TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
0
    0
      Berita Terkini

      Kasih Kristus sebagai Jalan Penyembuhan Relasi | Kolose 3:18-25

      Kasih Kristus sebagai jalan penyembuhan relasi: renungan Kolose 3:18-25 untuk keluarga dan pekerjaan, tentang mengampuni, memulihkan, dan hidup damai.

      Dua orang duduk berjauhan di meja makan keluarga dengan seberkas cahaya hangat jatuh di tengahnya, melambangkan kasih Kristus sebagai jalan penyembuhan relasi dalam renungan Kolose 3:18-25.

      Bahan renungan Kebaktian Minggu Biasa XIX

      Renungan Minggu, Pena Rohani - Kasih Kristus sebagai Jalan Penyembuhan Relasi - Ada rumah yang tampak baik-baik saja dari luar. Cat rapi, pagar terawat, motor terparkir teratur. Tetapi di dalamnya ada dua orang yang sudah berbulan-bulan makan semeja tanpa saling menatap.

      Saya pernah berada di rumah seperti itu, entah sebagai tamu atau sebagai bagian dari keluarganya. Hal yang paling menyakitkan bukan teriakan. Yang paling menyakitkan adalah kesunyian yang dingin, ketika semua orang tahu ada yang retak tetapi tak ada yang berani menyentuhnya.

      Kalau Anda pernah merasakannya, renungan ini untuk Anda. Dan menurut saya, Kolose 3:18-25 justru bicara tepat di titik itu.

      Dulu Kenapa Saya Tidak Suka Bagian Ini

      Terus terang, bertahun-tahun saya agak menghindari perikop ini. Ayat 18-25 sering terdengar seperti daftar aturan: istri begini, suami begini, anak begini, hamba begini. Dan pada kenyataannya, ayat-ayat ini memang pernah dipakai untuk membungkam orang yang sedang terluka.

      Karena itu, supaya adil terhadap teks, kita perlu membaca dari ayat sebelumnya. Sebelum Paulus menyentuh dapur, kamar anak, dan tempat kerja, ia menulis ini di Kolose 3:12-15: kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, dan kesabaran. Saling membantu dan saling mengampuni. Di atas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Biarlah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.

      Jadi aturan rumah tangga di ayat 18-25 bukan titik awal. Ia buah dari kasih Kristus yang sudah lebih dulu dikenakan. Tanpa itu, “tunduk” menjadi tekanan dan “taat” menjadi ketakutan. Dengan itu, keduanya menjadi cara kasih berjalan di rumah.

      Kasih Kristus sebagai jalan penyembuhan relasi bukan slogan. Ia urutan kerja Allah: Kristus lebih dulu, baru peran-peran kita.

      Membaca Kolose 3:18-25 dengan Jujur

      Ada satu hal yang sering terlewat. Di tengah budaya Romawi, Paulus menyapa kedua pihak dalam setiap pasangan relasi. Istri dan suami. Anak dan bapa. Hamba dan tuan. Pada zamannya, itu mengejutkan, karena pihak yang lebih lemah diperlakukan sebagai subjek yang punya tanggung jawab di hadapan Tuhan.

      Jenis RelasiKepada Pihak yang Lebih "Bawah"Kepada Pihak yang Lebih "Atas"
      Suami – IstriIstri: Tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.Suami: Kasihilah istrimu, jangan berlaku kasar
      Orang Tua – AnakAnak: Taat dalam segala halBapa: Jangan sakiti hati anakmu supaya mereka tidak tawar hati
      Hamba – TuanHamba: Bekerjalah dengan tulus hatiTuan: Berikan yang adil dan jujur (Kolose 4:1)

      Perhatikan bahwa tuntutan kepada pihak yang berkuasa justru tegas: jangan kasar, jangan menyakiti, berlaku adil. Kuasa tidak pernah menjadi izin untuk melukai. Dalam Kristus, kuasa adalah tanggung jawab.

      Bagian yang paling saya renungkan ada di ayat 21: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Ini kalimat yang pendek, tetapi menurut saya salah satu yang paling jujur dalam Alkitab tentang luka batin. Anak yang terus dikoreksi tanpa dirangkul bisa tumbuh dewasa dengan hati yang “tawar”, dan itu terbawa sampai ke pernikahan dan pekerjaannya.

      Sebuah Ilustrasi (gabungan, bukan satu orang tertentu)

      Bayangkan seorang bapak, sebut saja Pak Yos. Ia keras karena dulu ia dibesarkan dengan keras. Setiap nilai rapor anaknya yang turun disambut dengan bentakan. Ia merasa itu cinta, karena ia ingin anaknya jadi orang.

      Dua puluh tahun kemudian, anaknya sukses tetapi jarang pulang. Saat ditanya kenapa, jawabannya sederhana: “Di rumah, saya merasa selalu salah.”

      Itulah hati yang tawar. Tidak ada drama besar, hanya jarak yang menumpuk pelan-pelan.

      Beberapa tahun lalu, seorang jemaat mengatakan sesuatu tentang saya di depan banyak orang, dan kalimat itu menempel seperti duri. Berbulan-bulan saya menghindarinya. Kalau berpapasan di gereja, saya pura-pura sibuk dengan ponsel. Di mulut saya berkata “sudah saya maafkan”, tetapi dada saya masih mengeras setiap kali mendengar namanya. Suatu malam, sehabis ibadah, saya duduk sendiri sambil memegang cangkir kopi yang sudah dingin, lalu membaca Kolose 3:13: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Saya tidak merasa lega, hanya malu. Saya sadar saya sedang menagih orang lain atas hutang yang jauh lebih kecil daripada hutang saya sendiri kepada Tuhan. Malam itu saya tidak langsung memaafkan dengan manis. Saya hanya berbisik, “saya mau mau mengampuni.” Besoknya saya mengirim satu pesan pendek. Hati saya tidak seketika sembuh, tetapi untuk pertama kalinya duri itu terasa mulai longgar.

      Kasih yang Memulihkan Bukan Sekadar Perasaan

      Kata “kasih” di ayat 14 dan ayat 19 berasal dari akar yang sama dengan agape. Kasih agape dalam Alkitab bukan perasaan hangat yang datang dan pergi. Ia keputusan untuk mengusahakan kebaikan orang lain, justru ketika orang itu belum layak menerimanya. Rasul Paulus menulis di Roma 5:8 bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa.

      Karena itu, kasih agape bagi saya terasa seperti tangan yang diulurkan lebih dulu. Dalam konflik keluarga, biasanya kita menunggu pihak lain berubah. Kita merasa pantas menunggu, dan sering memang benar bahwa kita yang lebih dirugikan. Tetapi Kristus tidak menunggu kita sempurna.

      Di sinilah teologi kasih Kristus menjadi sangat praktis. Jika Kristus sudah lebih dulu mengampuni kita (Kolose 3:13: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian”), maka mengampuni bukan lagi soal “apakah dia layak”, melainkan soal “bagaimana saya menjawab kasih yang sudah saya terima”.

      Apakah Mengampuni Berarti Melupakan?

      Tidak, dan ini penting. Banyak orang bertahan dalam kepahitan karena mengira mengampuni berarti pura-pura tidak pernah terluka. Pengampunan dalam kekristenan tidak meminta Anda menyangkal fakta. Ia meminta Anda melepaskan hak membalas, lalu menyerahkannya kepada Tuhan yang adil (ayat 25: “Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu”).

      Ada juga perbedaan antara mengampuni dan berdamai. Mengampuni bisa Anda lakukan sendiri. Berdamai (rekonsiliasi) membutuhkan dua pihak, dan kadang membutuhkan syarat: pertobatan, perubahan perilaku, bahkan jarak yang aman.

      Petrus dan Pantai Danau Tiberias

      Siluet dua orang duduk di tepi danau saat fajar dekat api arang dan ikan bakar, menggambarkan Yesus memulihkan Petrus dalam Yohanes 21 sebagai teladan pemulihan hubungan Kristen.

      Kalau mau melihat penyembuhan relasi dalam bentuk paling manusiawi, saya selalu kembali ke Yohanes 21. Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Setelah kebangkitan, Yesus tidak memanggilnya ke ruang sidang. Ia menyiapkan sarapan di tepi pantai, dengan api arang dan ikan bakar.

      Lalu tiga kali Yesus bertanya, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?” Tiga kali, sebanyak tiga kali penyangkalan. Menurut saya itu bukan penyiksaan. Itu cara Yesus memberi Petrus kesempatan memulihkan kata-katanya, satu per satu, sampai luka itu benar-benar ditutup.

      Perhatikan juga apa yang tidak Yesus lakukan: Ia tidak mengungkit-ungkit. Ia tidak berkata, “Ingat tidak, waktu itu kamu...?” Pemulihan-Nya diakhiri dengan tugas: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

      Pemulihan hubungan Kristen yang sejati selalu begini. Kita tidak berhenti di “sudah baikan”. Kita diutus kembali untuk mengasihi.

      Ketika Rumah dan Kantor Sama-sama Perlu Kasih

      Ayat 22-25 ditujukan kepada hamba, dan kita tidak boleh membacanya sebagai pembenaran perbudakan. Perbudakan adalah realitas sosial saat itu, dan Perjanjian Baru secara bertahap menggerakkan hati ke arah pembebasan (lihat surat Paulus kepada Filemon). Yang bisa kita ambil sebagai prinsip adalah ayat 23: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

      Untuk zaman kita, artinya kira-kira begini. Bos yang menyebalkan, rekan kerja yang mencari muka, tetangga yang suka memancing keributan: semuanya bisa menjadi tempat kita belajar. Bukan supaya kita jadi keset, tetapi supaya integritas kita tidak bergantung pada perilaku orang lain. Kita bekerja dengan jujur bukan karena atasan sedang mengawasi, melainkan karena Kristus melihat.

      Satu Peringatan: Ini Bukan Izin untuk Bertahan dalam Kekerasan

      Saya merasa wajib menulis ini dengan terang. Kalau di rumah ada kekerasan fisik, ancaman, atau kekerasan psikis yang terus-menerus, kata “tunduk” dan “taat” tidak pernah dimaksudkan menjadi tameng bagi pelaku. Kolose 3:19 sendiri berkata: jangan berlaku kasar. Tuhan tidak memanggil siapa pun untuk menjadi korban yang diam.

      Dalam situasi seperti itu, langkah pertama adalah keselamatan, lalu pendampingan. Bicaralah kepada pendeta, majelis jemaat, atau konselor yang dapat dipercaya. Konseling pastoral dan konseling Kristen yang baik tidak akan memaksa Anda “berdamai” dengan bahaya. Iman Kristen dan psikologi tidak bertentangan di sini; keduanya sama-sama menjaga manusia sebagai gambar Allah.

      Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Minggu Ini

      Penyembuhan luka batin jarang terjadi dengan satu doa dramatis. Biasanya ia datang lewat langkah-langkah kecil yang konsisten:

      1. Namai lukanya dengan jujur. Tulis, “Saya sakit hati karena...” di hadapan Tuhan, tanpa disensor.
      2. Doakan orangnya. Mulai dengan satu kalimat saja, bahkan kalau awalnya hanya “Tuhan, tolong saya mau mendoakan dia.”
      3. Pilih satu tindakan kecil. Pesan singkat, secangkir kopi, atau permintaan maaf yang sederhana.
      4. Cari saksi. Ceritakan kepada orang dewasa rohani yang bisa menjaga rahasia.
      5. Beri waktu. Memulihkan trauma masa lalu itu proses, bukan lomba.

      Untuk menumbuhkan kebiasaan ini, tulisan kami sebelumnya tentang mendengar dan melakukan firman sebagai obat bagi luka batin dan relasi bisa menjadi pendamping. Dan kalau Anda bertanya-tanya apakah mencari penghiburan lewat dunia hiburan itu salah, ada pembahasan yang jujur di sana.

      Di Bawah Salib, Semua Hutang Dibayar

      Kalau ada satu alasan kenapa saya percaya pengampunan itu mungkin, jawabannya ada di salib. Di sanalah keadilan dan kasih Allah bertemu. Hutang kita tidak diabaikan; ia dibayar. Silakan membaca pengorbanan kasih dan keadilan Allah di jalan salib untuk merenungkannya lebih dalam.

      Karena Kristus sudah membayar, kita tidak perlu menagih orang lain dengan kepahitan. Dan ketika kita perlu menegur, kita bisa melakukannya dengan lembut. Tulisan tentang menasihati sesama saudara dalam rangkulan kasih menolong kita agar teguran tidak menjadi senjata.

      Dan yang membuat semua ini bukan sekadar usaha moral adalah kebangkitan. Kita bukan sedang memperbaiki diri dengan tenaga sendiri. Seperti kata Paulus, di dalam Kristus ada ciptaan baru yang membarui kemanusiaan kita. Orang yang kasar bisa dibarui. Hati yang tawar bisa dihangatkan lagi.

      Pertanyaan yang Sering Muncul (FAQ)

      Bagaimana kalau pihak lain tidak mau minta maaf?
      Anda tetap bisa mengampuni, karena itu urusan hati Anda dengan Tuhan. Tetapi rekonsiliasi penuh memerlukan kesediaan kedua pihak. Jangan menunggu permintaan maaf untuk mulai sembuh.

      Apakah mengampuni berarti saya harus kembali seperti semula?
      Tidak selalu. Kepercayaan dibangun kembali pelan-pelan. Dalam kasus yang membahayakan, jarak yang sehat adalah bentuk hikmat.

      Saya sudah berdoa, tapi masih sakit. Apa saya kurang beriman?
      Sama sekali tidak. Luka dalam butuh waktu. Kadang Tuhan memakai doa, kadang konselor, kadang waktu, dan sering kali ketiganya.

      Apa ayat Alkitab yang menolong saat sulit mengampuni?
      Efesus 4:31-32, Matius 18:21-22, Kolose 3:12-14, dan Yohanes 21:15-19.

      Kesimpulan

      • Kolose 3:18-25 harus dibaca bersama ayat 12-17: kasih Kristus lebih dulu, baru peran-peran kita.
      • Dalam setiap relasi, kuasa bukan izin menyakiti. Pihak yang kuat dituntut tegas untuk mengasihi.
      • Kasih agape adalah keputusan, bukan sekadar perasaan.
      • Mengampuni tidak sama dengan melupakan, dan tidak sama dengan berdamai.
      • Pemulihan Petrus menunjukkan bahwa Yesus memulihkan tanpa mengungkit, lalu mengutus kembali.
      • Bila ada kekerasan, keselamatan dan pendampingan pastoral lebih dulu.

      Pesan Pengutusan

      Dua tangan saling terulur dengan cahaya hangat di antaranya di atas latar fajar yang lembut, melambangkan pengampunan, rekonsiliasi, dan damai sejahtera Kristus sesuai Kolose 3:15.

      Pulanglah dari ibadah dengan satu keberanian kecil: menjadi yang pertama mengulurkan tangan. Siapa tahu kata maaf yang Anda tunda berminggu-minggu adalah pintu yang sedang Tuhan buka.

      “Dan damai sejahtera Kristus hendaklah memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” (Kolose 3:15)

      Di rumah yang pernah dingin oleh luka, Tuhan akan menyalakan kembali api kasih-Nya, dan setiap hati yang tawar akan Ia hangatkan sampai pulih.

      Mari Berbagi

      Kalau boleh jujur, bagian tentang “hati yang tawar” itu selalu membuat saya diam lama. Apakah ada relasi dalam hidup Anda yang sedang menunggu seseorang melangkah lebih dulu? Ceritakan di kolom komentar, tanpa perlu menyebut nama. Dan kalau Anda punya pengalaman pulih dari konflik keluarga, silakan dibagikan; kisah Anda bisa menguatkan orang lain yang sedang berjuang.


      Tentang Penulis
      Akang Loger, penulis & blogger Kristen sejak 2021.

      Baca Juga:

      Loading...
      Add a comment

      0 Comments

      Write a comment
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • Hubungi kami di : https://www.jgmittubutuan.com/p/kontak.html