Jawabannya, ternyata, ya. Dan buktinya baru saja terjadi, hampir bersamaan, di dua benua yang berbeda.
Saya menyebutnya "Gereja Satu Hati" bukan istilah resmi dari lembaga manapun, tapi cara saya merangkum apa yang sedang terjadi di dalam gerakan oikoumene global saat ini. Solidaritas global bagi hak asasi manusia bukan lagi sekadar tema seminar atau jargon di dokumen sinode. Ia sedang dihidupi, dari Jakarta sampai Harare.
Ketika Asia dan Afrika Bicara Hal yang Sama
Coba bayangkan begini: di satu sisi dunia, seorang pemimpin gereja dari Korea duduk berdialog dengan pimpinan sinode-sinode di Indonesia. Di sisi lain dunia, hampir di waktu yang berdekatan, delegasi dari Jenewa bertemu pemerintah di Afrika bagian selatan untuk bicara soal kebebasan beragama dan kekerasan berbasis gender.
Dua peristiwa ini tidak direncanakan sebagai satu paket kampanye. Tapi justru karena tidak direncanakan bersama, kemiripannya jadi lebih berarti. Ini bukan koordinasi humas. Ini gejala tanda bahwa gereja-gereja di seluruh dunia sedang menuju arah yang sama tanpa perlu saling menyuruh.
Kolaborasi di Asia: Belajar dari Jakarta
Ini bukan basa-basi diplomatis semata. Kalau kita mau jujur, Indonesia memang punya posisi unik negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, tapi punya tradisi panjang gereja yang aktif dalam isu-isu sosial. Keterlibatan gereja-gereja di Indonesia dalam berbagai persoalan keadilan sosial rupanya jadi rujukan bagi anggota CCA lain di kawasan.
Yang membuat saya berhenti sejenak dan merenung adalah penekanan pada penguatan kepemimpinan generasi muda. Ini poin yang sering terlewat dalam pemberitaan seputar pertemuan-pertemuan gerejawi tingkat tinggi padahal, kalau gereja mau relevan 20-30 tahun ke depan, di situlah investasinya harus ditanam sekarang. Visi besarnya sederhana tapi berat untuk dijalankan: hidup bersama dalam ketaatan pada misi Allah, lintas negara, lintas budaya, tanpa terjebak sikap eksklusif.
Suara dari Zimbabwe: Ketika Gereja Bicara Soal Kekuasaan
Beralih ke Afrika. Delegasi World Council of Churches (WCC) berkunjung ke Zimbabwe, dan yang disampaikan di sana jauh lebih tajam dan langsung menyentuh kekuasaan negara. Sekretaris Jenderal WCC, Pdt. Prof. Dr. Jerry Pillay, menegaskan bahwa persatuan Kristen sangat krusial untuk menyuarakan hak asasi manusia dan keadilan bagi mereka yang tertindas.
Dalam pertemuan dengan pemerintah Zimbabwe, WCC menyoroti perlindungan atas kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan hak untuk berkumpul secara damai. Isu kekerasan berbasis gender dan independensi yudisial juga secara tegas disuarakan.
Tema pertemuan itu sendiri terasa seperti tamparan lembut buat kita semua yang kadang nyaman dengan spiritualitas yang "aman": Breaking Walls: Discerning the Signs of the Times. Menurut saya, tema ini punya pesan yang jelas gereja tidak dipanggil untuk sekadar mengurus kerohanian personal jemaatnya, tapi juga jadi teladan hidup dari keadilan yang mereka khotbahkan di mimbar setiap minggu.
Ini bagian yang menurut saya paling menantang untuk direnungkan. Gampang bagi gereja mana pun termasuk gereja tempat saya sendiri beribadah untuk berkhotbah tentang keadilan, tapi jauh lebih berat untuk benar-benar berdiri di depan kekuasaan dan mengatakan hal yang sama.
Dua Benua, Satu Tarikan Napas
Kalau ditelaah bersamaan, kesinambungan misi antara CCA di Asia dan WCC di Afrika ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar dua agenda kunjungan yang kebetulan berdekatan waktunya: gereja global sedang bergerak dalam satu tarikan napas solidaritas.
Saya melihat ini bukan sebagai pertemuan formal semata, tapi sebagai komitmen untuk saling menopang menghadapi tantangan yang berat entah itu berupa tekanan politik, ketimpangan sosial, atau ancaman terhadap kebebasan beragama.
Menariknya, pola ini bukan barang baru. Kalau kita menengok ke belakang, misalnya diskusi soal posisi Kristen menjelang 80 tahun PBB, pertanyaan yang sama selalu muncul: apakah persatuan ini nyata atau sekadar catatan sejarah yang dikenang tanpa aksi? Jawaban dari peristiwa di Jakarta dan Zimbabwe ini, setidaknya untuk saat ini, cukup meyakinkan bahwa arahnya nyata.
Ringkasan Perbandingan Dua Momentum
| Aspek | Asia (CCA – Indonesia) | Afrika (WCC – Zimbabwe) |
| Fokus Utama | Keadilan sosial & kepemimpinan generasi muda | Hak kebebasan beragama & berekspresi, kekerasan berbasis gender |
| Tokoh Kunci | Pdt. Jung Eun Grace Moon | Pdt. Prof. Dr. Jerry Pillay |
| Sifat Pertemuan | Dialog internal lintas sinode | Pertemuan langsung dengan pemerintah |
| Pesan Inti | PGI sebagai inspirasi gerakan oikoumene Asia | Persatuan Kristen krusial bagi HAM |
Kenapa Ini Penting Buat Kita, Bukan Cuma Buat Pejabat Gereja
Ini bagian yang sering saya rasa hilang ketika berita semacam ini dibagikan ulang di media sosial: seolah ini cuma urusan pejabat gereja tingkat dunia, jauh dari kehidupan jemaat biasa.
Padahal tidak. Kalau PGI dan WCC bisa turun tangan soal darurat anti-kekerasan, itu artinya ada kesadaran bahwa gereja lokal gereja tempat kita duduk setiap minggu sebenarnya bagian dari jaringan yang jauh lebih besar. Apa yang diperjuangkan di Zimbabwe, dengan caranya sendiri, terhubung dengan apa yang mestinya diperjuangkan gereja di lingkungan kita.
Saya pribadi jadi teringat betapa mudahnya kita sebagai jemaat merasa "aman" di dalam gedung gereja, sementara isu-isu seperti ini terasa jauh dan abstrak. Padahal solidaritas global justru dimulai dari kesadaran lokal dari keberanian jemaat kecil untuk peduli pada isu yang lebih besar dari sekadar programnya sendiri.
Ada juga sisi geopolitik yang tak kalah menarik untuk direnungkan, misalnya soal ke mana arah pergeseran blok gereja dunia saat ini, atau isu tanah dan hak rakyat yang dibahas dalam perjalanan dari Greenland hingga Merauke. Semua ini, kalau dirangkai, menunjukkan pola yang sama: gereja global tidak lagi bisa dan tidak lagi mau berdiam diri di menara gading spiritualitasnya sendiri.
Bukan Sekadar Doa, Tapi Langkah Nyata
Saya suka menyebutnya seperti dua sisi mata uang yang sama. Kalau dulu ada pembahasan menarik soal gerakan gereja untuk keadilan global yang bukan cuma doa, momen di Jakarta dan Zimbabwe ini jadi bukti konkret dari gagasan itu. Doa yang tidak berujung pada tindakan gampang jadi kosong. Tapi tindakan tanpa doa juga gampang kehilangan arah dan jadi sekadar aktivisme sekuler berbaju rohani.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa sebenarnya arti "Gereja Satu Hati" dalam konteks ini? Ini bukan nama organisasi resmi, melainkan gambaran tentang semangat oikoumene kesatuan gereja lintas negara dan benua yang terlihat dari langkah-langkah CCA di Asia dan WCC di Afrika belakangan ini.
Apakah gerakan ini hanya untuk gereja-gereja besar atau lembaga oikoumene resmi? Tidak. Semangatnya bisa dan seharusnya diteruskan sampai ke tingkat jemaat lokal melalui kepedulian, doa, dan keterlibatan nyata pada isu-isu keadilan di sekitar kita.
Kenapa isu hak asasi manusia jadi perhatian gereja, bukan hanya urusan politik atau hukum? Karena bagi iman Kristen, martabat manusia adalah bagian dari penghormatan terhadap gambar Allah dalam diri setiap orang sehingga membela HAM sebenarnya bagian dari kesaksian iman itu sendiri, bukan sekadar isu sekuler yang dipinjam gereja.
Kesimpulan
Dari Jakarta hingga Harare, kita melihat gambaran yang sama: gereja-gereja di berbagai benua sedang menegaskan kembali panggilan profetiknya. PGI diakui sebagai inspirasi gerakan oikoumene di Asia, sementara WCC menyuarakan HAM secara langsung ke pemerintah Zimbabwe. Dua peristiwa berbeda, satu semangat solidaritas Kristen global yang tidak berhenti pada kata-kata.
Pesan Pengutusan
Sahabat, di tengah dunia yang sering membuat kita merasa kecil dan tak berdaya menghadapi ketidakadilan, ingatlah bahwa kita bagian dari tubuh Kristus yang jauh lebih besar dari sekadar gereja lokal kita. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Mikha 6:8 "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu." Solidaritas global bukan panggilan segelintir orang, tapi panggilan setiap kita yang mengaku percaya.
Dari Jakarta hingga Harare, dari mimbar hingga meja perundingan, Tuhan sedang merajut satu hati di tengah umat-Nya yang tersebar dan tak ada tembok pemisah yang sanggup menahan panggilan-Nya untuk keadilan dan damai sejahtera bagi segala bangsa.
Saya sendiri masih belajar untuk tidak sekadar jadi penonton dari berita-berita seperti ini. Bagaimana dengan Anda apakah topik solidaritas gereja global ini terasa jauh, atau justru menyentuh sesuatu yang dekat dengan pengalaman iman Anda sendiri? Yuk, bagikan pandangan Anda di kolom komentar atau share artikel ini dan ceritakan untuk teman-teman anda dan saudara Anda.
Dan kalau ada satu isu keadilan yang menurut Anda seharusnya lebih disuarakan gereja di Indonesia saat ini, apa itu?
Tentang Penulis
Akang Loger Penulis & blogger Kristen sejak 2021. Profil selengkapnya: yakangbioprofil



0Comments