Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesama. Firman Tuhan dalam Kolose 3:23 mengingatkan kita: "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
Baik yang bekerja di balik meja pelayanan gereja, maupun yang berpeluh di ladang, Tuhan melihat dan memberkati setiap usaha yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Profetik
Kiranya setiap tangan yang bekerja dengan setia di kantor sinode maupun di ladang jemaat akan menuai berkat yang berlipat ganda, dan menjadi kesaksian bahwa gereja Tuhan sungguh hadir membawa transformasi bagi hidup umat-Nya.
Saya sendiri tumbuh di keluarga yang bergantung pada hasil ladang, jadi membaca cerita pelatihan hortikultura GMIT ini rasanya cukup personal buat saya mengingatkan betapa besar dampaknya kalau gereja benar-benar hadir di tengah kesulitan ekonomi jemaat, bukan hanya lewat khotbah Minggu. Bagaimana dengan Anda? Apakah gereja di tempat Anda juga punya program serupa untuk memberdayakan jemaatnya secara ekonomi?-(al)**
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis dengan semangat merefleksikan pergumulan iman dan pelayanan gereja masa kini. Kunjungi profil lengkapnya di yakangbioprofil.



0 Comments