Saya sendiri pernah menyimpan pertanyaan itu bertahun-tahun. Rasanya kalau mau berdampak di dunia pendidikan, kita harus punya yayasan, punya dana besar, atau minimal jadi kepala sekolah dulu. Selama tidak punya itu semua, saya merasa lebih baik diam dan menunggu "waktu yang tepat" yang entah kapan datangnya.
Ternyata saya keliru. Dan Yesus sendiri sudah menjelaskan kekeliruan ini jauh sebelum saya lahir, lewat dua perumpamaan singkat yang sering kita lewati begitu saja saat baca Alkitab: perumpamaan biji sesawi dan ragi, di Matius 13:31-35.
Ilusi "Harus Besar Dulu Baru Berdampak"
Saya perhatikan, banyak umat Kristen termasuk saya sendiri di masa lalu diam-diam percaya sebuah mitos: bahwa dampak itu berbanding lurus dengan besarnya sumber daya yang kita punya. Semakin besar dana, semakin besar jaringan, semakin besar juga dampaknya. Kalau logika ini benar, maka orang biasa seperti kita otomatis tersingkir dari percakapan tentang perubahan.
Tapi coba perhatikan cara Allah bekerja dalam Kerajaan-Nya. Logikanya terbalik. Justru yang kecil, yang remeh, yang nyaris tidak kelihatan, itulah yang dipakai-Nya untuk memulai sesuatu yang besar.
Ini bukan sekadar teori rohani yang manis untuk didengar. Ini prinsip yang, kalau kita mau jujur, menantang cara kita memandang keterlibatan dalam isu pendidikan hari ini terutama di lingkungan gereja kita.
Apa Kata Matius 13:31-35?
Yesus menyampaikan dua perumpamaan berturut-turut pada bagian ini, dan keduanya punya benang merah yang sama.
Biji Sesawi yang Diremehkan
Ayat 31-32 bercerita tentang biji sesawi yang oleh Yesus sendiri disebut sebagai biji yang paling kecil di antara segala jenis benih. Tapi begitu ditaburkan dan tumbuh, ia menjadi pohon, sampai burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya.
Yang menarik dari perumpamaan ini bukan cuma soal "kecil jadi besar". Ada detail yang gampang terlewat: prosesnya butuh waktu, dan hasil akhirnya jauh melampaui bentuk awalnya. Tidak ada yang bisa menebak dari melihat sebutir biji sesawi bahwa suatu hari ia akan jadi tempat berlindung banyak burung.
Kalau kita tarik ke konteks pendidikan, saya sering membayangkan begini: seorang anak yang hari ini kita ajari membaca, atau seorang siswa yang kita bantu supaya tidak putus sekolah, mungkin sekarang cuma terlihat seperti "satu anak yang dibantu". Tidak ada yang tahu, dua puluh tahun lagi, anak itu bisa jadi guru, pendeta, dokter, atau pemimpin yang menaungi banyak orang lain persis seperti pohon sesawi yang jadi tempat bersarang.
Ragi yang Bekerja Diam-Diam
Ayat 33 melanjutkan dengan perumpamaan ragi. Ragi itu jumlahnya sedikit, hampir tidak terlihat kalau dicampur ke dalam adonan besar. Tapi ia bekerja tanpa henti sampai seluruh adonan mengembang.
Ini gambaran yang pas sekali untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai Kristiani bekerja lewat pendidikan. Seorang pendamping belajar yang menunjukkan kesabaran, seorang mentor yang jujur soal kegagalannya sendiri, seorang guru sekolah minggu yang konsisten hadir walau kelasnya cuma diisi lima anak semua itu terlihat kecil. Tapi seperti ragi, pengaruhnya menyebar ke seluruh karakter anak, pelan-pelan, dan sering kali baru kelihatan hasilnya bertahun-tahun kemudian.
Saya jadi teringat sebuah obrolan dengan salah satu majelis jemaat yang pernah bilang begini: "Saya tidak pernah merasa sedang mengubah dunia. Saya cuma datang tiap Sabtu, ajar anak-anak baca Alkitab sambil main." Tapi kalau dipikir-pikir, itu persis cara ragi bekerja tidak spektakuler, tidak viral, tapi terus-menerus mengkhamirkan.
Bentuk Nyata "Biji Sesawi" dalam Dunia Pendidikan Hari Ini
Pertanyaannya sekarang: bagaimana prinsip ini turun ke tindakan konkret? Saya percaya, kepedulian kecil pada pendidikan itu tidak harus rumit. Beberapa contoh yang sering saya lihat dijalankan justru oleh orang-orang biasa di jemaat:
- Memberi waktu dan keahlian. Menjadi sukarelawan mengajar baca-tulis, atau sekadar menemani anak tetangga mengerjakan PR seminggu sekali.
- Dukungan doa dan dana kecil. Menjadi "orang tua asuh" informal bagi satu anak yang terancam putus sekolah bukan lewat yayasan besar, cukup lewat komitmen pribadi.
- Menanamkan karakter, bukan cuma ilmu. Menunjukkan kasih Kristus dan integritas dalam interaksi sehari-hari dengan anak didik, bukan sekadar mentransfer pelajaran.
| Bentuk Kepedulian | Contoh Sederhana | Efek "Ragi"-nya |
| Waktu & Keahlian | Mengajar baca tulis sukarela | Anak jadi lebih percaya diri untuk belajar |
| Dukungan Dana Kecil | Menjadi orang tua asuh informal | Anak tetap bisa melanjutkan sekolah |
| Karakter Kristiani | Kesabaran & kejujuran dalam mendampingi | Nilai-nilai positif menular ke cara anak memperlakukan orang lain |
Saya pribadi merasa poin kedua yang paling sering diabaikan karena kita mengira "membantu keuangan pendidikan" itu harus dalam jumlah besar. Padahal, satu anak yang terselamatkan dari putus sekolah karena bantuan kecil yang konsisten, itu sudah cukup untuk jadi biji sesawi yang tumbuh jadi pohon.
Kalau Anda ingin membaca lebih dalam soal peran keluarga dalam mewariskan nilai lewat pendidikan, saya sudah menuliskannya di Wariskan Iman, Bukan Sekadar Nama: Peran Orangtua dalam Pendidikan. Ada juga renungan yang membahas bagaimana kebenaran itu sendiri yang mengubah hidup seseorang, bisa dibaca di Mengetahui Kebenaran Mengubahkan Hidup.
Kenapa Kita Sering Ragu Memulai?
Kalau saya jujur, hambatan terbesar bukan soal tidak tahu caranya. Hambatan terbesar itu rasa takut kalau usaha kecil kita "tidak cukup berarti". Kita membandingkan diri dengan lembaga besar, dengan program yang punya anggaran miliaran, lalu merasa apa yang bisa kita lakukan cuma setetes air di lautan.
Tapi coba pikirkan ulang perumpamaan biji sesawi. Yesus tidak bilang biji itu harus jadi besar dulu baru ditabur. Ia justru menekankan bahwa biji itu memang kecil dan itu bukan masalah. Yang jadi soal adalah apakah biji itu ditaburkan atau tidak.
Saya belajar ini dengan cara yang cukup memalukan sebenarnya. Dulu saya menunda-nunda untuk terlibat mengajar di sekolah minggu karena merasa "belum cukup pintar teologi". Butuh waktu cukup lama sampai saya sadar, anak-anak itu tidak butuh teolog. Mereka cuma butuh orang dewasa yang mau hadir, konsisten, dan menunjukkan kasih yang tulus. Itu saja.
Renungan lain yang membahas kesetiaan dalam mendidik dengan kebenaran bisa Anda baca di Mendidik dalam Kebenaran (2 Yohanes 1:4), dan soal peran kita sebagai "duta" dalam pendidikan ada di Renungan Bulan Pendidikan: Duta yang Diutus.
Mempercayakan Hasil kepada Allah
Ada satu hal yang menenangkan saya setiap kali merasa usaha kecil ini "kurang berdampak": tugas kita hanya menabur. Rasul Paulus menuliskan ini dengan jelas dalam 1 Korintus 3:6 "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Kita tidak pernah dipanggil untuk mengontrol hasil akhirnya. Kita cuma dipanggil untuk setia menabur.
Ini melegakan sekaligus menantang. Melegakan, karena kita tidak perlu menanggung beban seolah-olah masa depan seorang anak sepenuhnya di tangan kita. Menantang, karena artinya kita tidak punya alasan lagi untuk menunda hanya karena "belum yakin hasilnya akan besar". Perubahan besar dalam dunia pendidikan dimulai bukan pada saat momen besar tiba, tapi pada saat kita berhenti menunggu dan mulai melangkah dari hal kecil yang sudah ada di depan mata kita hari ini.
Kalau Anda ingin membaca renungan harian lain seputar tema pendidikan dari sudut pandang Kristen, saya rekomendasikan Renungan Harian Kristen: Pendidikan sebagai bacaan pelengkap.
Beberapa Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah kepedulian kecil benar-benar bisa berdampak besar, atau ini cuma penghiburan rohani? Saya paham kenapa pertanyaan ini muncul rasanya terlalu sederhana untuk jadi benar. Tapi kalau kita lihat pola kerja Allah dalam Alkitab, dari Daud yang cuma gembala sampai murid-murid yang cuma nelayan biasa, pola itu konsisten: Allah memang sering memilih yang kecil untuk mengerjakan yang besar.
Bagaimana kalau saya tidak punya latar belakang pendidikan sama sekali? Justru di sini saya melihat perumpamaan ragi jadi relevan. Ragi tidak perlu jadi tepung untuk mengubah adonan. Anda tidak perlu jadi sarjana pendidikan untuk membantu anak belajar membaca atau menjadi teladan karakter yang baik.
Berapa lama biasanya sebelum kepedulian kecil ini terlihat hasilnya? Jujur, tidak ada jawaban pasti. Kadang bertahun-tahun, kadang malah tidak sempat kita saksikan sendiri di dunia ini. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menabur.
Kesimpulan
Kepedulian kecil pada pendidikan bukan hal yang remeh di mata Allah. Lewat perumpamaan biji sesawi dan ragi dalam Matius 13:31-35, kita diingatkan bahwa Kerajaan Allah bekerja dengan logika yang berbeda dari dunia yang kecil justru dipakai untuk menghasilkan dampak yang besar dan bertahan lama. Memulai perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak menuntut kita punya yayasan atau dana besar; cukup dengan langkah nyata yang konsisten, seperti mengajar, mendampingi, atau menjadi orang tua asuh bagi satu anak.
Pesan Pengutusan
Umat Tuhan, jangan biarkan rasa "terlalu kecil untuk berdampak" menahan langkah kita. Allah memakai biji sesawi dan ragi untuk mengerjakan hal besar dan Ia bisa memakai kepedulian sederhana kita dengan cara yang sama.
"Sebab itu, karena kita mempunyai kasih karunia yang berbeda-beda menurut karunia yang dianugerahkan kepada kita, marilah kita menggunakannya." sebagaimana semangatnya tercermin dalam Matius 13:32, tentang biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon tempat burung bersarang.
Hal-hal kecil yang kau taburkan hari ini dalam kasih, kelak akan menjadi tempat berteduh bagi banyak jiwa yang bahkan belum kau kenal namanya.
Saya sendiri belajar prinsip ini dengan cara yang cukup memalukan menunda bertahun-tahun karena merasa "belum cukup layak". Apakah Anda pernah merasakan hal yang sama? Atau justru Anda punya cerita tentang kepedulian kecil yang ternyata berbuah besar? Yuk, bagikan di kolom komentar saya benar-benar ingin dengar.
Tentang Penulis
Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Menulis renungan dan refleksi seputar iman, kehidupan sehari-hari, dan pelayanan. Profil selengkapnya: yakangbioprofil



0Comments