TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
0
    0
      Berita Terkini

      Gereja Puji Penolakan RUU Eutanasia di Parlemen Inggris: Kemenangan Kecil untuk yang Rentan

      Gereja puji penolakan RUU Eutanasia di Parlemen Inggris usai House of Commons tolak RUU Assisted Dying

      Internasional, Pena Rohani - Gereja Puji Penolakan RUU Eutanasia di Parlemen Inggris - Jumat, 11 September 2026, mungkin akan dikenang sebagai salah satu hari paling menegangkan di gedung Parlemen Inggris tahun ini. Setelah perdebatan panjang hampir empat jam yang diwarnai kesaksian emosional dari sejumlah anggota parlemen termasuk seorang MP yang sedang berjuang melawan kanker payudara stadium lanjut House of Commons akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak: menolak RUU Assisted Dying dengan selisih tipis, 286 suara menolak berbanding 270 suara mendukung (nbcnews.com/12 September 2026, 02:06 GMT+8).

      Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar statistik politik. Tapi bagi umat Kristen di Inggris dan Wales juga bagi siapa pun yang selama dua tahun terakhir mengikuti drama panjang seputar eutanasia di negeri itu hasil ini terasa seperti napas lega yang datang di detik-detik terakhir. Sebab publik tahu, RUU serupa justru pernah lolos di Commons dengan selisih 23 suara tahun lalu, sebelum akhirnya tersendat di House of Lords. Kali ini arahnya berbalik total.

      Yang menarik, pembalikan ini tidak lahir dari perubahan besar peta politik, melainkan dari akumulasi keraguan yang perlahan menumpuk: keraguan medis, keraguan sosial, dan bagi banyak pemimpin gereja keraguan moral tentang siapa sebenarnya yang akan paling dirugikan bila hukum ini disahkan.

      Duduk Perkara: Apa yang Sebenarnya Terjadi di House of Commons

      RUU yang dibahas dalam sidang pembacaan kedua ini bernama resmi Terminally Ill Adults (End of Life) Bill. Isinya sederhana namun menyangkut hal paling mendasar dalam hidup manusia: memberi hak hukum bagi orang dewasa yang masih memiliki kapasitas mental baik, namun diperkirakan hanya memiliki sisa hidup enam bulan atau kurang, untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan bantuan medis, di bawah sejumlah pengamanan hukum.

      RUU ini bukan hal baru. Ia adalah versi yang dihidupkan kembali oleh Lauren Edwards, anggota parlemen dari Partai Buruh Inggris, setelah rancangan sebelumnya yang diusung oleh Kim Leadbeater kandas di House of Lords menjelang akhir masa sidang lalu. Edwards sendiri terpilih membawa RUU ini kembali ke meja Commons setelah namanya keluar di urutan kedua dalam undian private members' bill, semacam lotere legislatif yang menentukan siapa yang berhak mengajukan RUU inisiatif pribadi.

      Pemerintah, dalam hal ini, memilih bersikap netral. Para anggota parlemen memberikan suara berdasarkan hati nurani masing-masing, bukan garis instruksi partai sebuah kebiasaan lama di Westminster untuk isu-isu yang menyentuh wilayah etika paling personal.

      Hasilnya, seperti disebutkan di atas, RUU ini kandas dengan selisih 16 suara. Bagi Edwards, ini jelas pukulan berat. Ia menyebut hasil pemungutan suara sebagai keputusan yang menyakitkan, meski ia tetap optimis isu ini akan kembali dibahas di masa depan. Namun di sisi lain meja, ada kelegaan yang sama besarnya datang dari kalangan gereja, tenaga medis, dan kelompok advokasi difabel yang selama bertahun-tahun menyuarakan kekhawatiran yang sama: bahwa hukum semacam ini, betapapun niatnya baik, membuka celah bahaya bagi mereka yang paling lemah posisinya.

      Suara Gereja: Antara Lega dan Tanggung Jawab Baru

      Pemimpin Kristen dukung perawatan paliatif usai penolakan RUU Eutanasia di Parlemen Inggris

      Reaksi datang cepat dari kalangan Kristen Inggris begitu hasil voting diumumkan. Aliansi Evangelikal Inggris (U.K. Evangelical Alliance), organisasi yang sejak awal aktif mengampanyekan penolakan RUU ini, menyambutnya sebagai kemenangan bagi nilai kehidupan.

      Danny Webster, Direktur Advokasi Aliansi Evangelikal, menyampaikan bahwa parlemen telah menolak rencana yang berbahaya dan sulit diterapkan, yang berisiko mengancam keselamatan kelompok paling rentan. Ia menegaskan pentingnya memperlakukan setiap orang terutama mereka yang rapuh secara fisik maupun sosial dengan kepedulian di ujung hidup mereka, bukan justru mendorong mereka untuk mempercepat kematian.

      Ada satu hal yang menarik dari sikap Webster dan banyak pemimpin Kristen lainnya: mereka tidak berhenti pada kegembiraan atas penolakan RUU ini. Justru sebaliknya, mereka langsung mengalihkan sorotan ke pekerjaan rumah yang jauh lebih besar mendesak pemerintah untuk serius membenahi layanan perawatan paliatif nasional. Sikap ini penting untuk dicatat, karena ia menunjukkan bahwa penolakan terhadap eutanasia bukanlah sikap pasif yang berhenti di kata "tidak", melainkan panggilan aktif untuk membangun sistem yang benar-benar merawat orang sampai akhir hayatnya dengan bermartabat.

      Suara senada datang dari kalangan akademisi dan medis. Prof. Scott Murray, profesor emeritus perawatan paliatif primer di Universitas Edinburgh sekaligus mantan misionaris medis yang pernah bertugas di Rumah Sakit Chogoria, Kenya, di bawah naungan Gereja Presbiterian pada era 1980-an, menyebut keputusan parlemen ini sebagai langkah yang bijak. Baginya, ini adalah momentum untuk mengalihkan energi bangsa ke arah yang lebih konstruktif: memperbaiki layanan kesehatan dan sosial bagi pasien dengan penyakit progresif, alih-alih menawarkan jalan pintas mengakhiri hidup.

      Yang membuat pandangan Prof. Murray punya bobot lebih dari sekadar opini keagamaan adalah latar belakang keilmuannya. Ia sebelumnya sudah lama menyoroti persoalan mendasar dalam RUU semacam ini soal akurasi medis dari patokan "sisa hidup enam bulan" yang kerap dijadikan syarat legal untuk assisted dying. Kenyataannya, memprediksi secara presisi berapa lama seseorang akan hidup bukanlah ilmu pasti. Dokter bisa keliru, dan ketika hukum menggantungkan hidup-mati seseorang pada prediksi yang bisa saja salah, taruhannya menjadi sangat besar.

      Ketika Data Bicara: Risiko bagi Kelompok Rentan

      Bagian yang sering luput dari pemberitaan arus utama adalah temuan dari penilaian dampak kesetaraan (equality impact assessment) yang dirilis pemerintah Inggris sendiri terkait RUU ini. Laporan tersebut secara eksplisit mengungkap adanya risiko serius bagi kelompok minoritas etnis.

      Poin ini penting untuk direnungkan pelan-pelan. Laporan itu mencatat bahwa tekanan struktural kemiskinan, akses layanan kesehatan yang timpang, kualitas perawatan yang lebih rendah, hingga ancaman kekerasan dalam rumah tangga berpotensi mendorong sebagian warga dari kelompok rentan untuk memilih kematian dibantu (assisted death) bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan sebagai jalan keluar dari beban finansial atau situasi kekerasan yang mereka alami.

      Di sinilah letak kegelisahan yang sesungguhnya coba disuarakan para pemimpin Kristen selama ini: hukum yang dirancang untuk memberi "pilihan" bisa saja, dalam praktiknya, menjadi tekanan tak terlihat bagi mereka yang sebenarnya tidak punya pilihan sama sekali. Seseorang yang merasa menjadi beban bagi keluarganya, atau yang tidak mampu mengakses perawatan berkualitas, bisa saja "memilih" mati bukan karena itu murni keinginannya, tapi karena sistem di sekitarnya gagal menawarkan alternatif yang layak.

      Berikut ringkasan singkat jalannya RUU ini dari waktu ke waktu, agar lebih mudah dipahami konteksnya:

      TahapWaktuHasilStatus / Catatan

      RUU Kim Leadbeater


      Pembacaan Kedua

      November 2024

      Disetujui


      330 – 275

      🟢 Lolos Tahap Awal


      Maju ke tahap pembahasan komite.

      RUU Kim Leadbeater


      Pembacaan Ketiga

      Juni 2025

      Disetujui


      314 – 291

      🟢 Lolos di House of Commons


      Dioper ke House of Lords.

      Penundaan di Parlimen


      House of Lords

      Akhir Masa SidangTidak Selesai

      Tersendat


      Kehabisan waktu sidang akibat banyaknya usulan amendemen.

      RUU Lauren Edwards


      Pembacaan Kedua

      11 September 2026

      Ditolak


      270 – 286

      🔴 Gagal / Final


      Upaya dihidupkan kembali berakhir ditolak oleh Commons (christiandaily.com/11 September 2026 16:50 EDT)

      Tabel di atas menunjukkan sesuatu yang cukup menarik: dukungan terhadap RUU ini sebenarnya sempat konsisten kuat di Commons selama dua tahun terakhir. Maka pembalikan arah pada September 2026 ini bukan sekadar kebetulan politik ada pergeseran cara pandang yang nyata, dan suara-suara dari gereja serta komunitas medis tampaknya ikut berperan di dalamnya, meski tentu bukan satu-satunya faktor.

      Refleksi: Mengapa Isu Ini Layak Direnungkan Umat Kristen

      Ada godaan untuk membaca isu eutanasia hanya sebagai perdebatan hukum yang jauh dari kehidupan sehari-hari umat. Padahal, isu ini menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan iman Kristen: cara kita memandang hidup, penderitaan, dan martabat manusia sampai napas terakhir.

      Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa penderitaan harus dihindari dengan cara apa pun. Justru sebaliknya, Kitab Suci berulang kali menunjukkan bahwa Allah hadir paling dekat justru di titik terlemah manusia bukan untuk mempercepat akhir, tapi untuk menyertai sampai akhir. Inilah yang membedakan cara pandang Kristen tentang kematian dengan tawaran assisted dying: bukan soal mengontrol kapan hidup berakhir, melainkan bagaimana kita menemani seseorang menjalani hari-hari terakhirnya dengan kasih, bukan meninggalkannya sendirian dengan sebuah pilihan yang terlalu berat untuk dipikul.

      Gereja, dalam konteks ini, punya panggilan yang jauh lebih besar daripada sekadar menolak RUU. Panggilan itu adalah membangun komunitas yang benar-benar hadir bagi mereka yang sakit parah, yang kesepian, yang merasa menjadi beban. Karena jika gereja hanya vokal menolak eutanasia tanpa turut membangun sistem perawatan paliatif yang layak baik lewat dukungan doa, pelayanan diakonia, maupun advokasi kebijakan maka penolakan itu berisiko menjadi suara kosong.

      Menariknya, ini pula yang justru ditekankan oleh Danny Webster dan Prof. Scott Murray: fokus sekarang harus bergeser ke penguatan layanan kesehatan sosial dan perawatan paliatif. Bukan berhenti merayakan kemenangan legislatif, tapi melanjutkannya dengan kerja nyata di lapangan.

      Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Isu Ini

      Apa bedanya RUU ini dengan RUU eutanasia sebelumnya yang sempat lolos di Commons? Secara substansi, RUU yang diajukan Lauren Edwards ini hampir identik dengan RUU milik Kim Leadbeater yang sebelumnya pernah disetujui di House of Commons namun kandas di House of Lords. Bedanya hanya pada momentum politik dan dinamika suara anggota parlemen saat pemungutan suara berlangsung.

      Apakah penolakan ini berarti isu eutanasia sudah selesai dibahas di Inggris? Belum tentu. Lauren Edwards sendiri menyatakan optimisme bahwa isu ini akan kembali dibahas di masa mendatang. Mengingat pola dua tahun terakhir yang berulang kali menghadirkan RUU serupa, kemungkinan besar perdebatan ini akan muncul lagi dalam beberapa tahun ke depan.

      Mengapa gereja begitu vokal menolak RUU eutanasia semacam ini? Kekhawatiran utamanya bukan pada niat baik di balik RUU, melainkan pada dampak nyata di lapangan terutama risiko bagi kelompok rentan seperti orang miskin, minoritas etnis, dan korban kekerasan dalam rumah tangga, sebagaimana diungkap dalam penilaian dampak kesetaraan milik pemerintah sendiri.

      Apa alternatif yang ditawarkan gereja selain menolak eutanasia? Penguatan perawatan paliatif menjadi tuntutan utama. Artinya, memastikan pasien dengan penyakit terminal mendapatkan perawatan medis, dukungan psikologis, dan pendampingan sosial terbaik hingga akhir hidupnya, sehingga mereka tidak merasa satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri hidup lebih cepat.

      Kesimpulan

      Penolakan RUU Assisted Dying oleh House of Commons pada 11 September 2026 dengan selisih 286 berbanding 270 suara menjadi titik balik penting setelah dua tahun perdebatan panjang di Parlemen Inggris. RUU yang dihidupkan kembali oleh Lauren Edwards ini akhirnya kandas, meski sebelumnya versi serupa milik Kim Leadbeater sempat dua kali disetujui Commons sebelum tersendat di House of Lords.

      Pemimpin Kristen seperti Danny Webster dari U.K. Evangelical Alliance dan Prof. Scott Murray dari Universitas Edinburgh menyambut hasil ini sebagai keputusan yang melindungi kelompok rentan, sekaligus mendesak pemerintah Inggris untuk mengalihkan perhatian pada penguatan perawatan paliatif dan layanan kesehatan sosial bagi pasien penyakit terminal di Inggris dan Wales.

      Refleksi Kristen tentang kasih dan kehidupan pasca penolakan RUU Eutanasia di Parlemen Inggris

      Pesan Gembala

      Di tengah dunia yang kerap menawarkan jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan, umat Kristen dipanggil untuk menjadi kehadiran kasih yang setia menemani sampai akhir bukan yang mempercepat perpisahan. Mazmur 23:4 mengingatkan kita: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku." Tuhan tidak menjanjikan jalan tanpa lembah gelap, tetapi Ia berjanji untuk menyertai di dalamnya dan gereja dipanggil menjadi tangan dan kaki penyertaan itu bagi mereka yang sedang berjalan di lembah paling gelap dalam hidupnya.

      Profetik

      Kelak akan tiba masanya bangsa-bangsa belajar bahwa kasih yang menemani sampai akhir jauh lebih kuat daripada hukum yang menawarkan jalan keluar lebih cepat dan gereja yang setia hadir di sisi orang sakit akan menjadi saksi paling nyata dari kasih itu.

      CTA

      Isu ini sebenarnya bukan sekadar perdebatan di gedung parlemen yang jauh dari kita. Cepat atau lambat, banyak dari kita akan berhadapan dengan pertanyaan serupa lewat keluarga atau orang terdekat yang sakit parah. Bagaimana pandangan Anda soal ini apakah gereja di sekitar Anda sudah cukup hadir bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit terminal? Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar. Atau bagikan cerita ini di sosial media Anda. (al)**

      Bacaan terkait yang mungkin menarik untuk Anda telusuri lebih lanjut:


      Tentang Penulis

      Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis reflektif seputar isu gerejawi, sosial, dan iman kontemporer. Profil lengkap: yakangbioprofil

      Baca Juga:

      Loading...
      Add a comment

      0 Comments

      Write a comment
      Next Post
      Next Post