Itulah kenapa ketika saya membaca kabar tentang Rakernas PTKIN yang berlangsung di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026, saya merasa ini bukan sekadar berita seremonial biasa. Dalam forum tersebut, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menyampaikan sesuatu yang menurut saya perlu direnungkan bersama oleh umat Kristen: krisis iklim bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan sudah menjelma menjadi krisis kemanusiaan.
Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar kalau kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya baik-baik.
Apa Itu Rakernas PTKIN dan Kenapa PGI Hadir di Sana?
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Nasional IKA PTKIN adalah forum yang biasanya identik dengan dunia pendidikan tinggi keagamaan Islam. Jadi wajar kalau ada yang bertanya-tanya, kenapa Ketum PGI justru hadir dan bicara di forum semacam ini?
Bagi saya, justru di situlah letak maknanya. Isu ekologi tidak mengenal sekat agama. Gereja, pesantren, dan lembaga pendidikan lintas iman punya kepentingan yang sama: menjaga bumi tempat kita semua hidup bersama. Kehadiran Pdt. Jacklevyn di forum PTKIN menunjukkan bahwa persoalan lingkungan sudah menjadi bahasa bersama lintas agama, bukan monopoli satu kelompok saja.
Polikrisis: Ketika Segalanya Runtuh Bersamaan
Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal. Banjir yang merendam sebuah desa bukan cuma soal air yang meluap, tapi juga soal hutan yang gundul, kebijakan tata ruang yang keliru, dan masyarakat kecil yang paling dulu kehilangan rumah serta mata pencaharian.
Beberapa data yang disampaikan dalam forum tersebut cukup membuat saya merenung cukup lama:
| Fakta | Keterangan |
| Proyeksi suhu global | Periode 2026–2030 diperkirakan melampaui ambang batas 1,5°C menurut WMO |
| Kondisi Indonesia | BMKG mencatat 2023–2025 sebagai tahun-tahun terpanas dalam sejarah Indonesia |
| Kehilangan hutan | Lebih dari sepuluh juta hektare hutan primer hilang dalam dua dekade terakhir |
Angka-angka itu memang terlihat kering di atas kertas, tapi coba bayangkan wajah nyata di baliknya: petani yang gagal panen, nelayan yang pulang dengan tangan kosong, anak-anak yang harus mengungsi karena banjir bandang. Data hanyalah pintu masuk. Yang sebenarnya kita hadapi adalah penderitaan manusia yang nyata.
Ekologi Bukan Sekadar Isu Lingkungan, Tapi Soal Keadilan
Di sinilah letak persoalan keadilannya. Bukan cuma soal pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar, tapi soal siapa yang untung dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Kalau umat Kristen serius memikirkan keadilan sosial, maka merawat ciptaan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan itu.
Saya pribadi jadi teringat kembali pada kondisi Papua yang beberapa kali disorot PGI. Kalau Anda ingin membaca lebih dalam soal itu, saya pernah membahasnya di artikel PGI ingatkan Papua bukan sekadar angka di atas kertas, yang menurut saya masih sangat relevan dengan isu keadilan ekologi ini.
Landasan Teologis: KPKC dan Semangat Keugaharian
Bagi umat Kristen yang mungkin baru mendengar istilah ini, PGI mendasarkan gerakan lingkungannya pada kerangka Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Kerangka ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari pemikiran ekumenis, tapi baru terasa sangat mendesak sekarang, di tengah krisis iklim yang semakin nyata.
Salah satu nilai yang juga ditekankan adalah keugaharian, sebuah spiritualitas untuk hidup secukupnya. Tidak berkekurangan, tapi juga tidak berlebihan. Saya suka sekali dengan konsep ini karena terasa sangat membumi dan tidak muluk-muluk. Menariknya, nilai ini juga punya kedekatan dengan prinsip wasatiyyat dalam Islam serta nilai keseimbangan dalam filsafat Tionghoa. Ini semacam titik temu yang jarang dibicarakan, padahal sangat potensial untuk merajut kerja sama lintas iman yang lebih erat.
Bukan Sekadar Wacana: Aksi Nyata PGI di Lapangan
Kalau cuma bicara di forum tanpa tindak lanjut, tentu semua ini akan terasa hambar. Untungnya, PGI sudah menunjukkan sejumlah langkah konkret yang patut diapresiasi.
Beberapa di antaranya:
- Mengeluarkan pernyataan sikap "Jangan Merusak Alam Demi Investasi", sekaligus membela hak-hak masyarakat adat yang sering terpinggirkan oleh proyek-proyek besar.
- Aktif dalam Interfaith Rainforest Initiative (IRI), berkolaborasi bersama MUI, NU, Muhammadiyah, dan KWI untuk bersama-sama melindungi hutan hujan tropis Indonesia.
- Mengintegrasikan tema lingkungan ke dalam ibadah, misalnya lewat nyanyian Kidung Keesaan, serta menyusun panduan rumah ibadah yang ramah lingkungan.
- Menyelenggarakan semiloka teologi khusus untuk merespons krisis ekologis di Papua, wilayah yang memang paling rentan terdampak eksploitasi sumber daya alam.
Yang menarik dari poin kolaborasi lintas agama ini, kita jadi diingatkan bahwa isu ekologi memang bisa menyatukan berbagai kelompok yang selama ini kadang terasa berjarak satu sama lain. Sama seperti semangat kebersamaan lintas iman yang pernah saya singgung dalam artikel PGI bongkar tiga krisis mematikan di Indonesia, semangat inilah yang tampaknya terus dijaga dan diperkuat oleh PGI dari waktu ke waktu.
Kenapa Ini Penting Bagi Umat Kristen Awam Seperti Kita?
Mungkin ada yang bertanya, "Ini kan urusan pemimpin gereja dan forum-forum besar, apa hubungannya dengan saya yang cuma jemaat biasa?"
Justru di sinilah letak tantangannya. Iman yang hanya berhenti di mimbar tanpa turun ke kehidupan sehari-hari akan kehilangan maknanya. Kita mungkin tidak bisa mengubah kebijakan negara dalam semalam, tapi kita bisa mulai dari hal-hal kecil: mengurangi sampah plastik, lebih bijak menggunakan air, atau sekadar tidak buang-buang makanan.
Saya sendiri masih terus belajar soal ini. Kadang saya merasa gagal, misalnya ketika masih sering lupa membawa tas belanja sendiri dan akhirnya menerima kantong plastik dari toko. Tapi setidaknya kesadaran itu sudah mulai tumbuh, dan saya percaya itu adalah langkah awal yang berarti.
Kepemimpinan PGI sendiri, seperti yang pernah saya tulis dalam artikel tongkat estafet di tangan Pdt. Jacky Manuputty, memang dikenal berani mengangkat isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil, termasuk soal keadilan sosial secara lebih luas seperti yang juga dibahas dalam seruan PGI tuntut kepemimpinan humanis. Sikap konsisten semacam ini yang menurut saya membuat suara PGI soal ekologi terasa bukan sekadar formalitas belaka.
Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Topik Ini
Apa itu Rakernas PTKIN dan kenapa isu ekologi dibahas di sana? Rakernas PTKIN adalah forum kerja nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Kehadiran Ketum PGI di forum ini menunjukkan bahwa isu keadilan ekologi kini menjadi perhatian bersama lintas agama, bukan hanya milik satu kelompok keagamaan saja.
Apa maksud dari istilah "metanoia ekologis"? Ini adalah ajakan pertobatan yang tidak hanya soal hubungan manusia dengan Tuhan atau sesama, tapi juga soal cara kita memandang dan memperlakukan alam ciptaan-Nya.
Kenapa PGI mengaitkan ekologi dengan keadilan sosial? Karena kelompok yang paling menderita akibat kerusakan lingkungan, seperti masyarakat adat dan nelayan, biasanya justru bukan pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan itu. Di situlah letak ketidakadilannya.
Apa yang bisa dilakukan jemaat biasa untuk mendukung gerakan ini? Mulai dari hal sederhana seperti mengurangi konsumsi berlebihan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, hingga mendukung kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam dan hak masyarakat adat.
Kesimpulan
Dari seluruh pemaparan dalam Rakernas PTKIN ini, saya melihat ada satu pesan besar yang ingin disampaikan Ketum PGI: krisis ekologi bukan sekadar persoalan alam, melainkan cerminan dari ketidakadilan yang kita ciptakan sendiri. Kerangka KPKC dan semangat keugaharian menjadi pengingat bahwa iman Kristen memanggil kita untuk hidup secukupnya, sekaligus berjuang bagi mereka yang paling rentan terdampak kerusakan lingkungan.
Kolaborasi lintas agama yang terus dibangun PGI, mulai dari IRI hingga forum-forum seperti Rakernas PTKIN ini, menunjukkan bahwa persoalan menjaga bumi memang membutuhkan tangan bersama, bukan usaha satu kelompok saja.
Pesan Pengutusan
Sebagai umat Kristen, kita dipanggil untuk tidak berdiam diri melihat ciptaan Tuhan yang terus rusak di sekitar kita. Firman Tuhan dalam Kejadian 2:15 mengingatkan kita:
"Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu."
Tugas mengusahakan dan memelihara ini bukan tugas sesaat, melainkan panggilan seumur hidup yang harus terus kita hidupi, di tengah rumah, gereja, maupun masyarakat luas.
Kelak ketika bumi ini kembali menghijau oleh tangan-tangan yang mau bertobat, di situlah kita akan melihat wajah Kerajaan Allah yang nyata di antara kita.
Bagaimana menurut Anda, apakah gereja selama ini sudah cukup vokal menyuarakan isu lingkungan, atau justru masih terlalu sibuk dengan urusan internal saja? Saya pribadi masih terus bergumul dengan pertanyaan ini setiap kali melihat berita bencana alam di tanah air. Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar!
Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Menulis dari keresahan sehari-hari seputar iman, sosial, dan lingkungan hidup. Profil selengkapnya: yakangbioprofil
.png)



0Comments