TUA6BSG5BUA5BUA5TfGpGpdoTd==
Light Dark
Rakernas PTKIN: Ketum PGI Suarakan Keadilan Ekologi

Rakernas PTKIN: Ketum PGI Suarakan Keadilan Ekologi

Rakernas PTKIN jadi panggung Ketum PGI Pdt. Jacklevyn Manuputty suarakan keadilan ekologi. Simak refleksi lengkapnya di sini.
Table of contents
×
Daftar Isi [Tampil]

Poster sinematik Rakernas PTKIN 2026 menampilkan empat panelis di atas panggung dengan tema Ketum PGI Suarakan Keadilan Ekologi, berlatar nuansa gelap tajam dan watermark © 2026 All Right Reserved – Designed by penarohani.


Warta Jemaat, Pena Rohani - Ketum PGI Suarakan Keadilan Ekologi - Saya masih ingat betul, beberapa tahun lalu ketika mudik ke kampung halaman, sawah yang dulu menghijau sepanjang mata memandang sudah berubah jadi lahan gersang karena kemarau panjang yang datang lebih awal dari biasanya. Waktu itu saya belum terlalu memikirkan hubungan antara iman dan lingkungan. Tapi sekarang, setiap kali membaca berita soal krisis iklim, ingatan itu selalu muncul lagi.

Itulah kenapa ketika saya membaca kabar tentang Rakernas PTKIN yang berlangsung di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026, saya merasa ini bukan sekadar berita seremonial biasa. Dalam forum tersebut, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menyampaikan sesuatu yang menurut saya perlu direnungkan bersama oleh umat Kristen: krisis iklim bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan sudah menjelma menjadi krisis kemanusiaan.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar kalau kita mau berhenti sejenak dan memikirkannya baik-baik.

Apa Itu Rakernas PTKIN dan Kenapa PGI Hadir di Sana?

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Nasional IKA PTKIN adalah forum yang biasanya identik dengan dunia pendidikan tinggi keagamaan Islam. Jadi wajar kalau ada yang bertanya-tanya, kenapa Ketum PGI justru hadir dan bicara di forum semacam ini?

Bagi saya, justru di situlah letak maknanya. Isu ekologi tidak mengenal sekat agama. Gereja, pesantren, dan lembaga pendidikan lintas iman punya kepentingan yang sama: menjaga bumi tempat kita semua hidup bersama. Kehadiran Pdt. Jacklevyn di forum PTKIN menunjukkan bahwa persoalan lingkungan sudah menjadi bahasa bersama lintas agama, bukan monopoli satu kelompok saja.

Polikrisis: Ketika Segalanya Runtuh Bersamaan

Ilustrasi sawah kering dan sungai menyusut menggambarkan dampak krisis iklim terhadap masyarakat Indonesia, dengan judul overlay Krisis Iklim Krisis Kemanusiaan

Salah satu istilah yang cukup menohok dari pemaparan Pdt. Jacklevyn adalah "polikrisis". Istilah ini menggambarkan kondisi dunia saat ini, di mana perubahan iklim, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling terkait dan saling memperparah satu sama lain.

Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal. Banjir yang merendam sebuah desa bukan cuma soal air yang meluap, tapi juga soal hutan yang gundul, kebijakan tata ruang yang keliru, dan masyarakat kecil yang paling dulu kehilangan rumah serta mata pencaharian.

Beberapa data yang disampaikan dalam forum tersebut cukup membuat saya merenung cukup lama:

FaktaKeterangan
Proyeksi suhu globalPeriode 2026–2030 diperkirakan melampaui ambang batas 1,5°C menurut WMO
Kondisi IndonesiaBMKG mencatat 2023–2025 sebagai tahun-tahun terpanas dalam sejarah Indonesia
Kehilangan hutanLebih dari sepuluh juta hektare hutan primer hilang dalam dua dekade terakhir

Angka-angka itu memang terlihat kering di atas kertas, tapi coba bayangkan wajah nyata di baliknya: petani yang gagal panen, nelayan yang pulang dengan tangan kosong, anak-anak yang harus mengungsi karena banjir bandang. Data hanyalah pintu masuk. Yang sebenarnya kita hadapi adalah penderitaan manusia yang nyata.

Ekologi Bukan Sekadar Isu Lingkungan, Tapi Soal Keadilan

Ilustrasi masyarakat adat, petani, dan nelayan berdiri menghadapi lahan hutan yang gundul sebagai simbol ketidakadilan ekologi, dengan teks Ekologi Adalah Keadilan

Ini bagian yang menurut saya paling penting dari pernyataan Ketum PGI. Beliau menegaskan bahwa dampak paling berat dari kerusakan lingkungan justru dirasakan oleh mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan itu sendiri. Masyarakat adat kehilangan ruang hidup mereka. Nelayan menghadapi musim yang tidak lagi bisa diprediksi. Masyarakat miskin di perkotaan dan pedesaan menanggung beban paling berat dari bencana yang sesungguhnya bukan mereka yang menyebabkannya.

Di sinilah letak persoalan keadilannya. Bukan cuma soal pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar, tapi soal siapa yang untung dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Kalau umat Kristen serius memikirkan keadilan sosial, maka merawat ciptaan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan itu.

Saya pribadi jadi teringat kembali pada kondisi Papua yang beberapa kali disorot PGI. Kalau Anda ingin membaca lebih dalam soal itu, saya pernah membahasnya di artikel PGI ingatkan Papua bukan sekadar angka di atas kertas, yang menurut saya masih sangat relevan dengan isu keadilan ekologi ini.

Landasan Teologis: KPKC dan Semangat Keugaharian

Bagi umat Kristen yang mungkin baru mendengar istilah ini, PGI mendasarkan gerakan lingkungannya pada kerangka Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Kerangka ini sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari pemikiran ekumenis, tapi baru terasa sangat mendesak sekarang, di tengah krisis iklim yang semakin nyata.

Ilustrasi tangan-tangan menanam pohon bersama sebagai simbol metanoia ekologis dan keugaharian dalam iman Kristen, dengan teks Metanoia Ekologis Bertobat untuk Bumi

Gereja, menurut Pdt. Jacklevyn, dipanggil untuk melakukan metanoia ekologis. Kata "metanoia" ini familiar bagi kita yang sering mendengar khotbah tentang pertobatan, tapi biasanya dikaitkan dengan dosa pribadi. Kali ini konteksnya diperluas: pertobatan yang mengubah cara pandang dan cara hidup kita terhadap seluruh ciptaan Tuhan, bukan hanya terhadap sesama manusia.

Salah satu nilai yang juga ditekankan adalah keugaharian, sebuah spiritualitas untuk hidup secukupnya. Tidak berkekurangan, tapi juga tidak berlebihan. Saya suka sekali dengan konsep ini karena terasa sangat membumi dan tidak muluk-muluk. Menariknya, nilai ini juga punya kedekatan dengan prinsip wasatiyyat dalam Islam serta nilai keseimbangan dalam filsafat Tionghoa. Ini semacam titik temu yang jarang dibicarakan, padahal sangat potensial untuk merajut kerja sama lintas iman yang lebih erat.

Bukan Sekadar Wacana: Aksi Nyata PGI di Lapangan

Kalau cuma bicara di forum tanpa tindak lanjut, tentu semua ini akan terasa hambar. Untungnya, PGI sudah menunjukkan sejumlah langkah konkret yang patut diapresiasi.

Beberapa di antaranya:

  • Mengeluarkan pernyataan sikap "Jangan Merusak Alam Demi Investasi", sekaligus membela hak-hak masyarakat adat yang sering terpinggirkan oleh proyek-proyek besar.
  • Aktif dalam Interfaith Rainforest Initiative (IRI), berkolaborasi bersama MUI, NU, Muhammadiyah, dan KWI untuk bersama-sama melindungi hutan hujan tropis Indonesia.
  • Mengintegrasikan tema lingkungan ke dalam ibadah, misalnya lewat nyanyian Kidung Keesaan, serta menyusun panduan rumah ibadah yang ramah lingkungan.
  • Menyelenggarakan semiloka teologi khusus untuk merespons krisis ekologis di Papua, wilayah yang memang paling rentan terdampak eksploitasi sumber daya alam.

Yang menarik dari poin kolaborasi lintas agama ini, kita jadi diingatkan bahwa isu ekologi memang bisa menyatukan berbagai kelompok yang selama ini kadang terasa berjarak satu sama lain. Sama seperti semangat kebersamaan lintas iman yang pernah saya singgung dalam artikel PGI bongkar tiga krisis mematikan di Indonesia, semangat inilah yang tampaknya terus dijaga dan diperkuat oleh PGI dari waktu ke waktu.

Kenapa Ini Penting Bagi Umat Kristen Awam Seperti Kita?

Mungkin ada yang bertanya, "Ini kan urusan pemimpin gereja dan forum-forum besar, apa hubungannya dengan saya yang cuma jemaat biasa?"

Justru di sinilah letak tantangannya. Iman yang hanya berhenti di mimbar tanpa turun ke kehidupan sehari-hari akan kehilangan maknanya. Kita mungkin tidak bisa mengubah kebijakan negara dalam semalam, tapi kita bisa mulai dari hal-hal kecil: mengurangi sampah plastik, lebih bijak menggunakan air, atau sekadar tidak buang-buang makanan.

Saya sendiri masih terus belajar soal ini. Kadang saya merasa gagal, misalnya ketika masih sering lupa membawa tas belanja sendiri dan akhirnya menerima kantong plastik dari toko. Tapi setidaknya kesadaran itu sudah mulai tumbuh, dan saya percaya itu adalah langkah awal yang berarti.

Kepemimpinan PGI sendiri, seperti yang pernah saya tulis dalam artikel tongkat estafet di tangan Pdt. Jacky Manuputty, memang dikenal berani mengangkat isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil, termasuk soal keadilan sosial secara lebih luas seperti yang juga dibahas dalam seruan PGI tuntut kepemimpinan humanis. Sikap konsisten semacam ini yang menurut saya membuat suara PGI soal ekologi terasa bukan sekadar formalitas belaka.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Topik Ini

Apa itu Rakernas PTKIN dan kenapa isu ekologi dibahas di sana? Rakernas PTKIN adalah forum kerja nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Kehadiran Ketum PGI di forum ini menunjukkan bahwa isu keadilan ekologi kini menjadi perhatian bersama lintas agama, bukan hanya milik satu kelompok keagamaan saja.

Apa maksud dari istilah "metanoia ekologis"? Ini adalah ajakan pertobatan yang tidak hanya soal hubungan manusia dengan Tuhan atau sesama, tapi juga soal cara kita memandang dan memperlakukan alam ciptaan-Nya.

Kenapa PGI mengaitkan ekologi dengan keadilan sosial? Karena kelompok yang paling menderita akibat kerusakan lingkungan, seperti masyarakat adat dan nelayan, biasanya justru bukan pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan itu. Di situlah letak ketidakadilannya.

Apa yang bisa dilakukan jemaat biasa untuk mendukung gerakan ini? Mulai dari hal sederhana seperti mengurangi konsumsi berlebihan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, hingga mendukung kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam dan hak masyarakat adat.

Kesimpulan

Dari seluruh pemaparan dalam Rakernas PTKIN ini, saya melihat ada satu pesan besar yang ingin disampaikan Ketum PGI: krisis ekologi bukan sekadar persoalan alam, melainkan cerminan dari ketidakadilan yang kita ciptakan sendiri. Kerangka KPKC dan semangat keugaharian menjadi pengingat bahwa iman Kristen memanggil kita untuk hidup secukupnya, sekaligus berjuang bagi mereka yang paling rentan terdampak kerusakan lingkungan.

Kolaborasi lintas agama yang terus dibangun PGI, mulai dari IRI hingga forum-forum seperti Rakernas PTKIN ini, menunjukkan bahwa persoalan menjaga bumi memang membutuhkan tangan bersama, bukan usaha satu kelompok saja.

Pesan Pengutusan

Sebagai umat Kristen, kita dipanggil untuk tidak berdiam diri melihat ciptaan Tuhan yang terus rusak di sekitar kita. Firman Tuhan dalam Kejadian 2:15 mengingatkan kita: 

"Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." 

Tugas mengusahakan dan memelihara ini bukan tugas sesaat, melainkan panggilan seumur hidup yang harus terus kita hidupi, di tengah rumah, gereja, maupun masyarakat luas.

Kelak ketika bumi ini kembali menghijau oleh tangan-tangan yang mau bertobat, di situlah kita akan melihat wajah Kerajaan Allah yang nyata di antara kita.

Bagaimana menurut Anda, apakah gereja selama ini sudah cukup vokal menyuarakan isu lingkungan, atau justru masih terlalu sibuk dengan urusan internal saja? Saya pribadi masih terus bergumul dengan pertanyaan ini setiap kali melihat berita bencana alam di tanah air. Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar!


Tentang Penulis

Akang Loger: Penulis dan blogger Kristen sejak 2021. Menulis dari keresahan sehari-hari seputar iman, sosial, dan lingkungan hidup. Profil selengkapnya: yakangbioprofil

0Comments