Kalau Anda mengikuti berita gerejawi internasional, mungkin dua nama ini sudah lewat di linimasa Anda: Pendeta Adel Idris Jongool dan Pendeta Bernard Mulongo. Kalau belum, izinkan saya menceritakannya pelan-pelan, karena keduanya layak diketahui bukan sekadar sebagai statistik, tapi sebagai manusia yang punya keluarga, jemaat, dan mimpi yang terputus.
Sudan: Pegunungan Nuba yang Kembali Berdarah
Jumat, 24 Juli 2026. Di wilayah Dabbi, Kabupaten Hiban (juga disebut Distrik Heiban), Negara Bagian Kordofan Selatan, Pendeta Adel Idris Jongool dari Gereja Episkopal Sudan diculik dan dibunuh oleh sekelompok milisi. Menurut sumber-sumber yang dikutip Morning Star News dan Christian Daily International, kelompok ini merupakan faksi pecahan dari Sudan People's Liberation Army-North (SPLA-N), dan mereka disebut menyasar para pemimpin gereja serta warga sipil karena kebencian suku sekaligus agama.
Serangan ini bukan kejadian tunggal. Sehari sebelumnya, Kamis 23 Juli, ada serangan di kota Heiban yang menewaskan sejumlah warga Kristen dan menculik beberapa pemimpin gereja lainnya. Keuskupan Heiban dari Gereja Episkopal Sudan mengonfirmasi kejadian ini lewat pernyataan resmi. Uskup Al-Sir Hassan Kuku, dengan nada yang bisa saya bayangkan penuh kelelahan sekaligus duka, mendesak semua pihak yang berkonflik untuk menghormati para pemimpin agama dan institusi keagamaan.
Yang membuat saya makin terdiam: ini bukan yang pertama di wilayah itu. Enam minggu sebelumnya, pada 18-19 Juni 2026, seorang pastor Katolik di Kauda Pastor Youhana Al-Amin juga tewas ditembak bersama salah satu penjaganya, setelah sekelompok bersenjata menyerbu gerejanya untuk merampas persediaan medis. Pegunungan Nuba, yang sudah lama jadi kantong konflik, seperti tidak pernah benar-benar reda.
Satu hal yang perlu saya tegaskan di sini: berdasarkan laporan yang saya telusuri, motif serangan di Sudan ini dijelaskan sebagai kombinasi kebencian suku dan agama di tengah konflik internal antara SPLA-N dan faksi pecahannya bukan klaim keterlibatan kelompok ekstremis tertentu. Penting bagi saya untuk tidak melebih-lebihkan sesuatu yang belum terverifikasi, sekalipun beritanya sudah cukup menyayat tanpa perlu ditambah-tambah.
Mengapa Sudan Selalu Muncul di Daftar Ini
Kalau Anda pernah membaca World Watch List dari Open Doors, Anda tahu Sudan bukan nama baru. Tahun 2026 ini, Sudan menempati peringkat keempat sebagai negara paling sulit bagi umat Kristen di dunia. Angka itu abstrak sampai Anda membacanya berdampingan dengan nama seorang pendeta yang benar-benar hilang dari keluarganya minggu ini.
Uganda: Perdebatan yang Berujung Maut
Sekitar seminggu sebelum kabar dari Sudan, tepatnya Sabtu malam, 18 Juli 2026, terjadi peristiwa lain yang tidak kalah menyayat di Uganda. Bernard Mulongo, pendeta muda berusia 25 tahun dari New Restoration Church of Christ di Distrik Butebo, tewas dibunuh di desa Jami, sekitar 14 kilometer dari kota Mbale.
Kronologinya begini. Mulongo datang ke Mbale untuk mengikuti dialog lintas agama terbuka bersama seorang imam bernama Hassan Musa. Dalam debat itu, menurut kesaksian Pendeta David Omala yang hadir di lokasi, argumen-argumen biblika Mulongo dianggap cukup meyakinkan hingga dua perempuan Muslim yang dikenal luas di komunitas setempat memutuskan berpindah keyakinan menjadi Kristen.
Setelah acara itu, Omala bersaksi bahwa Musa mendekati Mulongo dan berkata, kurang lebih, bahwa Mulongo "pantas mati" karena dianggap menyesatkan umat dan memakai Al-Qur'an untuk menarik pengikut. Malam harinya, sehabis tampil di siaran radio lokal, Mulongo pulang membonceng motor bersama temannya, Robert Mukisa. Sekitar sembilan mil dari Mbale, di desa Jami, sekelompok pria bermotor mencegat mereka. Mukisa berhasil melarikan diri dan berlari sekitar dua kilometer sebelum menghubungi polisi. Mulongo ditemukan tewas dengan luka di kepala, dada, punggung, dan tangan.
Saya perlu jujur di sini: sampai artikel ini ditulis, Imam Hassan Musa baru berstatus tersangka dalam penyelidikan dan dilaporkan menghilang, belum ada proses hukum yang membuktikan keterlibatannya secara pasti. Kesaksian tentang ancamannya datang dari Pendeta Omala dan rekan seperjalanan Mulongo, dan itu penting untuk disampaikan apa adanya sebagai kesaksian saksi, bukan vonis. Mulongo meninggalkan seorang istri dan dua anak kecil, berusia 4 dan 7 tahun. Saya membayangkan anak-anak itu, dan rasanya sulit melanjutkan menulis dengan nada datar.
Uganda di Atas Kertas vs Uganda di Lapangan
Konstitusi Uganda sebenarnya menjamin kebebasan beragama dan hak menyebarkan keyakinan. Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup, jaminan di atas kertas dan kenyataan di lapangan sering berjarak jauh. Penganiayaan terhadap umat Kristen terutama yang berlatar belakang mualaf atau terlibat penginjilan lintas agama tetap kerap terdokumentasi, khususnya di wilayah timur negara itu tempat kejadian ini berlangsung.
Kalau Dua Kejadian Ini Ditaruh Berdampingan
Saya sengaja membuat tabel kecil ini bukan supaya artikel terlihat rapi, tapi karena kadang membandingkan dua kejadian membantu kita melihat pola yang tidak selalu terlihat kalau dibaca terpisah.
| Kategori | Sudan | Uganda |
| Nama Korban | Pdt. Adel Idris Jongool | Pdt. Bernard Mulongo (25 tahun) |
| Tanggal Kejadian | 24 Juli 2026 | 18 Juli 2026 |
| Lokasi Kejadian | Dabbi, Hiban, Kordofan Selatan | Jami, dekat Mbale |
| Latar Belakang | Konflik bersenjata internal & kebencian suku-agama | Ketegangan pasca-debat lintas agama |
| Status Pelaku | Milisi faksi pecahan SPLA-N | Imam berstatus tersangka (masih diselidiki) |
Ini Bukan Cerita Baru, dan Itu yang Menyakitkan
Saya sudah menulis tentang isu penganiayaan gereja global sejak beberapa tahun lalu, dan jujur saja, ada rasa lelah tersendiri setiap kali harus menulis ulang jenis berita ini. Bukan lelah menulisnya tapi lelah karena polanya berulang. Kita pernah membahas krisis serupa saat Sidang Raya Ekumindo di Belanda mengungkap tiga krisis mematikan yang dihadapi gereja di Indonesia, dan juga ketika PGI meminta WCC turun tangan untuk gerakan darurat anti-kekerasan terhadap umat Kristen. Isu ini bukan kejadian lokal yang berdiri sendiri ini bagian dari gambaran besar yang terus diangkat komunitas ekumenis dunia.
Yang menarik, respons gereja terhadap kekerasan semacam ini juga bergeser. Dulu mungkin cukup dengan doa dan pernyataan simpati. Sekarang, semakin banyak gerakan gereja yang mendorong keadilan struktural bukan cuma doa, tapi juga tekanan diplomatik dan advokasi kebijakan untuk keadilan global. Saya pribadi melihat ini sebagai tanda kedewasaan gereja global bahwa cinta kasih tidak menghalangi kita untuk juga menuntut keadilan lewat jalur yang benar.
Ada juga pertanyaan besar yang terus menggantung setiap kali kejadian seperti ini muncul: apakah lembaga-lembaga dunia, termasuk PBB, benar-benar bisa jadi tempat berlindung bagi kelompok minoritas agama yang tertindas? Saya sempat menulis refleksi soal ini di artikel Kristen di Ambang 80 Tahun PBB Ada Persatuan atau Sekadar Jadi Sejarah? dan sejujurnya, saya belum menemukan jawaban yang benar-benar melegakan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Pembaca yang Jauh dari Sana?
Saya tahu, dari kursi kita di depan layar, rasanya jarak dengan Kordofan Selatan atau Butebo begitu jauh. Tapi ada beberapa hal kecil yang sebenarnya bukan basa-basi:
- Doakan keluarga yang ditinggalkan bukan sekadar formalitas rohani, tapi karena anak-anak Mulongo yang berusia 4 dan 7 tahun itu nyata, dan mereka akan tumbuh tanpa ayahnya.
- Ikuti perkembangan kasusnya, terutama proses hukum di Uganda, supaya kita tidak buru-buru menyimpulkan sebelum ada kejelasan resmi.
- Dukung lembaga kemanusiaan gereja yang bekerja langsung di wilayah konflik seperti Nuba Mountains, karena bantuan medis dan logistik di sana sering jadi target justru karena dianggap berharga.
Pertanyaan yang Sering Muncul di Kepala Saya (dan Mungkin Juga Anda)
Apakah ini berarti situasi umat Kristen di Afrika makin memburuk? Sejujurnya, saya tidak berani menggeneralisasi seluruh benua Afrika dari dua kejadian ini saja. Yang bisa saya katakan: di wilayah-wilayah konflik spesifik seperti Kordofan Selatan dan sebagian Uganda timur, risikonya memang nyata dan terus terdokumentasi tahun ke tahun.
Kenapa pelaku di Uganda belum ditangkap kalau sudah ada saksi? Karena proses hukum butuh bukti yang kuat, bukan cuma kesaksian lisan. Sampai tulisan ini dibuat, sang imam masih berstatus tersangka yang diselidiki dan dilaporkan menghilang bukan orang yang sudah divonis bersalah.
Apa hubungan kejadian ini dengan konflik yang lebih besar di Sudan? Serangan di Kordofan Selatan terjadi di tengah konflik bersenjata yang lebih luas antara SPLA-N dan faksi pecahannya. Jadi pemimpin gereja sering menjadi korban bukan karena ditarget secara eksklusif oleh satu kelompok agama tertentu, tapi karena berada di garis depan wilayah yang sedang berkonflik, dengan kebencian suku dan agama yang saling bertautan.
Kesimpulan
Minggu ini benua Afrika kembali berduka atas dua nyawa pelayan Tuhan: Pendeta Adel Idris Jongool di Sudan dan Pendeta Bernard Mulongo di Uganda. Keduanya jatuh dalam konteks berbeda satu di tengah konflik bersenjata yang sudah lama membara, satu lagi menyusul ketegangan pasca-dialog lintas agama yang berujung ancaman nyata. Yang menyatukan keduanya adalah kenyataan pahit bahwa melayani di garis depan iman, di sejumlah wilayah dunia, masih berarti mempertaruhkan nyawa.
Pesan Gembala
Bagi saya, kabar duka seperti ini selalu kembali mengarah pada satu ayat yang terasa sangat relevan malam ini:
"Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." - Matius 5:10
Ayat ini bukan penghiburan murahan yang menutup luka begitu saja. Ini pengingat bahwa penderitaan karena iman, sesulit apapun dipahami akal manusia, tidak pernah luput dari pandangan Tuhan. Mari kita jadi gereja yang tidak hanya berduka, tapi juga terus berdoa dan bertindak nyata bagi saudara-saudari kita yang masih hidup di tengah bayang-bayang ancaman itu.
Darah para saksi iman bukanlah akhir cerita ia adalah benih yang akan tumbuh menjadi tuaian jiwa-jiwa yang jauh lebih besar dari yang bisa dibungkam oleh kekerasan mana pun.
Saya sendiri sempat menutup laptop sejenak setelah menulis bagian tentang dua anak Pendeta Mulongo. Ada bagian dari saya yang bertanya, kalau itu keluarga saya, apa yang paling saya butuhkan dari orang-orang yang jauh? Menurut Anda, selain doa, apa hal paling nyata yang bisa dilakukan gereja lokal kita untuk saudara-saudari yang hidup di wilayah konflik seperti ini? Yuk diskusi di kolom komentar saya benar-benar ingin dengar perspektif Anda.
✍️ Tentang Penulis
Akang Loger: Penulis & blogger Kristen sejak 2021, dengan minat khusus pada isu gerejawi global, refleksi iman, dan keadilan sosial dari sudut pandang Kristiani. Kenalan lebih jauh lewat profil Akang Loger di sini.



0Comments