Gereja-gereja Protestan Injili di negeri yang sedang dibombardir itu menerimanya karena bersatu melayani korban perang. Di artikel ini saya merangkum apa yang terjadi di Albania, apa yang mereka kerjakan, dan apa yang bisa kita pelajari sebagai umat Kristen yang jauh dari medan perang.
Apa Itu Hope Award dan Siapa Pemberinya?
Hope Award adalah penghargaan kehormatan dari European Evangelical Alliance (EEA). Tidak ada hadiah uangnya.
Penghargaan ini diberikan kepada pihak yang mencerminkan harapan alkitabiah, kemitraan, integritas, dan transformasi nyata.
Penyerahannya berlangsung pada Kamis malam, 8 Oktober 2026. Acaranya adalah penutupan pertemuan lima tahunan Hope for Europe di Golem, Albania, yang dihadiri sekitar 250 pemimpin gereja Injili dari berbagai penjuru Eropa. Temanya “Hope in Uncertain Times”.
Mengapa Penghargaan Tahun Ini Berbeda
Biasanya penerimanya individu, satu organisasi, atau satu proyek. Kali ini seluruh komunitas gereja Protestan Injili di Ukraina yang dipanggil ke panggung.
Pesannya jelas: yang dinilai bukan satu tokoh, melainkan tubuh Kristus yang bekerja bersama.
Rumah Ibadah yang Berubah Jadi Pusat Perlindungan
Gedungnya dialihfungsikan menjadi pusat bantuan dan tempat penampungan darurat. Ruang bawah tanah menjadi bunker saat serangan datang. Ruangan lain dipakai menyimpan makanan, obat-obatan, dan generator listrik.
Kelompok pemuda gereja pun bergerak sebagai tim relawan kemanusiaan yang terorganisasi.
Banyak pendeta juga memilih tidak mengungsi. Mereka menemani lansia, warga yang ketakutan, serta para tentara dan keluarganya. Beberapa di antara mereka gugur.
Bagi saya, bagian ini yang paling menampar. Kita sering menyebut gereja sebagai “tempat berlindung” dalam khotbah. Di Ukraina, ungkapan itu diuji secara harfiah, lengkap dengan lantai beton dan lampu yang bergantung pada generator.
Menyingkirkan Sekat Denominasi Demi Pelayanan Bersama
Salah satu alasan utama penghargaan ini, menurut Sekretaris Jenderal Bersama EEA Jan Wessels, adalah persatuan lintas tradisi.
Gereja Baptis, Pentakosta, Advent Hari Ketujuh, Lutheran, Reformed, hingga jemaat Yahudi Mesianik duduk dalam satu barisan. Mereka menyadari bahwa iman bersama kepada Kristus lebih besar daripada perbedaan doktrin mereka.
Hasilnya nyata. Mereka melayani korban perang bersama-sama dan berbicara satu suara kepada pemerintah. Piagam penghargaannya mengakui teladan mereka dalam memancarkan harapan Kristus melalui kasih, ketahanan, persatuan, dan kepemimpinan yang berkorban di tengah penderitaan.
Rasul Paulus pernah menulis soal ini:
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” (Efesus 4:3, TB)
Di Ukraina, ayat itu bukan slogan untuk spanduk retret. Ia menjadi cara bertahan hidup.
Suara dari Panggung: Jangan Terbiasa dengan Penderitaan
Igor Bandura, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Injili Protestan Ukraina, menerima penghargaan itu bersama seluruh delegasi Ukraina. Ia meminta komunitas internasional jangan terbiasa dan jangan menutup mata.
Ia menyebut serangan sehari sebelumnya: rudal yang menghantam gedung apartemen di Pryluky dan menewaskan 22 warga sipil, lima di antaranya anak-anak. Ada pula serangan ke bus penumpang yang menewaskan 33 orang, serta rusaknya jaringan listrik dan air di Kyiv dan empat wilayah sekitarnya.
Menurut Bandura, jika Ukraina jatuh, perang bisa merembet ke negara Eropa lain dan pemberitaan Injil akan terpukul keras. (Angka-angka ini berasal dari pidato yang dilaporkan, bukan hasil verifikasi independen saya.)
Sisi Lain Perang: Pertumbuhan Rohani
| Hal yang Dilaporkan | Jumlah / Angka |
| Orang dibaptis selama masa perang | Lebih dari 40.000 |
| Pendeta dan diaken ditahbiskan | Lebih dari 2.000 |
| Kelompok persekutuan/jemaat baru dirintis pengungsi | Lebih dari 400 |
| Negara Uni Eropa tempat jemaat itu tumbuh | 25 |
Ordinasi itu mengisi kekosongan ketika ratusan pelayan lain masuk angkatan bersenjata atau mengungsi. Ratusan gedung gereja memang hancur atau hilang di wilayah pendudukan, tetapi jemaat baru justru dirintis di wilayah Ukraina lain.
Para pengungsi di luar negeri pun tidak sekadar bertahan. Mereka membuka program penjangkauan, taman kanak-kanak, bahkan sekolah.
Catatan Pengamatan Saya
Saya menulis blog Kristen sejak 2021. Dari pengamatan saya terhadap pemberitaan gereja, tragedi biasanya dibingkai sebagai kemunduran iman. Laporan dari Ukraina berjalan terbalik: ketika gedung runtuh, jemaat justru berpindah ke rumah-rumah, bunker, dan negara tetangga.
Ini mengubah pertanyaan saya. Selama ini saya bertanya, “Apa jadinya gereja tanpa kenyamanan?” Kini saya bertanya, “Jangan-jangan kenyamanan yang selama ini membuat kita berjalan lambat?”
Sebagai pembanding, saya pernah menulis tentang pergeseran gereja dunia di blok Nordik dan Amerika. Kisah Ukraina memberi sudut yang lebih membumi dari semua analisis geopolitik itu.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Gereja Ukraina
Kita tidak sedang dikepung rudal. Tetapi tiga pelajaran ini tetap terbawa sampai ke gereja kita.
- Fungsi mendahului bentuk. Gedung boleh berganti rupa menjadi gudang logistik atau bunker, asalkan orang tertolong.
- Persatuan lahir dari kebutuhan bersama. Ketika ada orang yang harus dilindungi, debat doktrin sekunder mengecil dengan sendirinya.
- Kehadiran adalah pelayanan. Pendeta yang tidak mengungsi mungkin tidak membawa program besar, tetapi mereka membawa diri mereka.
Soal solidaritas global, saya teringat refleksi tentang persatuan umat Kristen menjelang 80 tahun PBB. Ukraina menunjukkan seperti apa persatuan itu ketika harus dibayar mahal.
Isu keadilan dan hak rakyat pun punya gema di tempat kita, misalnya dalam tulisan tentang suara hak atas tanah dari Greenland hingga Merauke. Krisis di tingkat nasional juga pernah dibahas di Sidang Raya Ekumindo Belanda, dan relevan untuk membaca konteks kita sendiri.
Alkitab merangkum semangatnya dengan singkat:
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” (Galatia 6:2, TB)
Kotak Tips: Langkah Nyata Mulai Hari Ini
- Berdoa spesifik. Sebut Ukraina, para pendeta, relawan muda, dan pengungsi di 25 negara Uni Eropa.
- Dukung lewat lembaga resmi. Pilih lembaga kemanusiaan atau gereja yang transparan soal laporan dananya.
- Teruskan kabarnya. Ajak komsel atau kelompok pemuda membahas kisah ini sebulan sekali.
- Cek sumber berita. Bandingkan laporan lebih dari satu media sebelum membagikan angka korban.
Tanya Jawab Singkat (FAQ)
Kesimpulan: Poin Kunci
- Gereja Ukraina meraih Hope Award 2026 sebagai satu komunitas, bukan individu.
- Gereja dialihfungsikan menjadi tempat penampungan, bunker, dan gudang bantuan.
- Baptis, Pentakosta, Advent, Lutheran, Reformed, dan Yahudi Mesianik bersatu melayani.
- Perang membawa kehancuran, tetapi juga baptisan, ordinasi, dan jemaat baru di 25 negara Uni Eropa.
Bagaimana Pendapat Anda?
Kalau gereja Anda tiba-tiba harus menjadi tempat perlindungan, apa yang paling siap dan paling belum siap dikorbankan? Tulis di kolom komentar. Saya ingin membaca jawaban jujur Anda.
Jika artikel ini menguatkan Anda, bagikan ke WhatsApp, Facebook, atau grup komsel supaya lebih banyak orang ikut mendoakan Ukraina.
Tentang Penulis
Akang Loger adalah penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Profil lengkap ada di halaman bio penulis.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan reflektif, berdasarkan laporan penyerahan Hope Award 2026. Data korban dan statistik pelayanan berasal dari pernyataan narasumber di acara tersebut dan dapat berubah. Untuk donasi atau keputusan finansial, pastikan Anda memeriksa kredibilitas lembaga penerima.



0 Comments